Hasrul Hasan

Reka Cipta Dalam Perspektif Kreativiti

728x90
11/08









Foto Antara Yusran Uccang.


Mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Makassar bentrok dengan aparat kepolisian di depan kampus mereka di Jalan Sultan Alauddin, Senin (17/11). Bentrokan berawal saat mahasiswa melakukan aksi pelemparan batu ke arah aparat. Polisi pun menghalau dengan merangsek ke arah mahasiswa yang berunjuk rasa.
Perang batu terjadi hingga 3 kali. Pertama kali terjadi sekitar pukul 10.00 Wita. Terulang lagi pukul 10 45 Wita. Polisi, baik yang berpakaian lengkap dengan tameng maupun tanpa perlengkapan mencoba merangsek masuk kampus, namun dihadang oleh mahasiswa dengan lemparan batu. Tak mau kalah, membalas lemparan batu tersebut yang disaksikan langsung Kapolres Makassar Timur AKBP Kamaruddin.
Aksi ini dipicu adanya kabar seorang mahasiswa bernama Basir, tertembak aparat. Mahasiswa jurusan Fakultas Ilmu Sosial Polirik itu dikabarkan mengalami luka tembak di pelipis kanan, saat polisi melakukan razia balapan liar di jalan veteran, Makassar minggu dini hari lalu.
Kepada rekan saya yang juga kontributor Sun tv Basir, mengaku tertembak saat berboncengan dengan seorang perempuan, Martha. Ia sempat dibawa ke Rumah Sakit Umum Faisal, tapi kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Bayangkara.
Sementara Dokter forensik di RS Bhayangkara dr Mauluddin M, mengatakan luka dipelipis Basir bukan akibat peluru, tetapi benda tumpul bertepi. Dugaan ini didasarkan luka robek dan memar tidak maksimal akibat luka lecet geser.
Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Makassar, Komisaris Besar Burhanuddin Andi juga membatah Basir ditembak. "Sama sekali tidak ada tembakan dari petugas saat itu, lagian tidak ada yang mendengar suara tembakan," kata dia. Tapi, kata dia, polisi belum memeriksa saksi atau meminta keterangan karena belum ada laporan.
Akibat kejadian ini, puluhan mahasiswa berunjuk rasa. Mereka menganggap luka didahi Basir akibat tembakan polisi. Pendemo berorasi dan membakar ban bekas di tengah Jalan Sultan Alauddin hingga sempat memacetkan arus lalu lintas. Hari ini aksi mahasiswa berlanjut.
Sementara itu Warga Makassar, Sulawesi Selatan, mengecam unjuk rasa mahasiswa yang diwarnai aksi kekerasan dan anarkisme. Selain merugikan masyarakat, unjuk rasa seperti itu bukan cerminan sikap mahasiswa yang seharusnya mengandalkan otak bukan otot.
Atas nama solidaristas, mahasiswa Universitas Muhammadiyah serta Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar beraksi dengan memblokade jalan, melawan aparat, dan mengganggu keteriban umum.
Bahkan bak jawara, para mahasiswa mencari polisi untuk digebuki. Satu rombongan pengantar jenazah yang merasa dihalangi pun marah dan balik menyerang mahasiswa Universitas Islam Negeri Aulaudin yang juga melakukan aksi serupa dengan mahasiswa Unismuh Makassar yang jarak kedua kampus hanya sekitar 500 meter.
Sudah seharusnya Polisi dan Mahasiswa di Makassar Instrospeksi diri. Polisi juga harusnya lebih persuasif dalam mengamankan sebuah aksi unjuk rasa dengan menjalankan protap yang ada.

KEBEBASAN PERS, merupakan wujud dari hak untuk memperoleh informasi dan menyatakan pendapat tanpa rasa takut, dan karena itu merupakan prasyarat mutlak bagi demokrasi modern yang sungguh beradab.
Pada dasarnya kebebasan pers merupakan wujud kedaulatan rakyat dan menjadi unsur yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara secara demokratis.
Namun, reformasi dalam bidang media itu ternyata tidak diimbangi dengan perlakuan yang diterima para pekerja jurnalis. Justru ketika jurnalis mulai terlibat dalam demokratisasi dan pencerdasan bangsa, ancaman terhadap jurnalis dan kebebasan pers kian terasa. Berbagai perlakukan pun diterima para kuli tinta, mulai dari pers diadukan, dituntut penjara, diduduki kantornya, bahkan ada jurnalis yang peralatannya dirusak.
Padahal dalam undang undang pers juga diatur tentang pemberian sanksi bagi jurnalis yang melakukan kesalahan peliputan.
Pertanyaan sekarang. Mengapa kebebasan pers masih sebatas angan-angan? Hal itu tentunya terjadi karena penerapan hukum di negeri ini masih belum berjalan sebagaimana diharapkan. Penerapan hukum yang tegas, tanpa pilih kasih,masih sebatas retorik belaka. Ini sangat berbahaya, karena negara bisa hancur karena lemahnya penegakan hokum, terlebih jika para jurnalis kita bisa dibungkam.
Kondisi itulah yang terlihat saat ini. Adalah fakta, meski berbagai kebebasan itu sudah
diatur dalam perundang-undangan, namun belum memasyarakat.Misalnya saja, Undang-undang Pers No.40.Tahun 1999 ternyata aparat penegak hukum masih banyak yang belum tahu. Jangan tanya pada mereka pasal demi pasalnya. Mendengar saja pun mereka belum pernah..
Namun yang lebih ironis lagi bagi yang sudah tahu malah bersikap acuh, seakan undang-undang pers itu tidak valid. Kondisi itulah yang membuat mereka menolak menggunakan Undang-undang Pers dengan berbagai macam alasan..
Di makassar beberapa waktu lalu Kapolda Sulselbar irjen Pol Sisino Adiwinoto dalam beberapa kesempatan berbicara di depan umum mengatakan, bahwa publik yang dirugikan oleh pemberitan media massa bisa langsung mengadukan wartawan ke polisi untuk dikenai pasal pidana, tanpa harus menempuh mekanisme hak jawab atau menulis surat pembaca.
Padahal Undang-undang No 40/1999 tentang pers memberikan kesempatan untuk melakukan hak jawab kepada pihak-pihak yang dirugikan.
Pernyataan Kapolda Sulselbar itul kemudian diprotes oleh sejumlah jurnalis di makassar yang tergabung dalam Koliasi jurnalis tolak kriminalisasai pers yang dikordinatori, Upi Asmaradhana dan menyebut ucapan Sisno itu sebagai upaya polisi mengkriminalkan profesi jurnalis dan tidak sesuai dengan UU Pers Nomor 40/1999 yang mengatur hak jawab dalam sengketa pemberitaan pers.
Beberapa aksi juga telah dilakukan koalisi jurnalis di Makassar termasuk demonstrasi dan penggalangan tandatangan sekitar 200 jurnalis media lokal dan nasional yang ada di Makassar.Bahkan koalisi yang diwakili Upi kemudian mengadukan pernyataan Sisno ke Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), DPR RI, Komnas HAM, Dewan Pers, dan ke Presiden SBY melalui juru bicaranya Andi Mallarangeng.
Silang pendapat antara Koalisi jurnalis makassar dengan Sisno Adiwinoto ini kemudian berujung pada pemeriksaan Upi sebagai saksi, dan belakangan ia ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Sulselbar.
Bahkan Kamis 13 November lalu Upi asmaradhana Kordinator kolaisi didampingi sejumlah pengacaranya telah memenuhi surat panggilan polisi yang bernomor S.pg/669/XI/2008/Dit Reskrim. Untuk menjalani pemeriksaan sebagai tersangka dalam perkara Pidana Mengadu secara Menfitnah dengan tulisan dan Menghina dengan tulisan di muka umum sesuatu kekuasaan yang ada di Negara Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 317 ayat (1) KUHPidana dan atau Pasal 311 (1) KUHPidana Subs Pasal 207 KHUPidana.
Pemanggilan Upi sebagai tersangka pun menuai aksi protes sejumlah Jurnali yang ada di Indonesia dengan menggelar aksi unjuk rasa di dearh mereka masing- masing.
Dengan realita dan pemahaman seperti itu wajar saja berbagai kasus delik pers pada akhirnya diselesaikan menurut kehendak Polisi, Jaksa, dan Hakim, yakni menggunakan kitab undang undang hukum pidana, dan komunitas pekerja jurnalis akhirnya satu persatu menjadi korban, masuk penjara, akibat pengebiriaan terhadap undang undang pers oleh para penegak hokum itu sendiri.
Kebebasan pers bisa berjalan dengan baik jika semua pihak menyadari betapa mulia dan pentingnya fungsi kebebesan pers, yang diemban para pekerja jurnalis.
Jurnalis yang baik tentunya akan bekerja secara profesional dalam menjalankan fungsi kontrolnyanya dengan penuh tanggungjawab. Selalu kritis dengan keadaan,selalu berpihak pada rakyat, dan terus meningkatkan kemampuannya dalam membuat suatu berita.

FOTO ANTARA/Yusran Uccang

Kehidupan sosial yang ditandai kehendak bersama melakukan perubahan, demokratisasi menuju perbaikan kesejahteraan hidup, sudah pasti tidak berjalan tanpa peran media massa, terutama pers di dalamnya.

Pada hakikatnya, wajah pers adalah cerminan wajah masyarakatnya. Liputan pers mewakili kondisi sebenarnya dari keberadaan masyarakatnya. Jika liputan pers sarat persoalan, hal ini mencerminkan persoalan yang ada dalam masyarakat.

Seperti yang saat ini ditampilkan pers, banyak liputan korupsi di berbagai lembaga dan organisasi, maka begitulah wajah masyarakat. Karakter pers ini didasari prinsip faktual, yang terjadi atau yang diindikasi terjadi.

Karena sifat pers pada faktualitas, pers memiliki dua karakter, menampilkan berita yang menyenangkan (support) dan menyakitkan (critic). Fungsi kritik pers ini yang sering menimbulkan salah tafsir.

Ada pihak yang merasa ketika kritik itu dialamatkan kepadanya, salah tafsir itu digiring kepada persoalan pencemaran nama baik. Inilah yang kemudian dialami salah satu pekerja pers di Makassar, Upi Asmaradhana.

Budaya pencemaran nama baik menjadi perspektif dominan, tunggal, dan memaksa lembaga-lembaga peradilan digunakan dalam menghadapi problem pers ketika menjalankan fungsi kritik. Tidak hanya lembaga peradilan, tetapi elemen-elemen masyarakat, organisasi pun secara linear memanfaatkan jargon budaya pencemaran nama baik dalam menyikapi kritik pers.

Padahal, pascareformasi lahir UU Pers sebagai aturan main dunia media massa (pers) yang dinilai sebagai keputusan politik demokratis.

Namun, reformasi dalam bidang media itu ternyata tidak diimbangi dengan perlakuan yang diterima komunitas pers. Justru ketika pers mulai terlibat dalam demokratisasi dan pencerdasan bangsa, ancaman terhadap jurnalis dan kebebasan pers makin terasa.

Berbagai tindakan dilakukan mulai dari pers diadukan, dituntut penjara, dipukuli, diancam denda, diduduki kantornya, peralatannya dirusak, dll. Padahal dalam UU Pers juga memungkinkan pemberian sanksi bagi jurnalis yang melakukan kesalahan peliputan.

Undang-undang No 40/1999 tentang pers juga memberikan kesempatan untuk melakukan hak jawab kepada pihak-pihak yang dirugikan. Bukan sebaliknya, kecenderungan melakukan kriminalisasi terhadap pers dan menguatkan penggunaan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) untuk menyelesaikan kasus-kasus jurnalistik (pers).

Kegiatan jurnalistik itu urusannya dengan hukum perdata, jika menyangkut hukum pidana maka bentuk hukumannya bukan kurungan tetapi denda.

Kriminalisasi pers adalah problem budaya, problem berpikir, dan bertindak, yang menjangkiti orang perorang, birokrasi, dan lembaga-lembaga yang tetap hidup dalam suasana dan iklim demokratisasi yang menghambat dan mengerdilkan demokratisasi itu sendiri.

Oleh sebab itu, penting dicatat dalam sejarah kehidupan publik, sebenarnya masih banyak �karang terjal� yang dihadapi dalam membangun demokrasi.

Bagi kalangan pers dan media massa, sudah sepatutnya kasus seperti yang dialami Upi dan rekan-rekan pers lainnya menjadi catatan tersendiri secara internal membenahi kembali kelembagaan dan keorganisasian pers yang bertebaran dan saling berbenturan menjadi konsolidasi
kelembagaan dan keorganisasian yang solid,

atau paling tidak saling mendukung dan memahami satu sama lain. Di samping itu, pers harus mampu menjadikan kasus ini menjadi momentum tracking individu-individu, partai-partai, organisasi-organisasi, dan institusi-institusi yang masih menganut budaya pencemaran nama baik dalam konteks tradisi kolonial. (&)

Tulisan diatas diambil dari Tajuk rencana Harian Fajar rabu (12/11)

Cengeng dan penakut. Begitu Imam Samudera dikenal keluarganya. Meski cengeng, Abdul Aziz, begitu nama asli Imam Samudera, sudah terlihat pintar. Di kelasnya, Aziz selalu mendapat juara pertama.
Menurut keluarganya, pria yang waktu kecil dipanggil Aziz itu sangat cekatan dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan (IPA) dan kerajinan tangan.
Namun, anak ke 8 dari 11 bersaudara itu tidak pandai dalam bidang matematika.
Namun sikap penakut dan cengeng tidak ditemui lagi saat Aziz dewasa. Aziz tumbuh menjadi pria yang keras.
Aziz yang berganti nama menjadi Imam Samudra bahkan mengaku bertanggung jawab pada sejumlah pengeboman di tanah air sejak tahun 2000. Nama Imam Samudra pertama kali muncul dari keterangan tersangka yang diringkus terkait peristiwa bom Natal di Batam dan bom Atrium Senen, Jakarta.
Sebelum kembali ke Indonesia, pria kelahiran Kampung Pelong Gede, Serang, Banten 14 Januari 1970 ini sempat tinggal di Malaysia dan Afghanistan. Di dua negara itulah, Imam belajar soal senjata api dan bom.
Imam Samudra juga dikenal sebagai teroris yang gemar berkomunikasi dengan internet. Bahkan, dia masih berchatting ria dari balik jeruji tahanan.
Dengan bantuan sipir LP Kerobokan Bali, Beni Irawan, tersangka bom Bali yang diketahui merupakan otak pengemboman menyelundupkan komputer jinjing (laptop) ke dalam tahanan. Berdasarkan bukti yang dimiliki polisi, laptop itu dikirim Agung Setiadi alias Salaful Jihad pada 5 Mei 2005.
Beni pun dijatuhi hukuman 5 tahun penjara karena dinilai terbukti menyelundupkan dan memberikan laptop kepada terpidana mati Bom Bali I Imam Samudra.
Sementara Imam Samudra, kembali dijadikan tersangka untuk kasus cyber crime. Polisi mensinyalir, melalui jaringan internet, Imam Samudra menyebarkan propaganda dan pertukaran informasi.
Imam chatting melalui internet relay chat (IRC) di kanal "cafeislam" dan "ahlul sunah". Perbincangan itu dilakukan sebelum peledakan bom Bali II pada 2005.
Setelah bom Bali I 12 Oktober 2002 silam, Imam Samudra hampir tak pernah tinggal menetap. Namun perjalanannya berakhir saat dia hendak melarikan diri ke Sumatera.
Imam ditangkap tanpa perlawanan di sebuah bus di Pelabuhan Merak, Jawa Barat, 26 November 2008. Dua hari setelahnya, pria yang saat itu berusia 35 tahun itu dibawa ke Bali untuk menjalani pemeriksaan intensif.
2 Juni 2003, Imam Samudra mulai diadili di ruang sidang Gedung Nari Graha, Renon, Denpasar. Jaksa menuntutnya dengan hukuman mati karena terlibat langsung pengeboman.
Imam Samudra diketahui sebagai orang yang membagi tugas masing-masing orang untuk pengeboman yang diklaim terdasyat setelah peristiwa World Trade Center Amerika Serikat itu.Dan akhirnya pada 10 September, anak pasangan Titin Embay dan Sihabuddin itu pun dihukum mati di Nusakambangan tepat pukul 00.15 Wib, bersama Amrozi dan Ali Gufron.

Jenazah tiga terpidana mati kasus bom Bali I minggu (09/11) kemarin dimakamkan. Ribuan pelayat mengantarkan Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Ghufron (Mukhlas) ke peristirahatan terakhir.
Detik demi detik proses ekekusi, hujan deras menyamarkan suaranya. Amrozi, Mukhlas, serta Imam Samudera lekas berdiri dan mendirikan salat di dalam sel masing-masing. Mereka tidak melewatkan satu detik pun malam yang tidak berbulan tersebut tanpa ibadah.
Karena itu, bunyi pintu terali besi yang dibuka pukul 22.00 Sabtu malam tidak mengejutkan karena mereka memang masih terjaga. Di luar sel, hujan baru saja reda. Suara katak bersahutan memecah kesunyian malam yang bisu di Lapas Batu. Angin malam menerbangkan bau tanah, menggantikan bau laut.
”Mereka sama sekali tidak terkejut. Seperti sudah berfirasat,” kata salah seorang petugas di LP Nusakambangan, mengingat momen yang menurut dia tidak akan bisa dia lupakan seumur hidup itu.
Lalu, apa tanggapan mereka saat ditanya kesiapannya untuk dieksekuis? Mereka menjawab, ”Insya Allah siap. Tapi jangan disakiti.” Tidak ada teriakan emosional. Mereka memang sudah tahu akan datangnya malam terakhir itu yang memang sudah mereka tunggu untuk melengkapi konsep mati syahid menurut mereka.
Malam beranjak larut dan bulan pun tetap belum terlihat. Ketiganya lalu bersiap menanti kedatangan regu eksekutor yang hendak menjemput mereka. Mandi dan berwudu mereka lakukan. Tidak ketinggalan setelan gamis putih plus celana panjang setumit warna gelap, cokelat atau hitam, mereka kenakan. Tidak lupa harum wangi minyak Arab mereka balurkan ke baju. ”Wangi dan sudah bersih saat dijemput,” lanjut sumber itu.
Amrozi dan Mukhlas mengenakan peci putih. Imam membalut rambut sebahunya dengan peci putih yang dikombinasi ikat-kepala cokelat kehitaman. Rambut dan janggut mereka tetap dibiarkan berurai.
Sandal jepit warna putih dan alas kaki biru menemani langkah. Di dalam sel mereka melanjutkan membaca doa hingga saat penjemputan tiba. Sipir yang berdinas di tahanan teroris kembali membuka pintu. Proses serah terima kepada anggota Brimob usai pukul 23.05 WIB.
Proses itu diikuti dengan pemborgolan tangan mereka ke arah depan dan pemasangan rantai di bagian kaki. Mereka meminta mata tidak ditutup. ”Tidak ada perlawanan,” tambah sumber itu.
Saat itulah Amrozi memekikkan takbir yang diikuti Imam dan Mukhlas. Sekitar lima kali mereka bertakbir. Anggota Brimob membujuk mereka agar tidak berteriak keras-keras dan dijawab Amrozi dengan seloroh, ”Nggak apa-apa, Pak. Kita ini kan hanya ngusir setan.” Brimob itu diam.
Semuanya lalu dibawa ke luar, menuju jalan di depan Lapas Batu. Keadaan sel tetap sunyi mencekam. Napi yang lain, yang letaknya jauh dari sel Amrozi dkk, tidak memberikan respons. Ada lima pintu yang mereka lewati sebelum menghirup udara di depan lapas. Saat mendaki tangga yang memisahkan antara bangunan penjara yang ada di kontur tanah bagian bawah dan kantor yang di atas, anggota Brimob yang mengapit satu per satu memperlakukan mereka dengan sabar.
”Sopan banget,” tegas sumber itu. Tidak ada yang diseret atapun dipaksa. Urutannya adalah Amrozi, Imam, dan Mukhlas. Mereka tidak membawa Alquran ataupun tasbih. Semua lampu lapas juga dihidupkan selama proses tersebut. Tapi, tidak lama kemudian, HP dan HT serta segala tanda yang dikenakan di baju sipir diminta Brimob untuk dilepas dan disita sementara. Mereka khawatir pin itu adalah kamera tersembunyi.
”Amrozi terlihat paling pucat. Waktu bertakbir, suaranya tidak lagi nyaring. Nglokor. Tapi mencoba tegar,” bebernya. Saat dibawa ke lokasi ekskusi, juga tidak ada ucapan perpisahan dengan sipir.Juga tidak ada berkas apa pun yang mereka tanda tangani.
Begitu sampai di depan lapas, mereka langsung masuk mobil Mitsubishi Strada yang telah ready dan duduk di jok tengah. Mobil itu ditumpangi delapan personel bersenjata lengkap, termasuk yang mengenakan tutup kepala.
Iring-iringan bergerak sekira pukul 23.15. Mobil Mitsubhisi itu ada di tengah rombongan sebagaimana geladi bersih yang dilakukan pada Sabtu pagi. Namun, proses tersebut sedikit terkendala saat tiga ambulans tidak mampu mendaki terjal dan licinnya jalan menuju ke lokasi eksekusi yang letaknya di bekas Lapas Nirbaya, kurang lebih 6 kilometer arah selatan Lapas Batu.
Proses eksekusi lancar, tanpa halangan. Mereka juga tidak melawan. Posisinya, dengan regu tembak menghadap ke depan, Amrozi berada di paling kiri, Imam di tengah, dan Mukhlas di kanan. Mereka tidak mau mengenakan penutup mata. ”Jadi hanya memejamkan mata dan menunduk saat ditembak,” urai sumber Fajar.
Kejaksaan Agung mengakui bahwa ketiganya dieksekusi tanpa penutup mata. ”Ini sesuai permintaan tiga terpidana itu. Jadi dengan mata tidak tertutup,” ujar Kapuspenkum Kejagung Jasman Pandjaitan di Kantor Kejakgung kemarin dini hari.
Jarum jam menunjuk pukul 00.15 saat mereka dinyatakan telah tewas dengan masing-masing satu tembakan. Sesudah didor, jenazah yang dibungkus kantong mayat warna kuning dimaksukkan ke keranda sederhana yang dibuat dari bambu dan diletakkan di bak belakang Mitsubishi Strada. Apakah sebelum ditembak mereka bertakbir? ”Iya,” jawab sumber itu. Ketika eksekusi selesai, bulan sudah terlihat separuh dan gerimis mulai turun. Saat proses itu berlangsung, Kapolda Jateng Irjen Pol FX Sunarno dan Kalapas Batu Sedijanto menunggu di rumah dinas pejabat lapas.
Menurut aturan, memang tidak semua orang bisa menghadiri eksekusi mati kecuali tim medis, rohaniwan, jaksa, dan tim eksekutor. Pukul 01.05 WIB, rombongan kembali dari tempat eksekusi. Hujan mulai turun.
Jenazah lalu dibawa ke balai pengobatan milik lapas untuk otopsi dan dibersihkan. Sekira pukul 02.00 WIB, kerabat Amrozi dan Mukhlas, Ali Fauzi dan Syuhada, datang dan melakukan proses perawatan. Mulai dari memandikan, mengafani, dan menyalati. Pukul 06.06 WIB helikopter terbang membawa mereka. Saat itu suasana cukup tegang. Lantaran begitu tegangnya, terjadi insiden.
Ketegangan bermula saat seorang polisi berseragam melihat dua orang yang tidak berseragam di atas tower di sebelah utara-timur Lapas Batu. Posisi itu sangat dekat dengan helipad. Padahal, heli yang sudah memuat jenazah tiga orang itu belum tinggal landas. Khawatir terjadi sabotase, petugas berseragam itu mengeluarkan tembakan untuk menyuruh dua orang di atas tower itu –yang sebenarnya juga polisi agar turun.
Dua orang itu belakangan diketahui sebagai anggota komunikasi elektronik yang memasang jammer untuk mengacak sinyal HP. Amrozi dkk telah pergi dan tidak akan kembali.


Antara foto (Yusran uccank)








Mahasiswa UMI Bentrok Lagi, 1 Kritis
Libatkan Fakultas Teknik dengan Mapala; Korban Luka Terkena Tebasan Parang dan Anak Panah; Korban Luka Tiga Orang; Polisi Amankan Pistol, Papporo, Parang, Badik, dan Senjata Lainnya

Makassar, Tribun - Dua kelompok mahasiswa di Universitas Muslim Indonesia (UMI) terlibat bentrok di kampus mereka, Jl Urip Sumoharjo, Makassar, Kamis (6/11) sore.
Bentrokan melibatkan mahasiswa fakultas teknik dengan mahasiswa yang tergabung di unik kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UMI.
Akibat bentrokan tersebut, seorang mahasiswa fakultas teknik, Fajrin (25), mengalami luka parah akibat terkena tebasan parang dan anak anak panah di bagian leher. Hingga tadi malam, korban masih kritis di Rumah Sakit Ibnu Sina.

Dua mahasiswa teknik lainnya, Al Gazali (22) dan Bombong (23), juga menderita luka akibat bentrokan tersebut dan dilarikan RS Ibnu Sina. Namun luka keduanya tak separah Fajrin.
Polisi masih menyelidiki kasus tersebut. Kapolresta Makassar Timur, AKBP Kamaruddin, yang datang ke lokasi mengatakan, polisi sudah menyita sejumlah senjata tajam dan senjata rakitan, termasuk dua pistol dan dua papporo, sudah diamankan polisi.
Sedangkan Pembantu Rektor III UMI, Mas'ud Sar Msc, mengatakan, pimpinan universitas sangat menyayangkan kasus yang disebutnya memalukan itu.
"UMI adalah tempat untuk menuntut ilmu, bukan ajang tawuran. Kami sangat kecewa dengan tindakan seperti ini,"kata Mas'ud.
Ini adalah tawuran kesekian yang melibatkan mahasiswa di Makassar. Tiga hari sebelumnya, dua kelompok mahasiswa Universitas 45 Makassar juga terlibat tawuran di kampus mereka.



Dipicu Pamlet
Informasi yang dihimpun di Kampus UMI menyebutkan, aksi tawuran dipicu oleh pemasangan pamflet yang dilakukan sekelompok anggota Mapala di kawasan fakultas teknik, Rabu (5/11).
Sekelompok mahasiswa fakultas teknik tidak menerima pemasangan spanduk tersebut sehingga jadi adu mulut. Namun aksi perkelahian masih bisa dilerai oleh petugas satpam kampus.
Namun keesokan harinya, tiba-tiba sekretariat Mapala yang terletak tidak jauh dari gedung fakultas teknik diserang oleh orang.
Versi seorang saksi, penyerangan dilakukan oleh Fajrin, Gazali, dan Bombong. Fajrin bahkan menghunus badik sambil mengejar anak-anak Mapala yang berhamburan.
Penyerangan terjadi di saat anggota Mapala sedang merayakan ulang tahun organisasi mereka. Puluhan anggota Mapalaberlari menyelamatkan diri hingga ke pintu gerbang UMI di Jl Urip Sumoharjo.
Namun setelah berkumpul di dekat gerbang kampus, giliran anggota Mapala yang berbalik menyerang Fajrin cs yang sudah berada di tengah Jl Urip Sumoharjo.
Karena jumlah yang tak seimbang, Fajri, Gazali, dan Bombong menjadi sasaran amukan anggota Mapala.



Fajrin pun tergeletak di atas aspal dengan luka parah di bagian leher belakang yang terkena tebasan parang dan bagian perut tertancap anak panah.
Sejumlah polisi dan staf kampus menolong korban yang saat itu masih memegang sebilah badik. Polisi kemudian mengamankan badik tersebut dan membawa korban ke RS Ibnu Sina.
Sedangkan Gazali dan Bombon yang juga terkena anak panah di bagian perut dan kepala masih kuat berjalan ke RS Ibnu Sina yang hanya dipisahkan jalan dengan kampus UMI.
Melihat kejadian tersebut, puluhan mahasiswa fakultas teknik menyerang sekretariat Mapala. Namun aksi tersebut tidak berlangsung lama karena ratusan polisi dari Polwiltabes Makassar dan Polresta Makassar Timur langsung membubarkan aksi tersebut.
Puluhan polisi patroli bermotor (patmor) juga masuk ke dalam Kampus UMI membubarkan aksi tersebut. Sejumlah kawasan di dekat sekretariat Mapala kemudian disisir polisi. Hasilnya, polisi menemukan puluhan senjata yang digunakan oleh kedua kelompok.
selain senjata api rakitan, polisi juga mengamankan belasan parang panjang, sebuah tongkat yang berisi besi tajam, satu panah yang terbuat dari bambu, empat anak panah dari besi, dan ketapel.
Saat sebelum insiden berdarah tersebut, puluhan polisi sudah berjaga- jaga depan kampus Universitas 45 yang tak jauh dari kampus UMI menyusul informasi yang menyebutkan tawuran kembali akan pecah di kampus tersebut.
Beberapa mahasiswa 45 juga sudah sempat saling lempar dalam skala kecil. Namun aksi tersebut berhasil dihalau petugas. Namun tanpa diduga tawuran justru terjadi di kampus UMI
Menurut Kapolsekta Panakukang AKP Satria, pihak kepolisian masih menyelidiki apa penyebab dan siapa pelaku dari tawuran ini, selain itu belum ada mahasiswa yang diamankan.

Dalam perjalanan hidup, cita-cita terbesar seorang anak kolong langit hanya ingin menuju kesempurnaan. Kadang mesti berjuang, serta belajar menyingkap segala rahasia dalam kehidupan di bawah kolong langit .
Perjalanan anak kolong langit menuju kesempurnaan adalah proses yang menentukan setiap tapak langkahnya. Setiap hembusan nafas, detik jantung, dari siang menuju malam. Semua menuju titik yang sama, “kesempurnaan”..
Setiap insan mempunyai hak yang sama atas waktu. Tidak ada seorangpun melebihi dari yang lain. Namun tak jarang setiap kita berbeda dalam menentukan sikapnya. Ada yang berjuang untuk melaluinya dengan membunuh waktu. Tidak pula sedikit yang merasakan sempitnya kesempatan.
Apa rahasia terbesar dalam hidup ini? Melewati hari ini dengan penuh makna. Makna tentang cinta, dan ilmu. Karena menurut anak klong langit dengan cinta hidup menjadi indah. Dan dengan engan ilmu hidup menjadi mudah.


Minggu, 02-11-2008
Sun TV Ramaikan TV Lokal
Makassar, Tribun - Satu lagi stasiun televisi hadir di Makassar. Sun TV akan ikut meramaikan TV lokal di Sulsel dan sekitarnya. Televisi yang diawaki sejumlah wartawan senior di Sulsel ini muncul lewat frekwensi 31.

Direktur PT Sun TV Makassar, Husain Abdullah, mengatakan, masyarakat bisa menikmati siaran Sun TV di Makassar, Parepare, Gowa, Pangkep, Barru, hingga Luwu Timur.

"Kehadiran Sun TV untuk ikut memberikan pendidikan, hiburan, dan nuansa baru bagi masyarakat," jelas Husain di Makassar, Sabtu (1/11). Dalam tayangan, Sun TV akan lebih fokus pada masalah politik, hukum, budaya, dan agama.

Beberapa wartawan televisi ikut bergabung dalam kru Sun TV. Mereka mendisain berita dan tayangan dari kantor yang terletak di Jl Urip Sumiharjo, Makassar. Wartawan yang tergabung kembali dilatih khusus untuk menyesuaikan dengan segmen dan kebijakan Sun TV.

"Tanyakan kami sebagian besar perkembangan lokal Sulsel dan sekitarnya," tegas Husain.

Hasrul

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget