Hasrul Hasan

Reka Cipta Dalam Perspektif Kreativiti

728x90

Kenapa peristiwa kekerasan dianggap berita menarik?

Sehari-hari pemirsa kita disodori berita kekerasan melalui media massa atau menyaksikan sendiri, serasa hidup kita berada di putaran lingkaran kekerasan yang tak berujung. Banyak orang mungkin tidak lagi khawatir ataupun cemas jika mengetahui adanya kekerasan.

Mahasiswa tawuran, membakar, merusak! Dulu dikatakan penyimpangan, kini hal itu menjadi fenomena biasa.

Mengapa orang jadi mudah melakukan tindakan kekerasan dan anarkis? Mungkin pelakunya merasa itulah penyelesaiannya. Misalnya, mahasiswa di Kendari berpandangan karena membela PKL makanya harus bertarung dengan polisi. Polisi berpandangan karena menjaga keamanan dan aturan sehingga harus menyerang mahasiswa.

Namun yang lebih memprihatinkan kemudian adalah jika kita para non-pelaku menjadi kebal dengan peristiwa kekerasan? Dan menjawab ”lagi-lagi mereka”, ”biar saja yang penting kita aman, damai”.


Apakah ini tipologi masyarakat kontemporer yang beradab? Dulu,sosiologis abad 18 membuat prediksi masyarakat yang akan datang sebagai masyarakat positif atau masyarakat rasional.

Pada masyarakat demikian masalah diselesaikan dengan logika bukan dengan otot dan kekerasan. Ternyata prediksi akademis itu kurang tepat. Kini rasio atau logika ilmiah jalan, otot dan kekerasan juga jalan.

Bisa jadi, jika kita terus-menerus membiarkan peristiwa kekerasan yang hadir di depan kita tanpa rasa prihatin, ataupun konsen terhadapnya. Lama-lama kita menjadi permisif, atau membiarkan itu terjadi apa adanya. Dan karenanya kita juga sama sebagai pelaku.

Saya sebagai kontributor televisi boleh dikata hampir tiap minggu meliput kasus kekerasan, terkadang merasa berdosa karena berita saya dapat membodohi masyarakat, meniru para pelaku tindak kekerasan. Terlebih sejumlah wartawan bahkan saya seringkali terlibat untuk memprovokasi warga, pengunjuk rasa bahkan pelajar untuk melakukan tindakan kekerasa agar liputanku bisa ditayangkan.

Meski kami tahu itu hal yang meyimpang, kalau tidak demikian maka berita dari daerah hanya tertahan di meja korda, produser sama sekali tidak melir
ik berita kami. Mungkin para produser anggap peristiwa kekerasan itu menarik untuk diberitakan dan dapat mengangkat rating. " klo tidak ricuh, berita kita tidak dipakai. JAdi apa salahnya kalau kita ajari mereka untuk bertindak anarkis agar gambar mereka bisa ditayangkan" kata salah seorang temanku yang juga seorang kontributor teve swasta.

Namun, di sisi lain bagiku media saat ini telah membodohi masyarakat.Dewasa ini, media audio, visual, dan cetak, menyusupkan berbagai macam tindak kekerasan dalam sajian mereka. Dulu, masyarakat dapat menyaksikan kekerasan hanya jika mereka ada di sekitar lokasi kejadian. Namun saat ini, siapa pun dapat menyaksikan tindak kekerasan dalam tayangan televisi.

Sejumlah hipotesis telah diajukan sehubungan kemungkinan dampak tayangan kekerasan di televisi pada perilaku manusia. Salah satunya, hipotesis katarsis, yang menyatakan bahwa menyaksikan tayangan kekerasan di televisi menyebabkan dorongan agresif melalui ekspresi perilaku bermusuhan yang dialami orang lain. Hipotesis rangsangan memprediksikan bahwa menyaksikan tayangan kekerasan menyebabkan peningkatan dalam perilaku agresif. Termasuk kategori ini, hipotesis menirukan atau mencontoh, yang menyatakan orang mempelajari perilaku agesif dari televisi dan kemudian mereproduksi perilaku itu. Jika hipotesis kehilangan kendali diri benar, maka tayangan kekerasan di televisi mungkin mengajarkan norma umum bahwa kekerasan adalah cara yang dapat diterima untuk berhubungan dengan orang lain.
Reaksi:

Posting Komentar

[blogger]

Hasrul

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget