Hasrul Hasan

Reka Cipta Dalam Perspektif Kreativiti

728x90

Liberalisasi Pers

Wartawan,bagiku merupakan sosok pahlawan yang menjadi guru bagi publik.Dari hasil kegiatan jurnalistik mereka, hitam dan putih kehidupan dunia ini dapat tersajikan dengan sempurna. Naas, masih banyak nasib wartawan di negeri berpenghuni ratusan juta jiwa ini tertatih-tatih dalam kubangan kemiskinan.
Tetap banyak pula jurnalis yang terpaksa nge-job menjadi tim media politik, guna menopang kehidupan keluarganya. Lihat saja, realitas dunia jurnalistik di negeri yang dilokomotifi duet kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla (SBY-JK) ini masih terseok-seok dalam era euforia.
Terhitung semenjak pasca-reformasi bergulir, kebebesan pers diakui mencapai puncaknya. Hampir tak ada lagi pembredelan surat kabar oleh pemerintah dengan dalih mengganggu kestabilitasan nasional. Sudah bukan eranya lagi, wartawan dituntut untuk selalu memberikan kabar baik seperti hasil pembangunan dan sebagainya. Tapi, kini telah berubah haluan seratus delapan puluh derajat. Justru wartawan masa kini dituntut selalu bersikap kritis.
Hanya saja pada era reformasi ini, muncul paham liberalisasi pers yang justru menodai misi suci dari keberadaan pers itu sendiri. Banyak jurnalis yang kehilangan kekuatan "ideologi kebertuhanan" akibat kian tergerus masuk dalam hedonisitas pers nasional. Justru permasalahan penting mengenai keselamatan nyawa wartawan-yang bekerja layaknya kerja seorang intelejen; selalu berada dalam ancaman. Ancaman ini bisa berupa alam dan ulah manusia sendiri. Terkhusus wartawan peliput dunia kriminalitas yang lebih banyak berkecimpung dalam dunia kriminal, pastilah kerap mendapatkan intimadasi baik pihak yang merasa terpojokkan.
Maka, bagiku dan mungkin bagi kalian wartawan adalah profesi yang serba-beresiko tinggi pada keselamatan nyawa.Kini baru terpikir, betapa pentingnya bekal ilmu keselamatan diri bagi para jurnalis kala melakukan kegiatan peliputan baik di darat, laut maupun udara. Dengan memberikan modal pelatihan serta skill yang berkaitan dengan upaya penyelamatan diri kala berada dalam situasi darurat itu, kiranya kuasa meminimalisir jatuhnya korban nyawa dari kalangan jurnalis kala bertugas.
Hanya yang menjadi kelemahan mentalitas publik, budaya bangsa ini kerap melupakan peristiwa sebelumnya.

Posting Komentar

[blogger]

Hasrul

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget