Hasrul Hasan

Reka Cipta Dalam Perspektif Kreativiti

728x90

Sisno Vs Waratawan

Di Makassar, Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Inspektur Jenderal Polisi Sisno Adiwinoto mengancam akan mempidanakan media dan wartawan yang memperolok-olok citra para pejabat di Sulawesi Selatan. Sisno seperti dikutip Tribun Timur (20/5) juga meminta para pejabat yang merasa dirugikan agar melaporkan keberatan tersebut kepada aparat kepolisian untuk ditindaklanjuti. Sisno dalam hal ini, telah berupaya melakukan kriminalisasi terhadap Undang-Undang Pokok Pers. Sebuah gerakan, pembungkaman kebebasan dan daya kritis pers.
Berbagai kalangan memprotes pernyataan kapolda tersebut, Seperti dikutip di Oke Ozone, Wakil Ketua Dewan Pers Sabam Leo Batubara tidak setuju dengan pernyataan Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol Sisno Adiwinoto yang cenderung setuju memidanakan jurnalis.
Menurutnya, wartawan tidak bisa dipidanakan hanya karena mengkritik pemerintah, apalagi jika beritanya berimbang dan sudah ada cek dan ricek. Kecuali wartawan membuat berita untuk memeras dan sebagainya.
"Jadi, bukan karena dikritik lalu wartawan dipidanakan," tukasnya, Senin (19/5/2008).
Jika praktek kriminalisasi pers yang marak di era Orde Baru atau Orde Lama kembali dipraktekkan, kata Leo, hal itu akan merugikan masyarakat sendiri. Sebab institusi pemerintahan tidak akan terkontrol, dan akibatnya perilaku koruptif akan tak terkontrol juga.
Lebih lanjut Leo menyarankan agar Sisno datang ke dewan pers jika merasa dirugikan pers.
"Saya kira Pak Kapolda, kalau ada pers yang salah diadukan dulu ke dewan pers. Agar jelas salahnya apa dan bagaimana penyelesaiannya," ujarnya.
Kota Anging Mammiri" telanjur terstigma sebagai "kota terpanas" di negeri ini. Sedikit-sedikit terjadi bentrokan. Setiap aksi mahasiswa selalu berujung ricuh, selain tawuran antar fakultas. Demo warga juga berakhir kisruh, termasuk isu yang menjurus suku, ras, agama, dan antargolongan yang berkembang cepat.
Makassar ibarat menyimpan magma yang setiap saat siap membuncah dari perut bumi menjadi lahar panas. Setiap kali ada aksi unjuk rasa mahasiswa hampir bisa dipastikan berujung ricuh atau bentrok. Bukan saja dengan aparat kepolisian yang saat ini justru lebih menahan diri, tetapi juga dengan masyarakat sendiri.
Sisno mantan Kadiv Humas Mabes Polri itu ingin menghapus stigma tentang kota makassar
dan sulsel pada umumnya, " Niatnya baik" hanya saja caranya yang tidak benar, sisno pun mengancam mahasiswa dengan UU No 9 tahun 1998 tentang penyampaian pendapat hukum menjadi landasan hukum bagi peserta unjuk rasa dan polisi sehingga semua pihak harus taat kepada hukum yang mengatur unjuk rasa. Sejumlah aksi unjuk rasa mahasiswa dibubarkan paksa aparat kepolisian, dengan alasan mahasiswa tidak mengantongi izin dari polisi.
Tindakan tegas polisi itu tentunya mendapat perlawanan keras dari mahasiswa di makasar, mahasiswa pun makin berani melawan polisi dan hampir dua bulan Sisno adiwinoto menjabat sebagai kapolda di Sulsel, tercatat 15 kasus bentrokan mahasiswa dengan aparat kepolisian.
Sisno membanting setir, ia kemudian berusaha mengintervensi wartawan khususnya wartawan elektronik, Sisno bahkan berkali kali menuding wartawan sebagai dalang di balik aksi aksi anarkis yang terjadi di makassar. Saat ini hampir tiap hari terdengar di handy talky polisi, para kapolwil dan kapolres terus mengingatkan anggotanya di lapangan agar memantau gerakan wartawan, Sisno mengancam akan memenjarakan wartawan yang terbukti melakukan provokasi.
Sungguh malang nasibmu Sisno kamu berada di kota yang salah, ini Makassar Bung!!!
Jurnalis Makassar tidak bisa dibungkam dengan penjara atau bahkan kematian.
Apalagi hanya dengan sebuah ancaman!!!!
Label:
Reaksi:

Posting Komentar

ketika ada yang terancam, teraniaya dan terluka, maka harus ada yang terus melawan...

[blogger]

Hasrul

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget