Hasrul Hasan

Reka Cipta Dalam Perspektif Kreativiti

728x90

Fenomena "Despacito" dan Kewenangan Komisi Penyiaran

BELAKANGAN ini, lagu "Despacito" menjadi buah bibir dan sering kita dengar melalui Youtube bahkan dari Lembaga Penyiaran seperti radio dan televisi di Tanah Air. Padahal, banyak belum paham arti dari lirik lagu tersebut.

Judul lagu berbahasa Spanyol yang dirilis Januari 2017 lalu tersebut bergenre Reggae-Pop ciptaan Erika Ender asal Panama.

Lagu latin yang hits tersebut dinyanyikan artis papan atas Puerto Rico Luis Fonsi dan Daddy Yankee. Karena lagu menjadi fenomenal, artis muda papan atas dunia, Justin Bieber, pun ikut membawakan lagu tersebut dalam versi remix.

Lagu ini seakan menjadi virus di seluruh dunia. Di Youtube, hingga akhir Juli 2017, lagu ini telah diputar sebanyak 2.871.337.451 kali. Sedangkan lagi versi Justin Bieber yang baru hadir dua bulan terakhir, sudah diputar sebanyak 400 juta kali.

Tak hanya lagu yang "menghipnotis" penduduk dunia, khususnya kalangan anak muda, sosok Miss Universe 2006 asal Puerto Rico, Zuleyka Rivera, yang menjadi model video klip, juga menjadi magnet tersendiri para pecinta musik.

Tak hanya remaja, lagu ini bahkan disukai para anak-anak, termasuk di Indonesia

Namun, tahukah Anda jika lirik-lirik lagu "Despacito" mempunyai arti sensual, yang khusus untuk orang dewasa? Jika diterjemahkan, artinya "pelan-pelan" yang mengacu pada teknik rayuan.

Tanpa kita sadari, arti lirik setelah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, ternyata sangat vulgar dan tidak cocok untuk anak-anak. Bahkan Malaysia telah melarang lembaga penyiaran radio dan televisi memutar lagu "Despacito". Bagaimana dengan Indonesia?

Peran Komisi Penyiaran

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai sebuah lembaga independen yang pembentukannya merupakan amanah undang undang Nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran berkewajiban untuk mengawal dan menjaga tujuan dari dibentuknya Undang- undang tersebut.

Sebagaimana disebut dalam pasal 3 yang menyebutkan bahwa Penyiaran diselenggarakan dengan tujuan untuk memperkukuh integratis nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan, memajukan kesejateraan umum dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil dan mandiri, serta menumbuhkan industri penyiaran di Indonesia.

Keberadaan KPI adalah wujud peran serta masyarakat dalam hal penyiaran, baik sebagai wadah aspirasi maupun mewakili kepentingan masyarakat.
Dalam rangka menjalankan fungsinya, KPI memiliki kewenangan menyusun dan mengawasi peraturan penyiaran yang menghubungkan antar lembaga penyiaran, pemerintah dan masyarakat.

Oleh sebab itu, KPI berhak mengeluarkan sebuah pengaturan yang berkaitan dengan penyiaran sebagaiman ditegaskan dalam Undang-undang Penyiaran bahwa KPI membuat Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS).

Pedoman Perilaku Penyiaran merupakan ketentuan bagi lembaga penyiaran yang ditetapkan KPI untuk menyelenggarakan dan mengawasi sistem penyiaran nasional Indonesia. Sementara SPS merupakan panduan tentang batasan-batasan apa yang boleh dan tidak boleh dalam penayanganprogram penyiaran.

Di dalam kedua pengaturan KPI itu terdapat ketentuan yang sama, yaitu penghormatan terhadap nilai-nilai sosial, norma yang hidup, dan norma agama yang ada di Indonesia.

Lagu "Despacito" yang memiliki konten sensual, termasuk pada video klipnya, tidak boleh ditayangkan di Indonesia. Selain melanggar norma-norma, juga melanggar pasal 20 ayat 1 SPS.

Program siaran dilarang berisi lagu dan/atau video klip yang menampilkan judul dan/atau lirik bermuatan seks, cabul, dan/atau mengesankan.(*)
Label:
Reaksi:

Posting Komentar

[blogger]

Hasrul

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget