Hasrul Hasan

Reka Cipta Dalam Perspektif Kreativiti

728x90

Menumbuhkan Sikap Kritis Pemirsa Televisi

Istilah Media Literacy mungkin belum begitu akrab di telinga kita. Masyarakat mungkin masih terheran dan kurang paham jika ditanya apa sebenarnya Media Literacy tersebut. Para ahli pun memiliki konsep yang beragam tentang pengertian Media Literacy , Mc Cannon mengartikan Media Literacy sebagai kemampuan secara efektif dan secara efesien memahami dan menggunakan komunikasi massa (Strasburger & Wilson, 2002).

Istilah literasi media juga dapat disamakan dengan  istilah ’melek media’. Sebagai indikator bahwa secara individu seseorang atau suatu  masyarakat sudah memahami literasi, yakni mampu memilih (selektif) dan memilah (mengkategori/mengklasifikasi) media, mana yang manfaat mana yang mudarat.

Perlu disadari ketika individu tidak memiliki informasi tentang suatu peristiwa dari sumber atau referensi lain selain media, besar kemungkinan individu tersebut beranggapan peristiwa tersebut sama dengan realitasnya.

Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Dalam hal ini penting artinya mengajak individu bersikap “terbuka” untuk memperluas pengetahuannya agar individu memiliki alternatif pilihan bagaimana memahami peristiwa yang ditampilkan di media.

Dampak dari pemberitaan atau pun sebuah program acara yang disiarkan oleh media penyiaran kepada publik pada dasarnya akan menjadi negatif atau positif tergantung dari bagaimana publik ataupun pemirsa menerima pesan tersebut dan memaknainya.

Setiap media massa memiliki mekanismenya sendiri untuk menentukan apa yang akan disampaikan kepada publik.

Oleh sebab itu Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Sulawesi Selatan, periode 2017-2020 selain fokus melakukan pelayanan perizinan dan pengawasan isi siaran, juga akan memusatkan perhatiannya untuk melakukan pendidikan literasi media yang dinilai merupakan pilihan yang tepat untuk kondisi lembaga penyiaran sekarang ini dan perkembangan masyarakat saat ini.

Tak terkecuali dijalankan regulator penyiaran, seperti KPI/D. Sesuai amanat Undang-Undang Penyiaran No. 32/2002, peran KPI/D tidaklah ringan.

Pada Pasal 7 UU Penyiaran KPI sebagai lembaga negara yang bersifat independen mengatur hal-hal mengenai penyiaran.

Perbaikan terhadap konten siaran dilakukan KPI/D dengan berbagai pendekatan. Melakukan fungsi pengawasan secara optimal, memberi sanksi pada lembaga penyiaran yang melanggar peraturan, dalam konteks pengukuran kualitas siaran KPI pusat bahkan melakukan kebijakan survei.

Hasil survei KPI tahun 2016 yang direlease menunjukan sinetron, dan infotainment masih jauh dari kualitas yakni di bawah angka 4 standar kualitas siaran.

Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya kita menyadari mengapa regulasi isi di sistem penyiaran Indonesia tetap penting dan akan terus diperlukan. Pada awal April 2012 lalu, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sudah meluncurkan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran yang baru (P3SPS 2012).

Media khususnya penyiaran saat ini menjadi salah satu wadah yang berperan aktif dalam penyebaran dan mencegah radikalisme. Untuk itu, sebagai langkah awal KPID Sulsel periode 2017-2020, Kamis (13/4/2017) lalu melakukan penanda tanganan MOU dengan  Forum Kordinasi Penanggulan Teroris (FKPT) Sulawesi Selatan. Dengan harapan KPID sebagai regulator penyiaran  dapat mendorong media penyiaran radio maupun televisi untuk memaksimalkan peran sertanya dalam membuat berita propaganda terorisme dan berita Hoax.

Melalui literasi media ini, FKPT dan KPID Sulawesi Selatan berharap masyarakat bisa semakin waspada dalam membedakan berita dan informasi mana yang layak dikonsumsi dan ditolak, sehingga bisa mencegah dari kemungkinan terpapar paham radikal terorisme.

Sejak  dekade 80-an, para pemilik atau pengelola stasiun televisi
memang membutuhkan jumlah penonton sebanyak-banyaknya untuk meningkatkan rating mereka.

Rating tinggi pada sebuah program atau secara keseluruhan di sebuah stasiun televisi, akanmemudahkan mereka untuk mendapatkan iklan sebanyak-banyaknya atau iklan yang dijual dengan harga yang tinggi.

Dengan banyaknya pemasukan dari iklan tersebut, maka biaya produksi dan
biaya operasional stasiun televisi tersebut dapat tertutupi. Bahkan, mereka bisa mendulang keuntungan yang berlipat.

Hanya saja target untuk mendapatkan penonton sebanyak-banyaknya itu tidak selalu diikutidengan jalan memberikan tayangan yang terbaik bagi penontonnya. Tidak jarang, stasiun Televisi mengindahkan atau melanggar norma agama, budaya, adat istiadat atau norma kehidupan lainnya,hanya demi mengejar rating tinggi.

Terhadap dampak negatif media tersebut, tidak cukup hanya dengan menyalahkan dan mengutuk media melainkan diperlukan langkah-langkah pendidikan literasi media, sehingga masyarakat bisa mengambil manfaaat sebesar-besarnya dari kehadiran media itu sendiri.

Sikap kritis pemirsa terus tumbuh dan berkembang, maka KPI/D maupun lembaga penyiaran  akan mendapatkan banyak saran, usulan atau masukanbermutu yang baik untuk membenahi kualitas program atau tayangan Televisi.

Jika hal tersebut terwujud maka pemirsa bukan lagi menjadi objek dari perkembangan industri Televisi. Mereka justru menjadi faktor penentu keberhasilan sebuah program atau tayangan Televisi.
Label:
Reaksi:

Posting Komentar

[blogger]

Hasrul

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget