Hasrul Hasan

Reka Cipta Dalam Perspektif Kreativiti

728x90
04/08

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.
Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti "tradisi". Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/

Ini bukanlah dongeng abad dua puluhan bila ada kisah suatu negeri
belasan tahun dilanda pertumpahan darah
belasan tahun penghuninya tak pernah tidur
mereka tak henti berlarian kesana kemari
rumah, kebun, sawah, tambak, terlantar semua
Jangan tanya hari depan pada anak-anaknya
hari depan adalah senjata, darah, mayat-mayat
reruntuhan, kobaran api dan apa saja
yang mestinya tak patut mereka ucapkan
Jangan tanya apa mereka sedih atau menangis
pandanglah matanya yang menyimpan dendam
mereka warisi turun temurun
bertahun-tahun amarah bergemuruh di dadanya
bahkan hingga pertengahan tahun ini
luka mereka masih basah, dan hingga kini masih terasa
tak ada yang bisa menghapus rasa perih di dada
para anak anak di poso.
Jangan salahkan bila mereka menjadi anak rimba
kota dan rimba belantara sama saja
mereka lahir berlumur dendam dan amarah
Ini memang bukan dongeng.

Aku sekadar mampir di tempat ini Barangkali hanya untuk menumpang tidur
Mengulur mimpi sampai ujungnya.
Tak seorang pun mengerti
Apa yang sebetulnya kucari
Setelah berjalan sejauh ini
Kadang aku sendiri pun sangsi
rumah ini hanya kujadikan tempat
untuk melepas lelah setelah
seharian berjalan.

Gerimis mengguyur losari
Diantara Lalu-lalang kendaraan,
Diantara Riuh Rendah Suara Klakson
Sukmaku Tertancap..
Menyatu Dengan Suasana Gerimis Menjelang Senja di losari
Masih Seperti hari-hari sebelumnya losari lantunkan Sajak-sajak Senja
Sajak-sajak yang terdengar diantara desah lirih nafasku dan degup irama jantungku..
Di losari terguyur hujan
Di dermaga aku lentunkan Sajak-Sajak Tentang Senja
Hingga aku pun sadar, sebentar lagi senja menyapaku..

Sehari-hari pemirsa kita disodori berita kekerasan melalui media massa atau menyaksikan sendiri, serasa hidup kita berada di putaran lingkaran kekerasan yang tak berujung. Banyak orang mungkin tidak lagi khawatir ataupun cemas jika mengetahui adanya kekerasan.

Mahasiswa tawuran, membakar, merusak! Dulu dikatakan penyimpangan, kini hal itu menjadi fenomena biasa.

Mengapa orang jadi mudah melakukan tindakan kekerasan dan anarkis? Mungkin pelakunya merasa itulah penyelesaiannya. Misalnya, mahasiswa di Kendari berpandangan karena membela PKL makanya harus bertarung dengan polisi. Polisi berpandangan karena menjaga keamanan dan aturan sehingga harus menyerang mahasiswa.

Namun yang lebih memprihatinkan kemudian adalah jika kita para non-pelaku menjadi kebal dengan peristiwa kekerasan? Dan menjawab ”lagi-lagi mereka”, ”biar saja yang penting kita aman, damai”.


Apakah ini tipologi masyarakat kontemporer yang beradab? Dulu,sosiologis abad 18 membuat prediksi masyarakat yang akan datang sebagai masyarakat positif atau masyarakat rasional.

Pada masyarakat demikian masalah diselesaikan dengan logika bukan dengan otot dan kekerasan. Ternyata prediksi akademis itu kurang tepat. Kini rasio atau logika ilmiah jalan, otot dan kekerasan juga jalan.

Bisa jadi, jika kita terus-menerus membiarkan peristiwa kekerasan yang hadir di depan kita tanpa rasa prihatin, ataupun konsen terhadapnya. Lama-lama kita menjadi permisif, atau membiarkan itu terjadi apa adanya. Dan karenanya kita juga sama sebagai pelaku.

Saya sebagai kontributor televisi boleh dikata hampir tiap minggu meliput kasus kekerasan, terkadang merasa berdosa karena berita saya dapat membodohi masyarakat, meniru para pelaku tindak kekerasan. Terlebih sejumlah wartawan bahkan saya seringkali terlibat untuk memprovokasi warga, pengunjuk rasa bahkan pelajar untuk melakukan tindakan kekerasa agar liputanku bisa ditayangkan.

Meski kami tahu itu hal yang meyimpang, kalau tidak demikian maka berita dari daerah hanya tertahan di meja korda, produser sama sekali tidak melir
ik berita kami. Mungkin para produser anggap peristiwa kekerasan itu menarik untuk diberitakan dan dapat mengangkat rating. " klo tidak ricuh, berita kita tidak dipakai. JAdi apa salahnya kalau kita ajari mereka untuk bertindak anarkis agar gambar mereka bisa ditayangkan" kata salah seorang temanku yang juga seorang kontributor teve swasta.

Namun, di sisi lain bagiku media saat ini telah membodohi masyarakat.Dewasa ini, media audio, visual, dan cetak, menyusupkan berbagai macam tindak kekerasan dalam sajian mereka. Dulu, masyarakat dapat menyaksikan kekerasan hanya jika mereka ada di sekitar lokasi kejadian. Namun saat ini, siapa pun dapat menyaksikan tindak kekerasan dalam tayangan televisi.

Sejumlah hipotesis telah diajukan sehubungan kemungkinan dampak tayangan kekerasan di televisi pada perilaku manusia. Salah satunya, hipotesis katarsis, yang menyatakan bahwa menyaksikan tayangan kekerasan di televisi menyebabkan dorongan agresif melalui ekspresi perilaku bermusuhan yang dialami orang lain. Hipotesis rangsangan memprediksikan bahwa menyaksikan tayangan kekerasan menyebabkan peningkatan dalam perilaku agresif. Termasuk kategori ini, hipotesis menirukan atau mencontoh, yang menyatakan orang mempelajari perilaku agesif dari televisi dan kemudian mereproduksi perilaku itu. Jika hipotesis kehilangan kendali diri benar, maka tayangan kekerasan di televisi mungkin mengajarkan norma umum bahwa kekerasan adalah cara yang dapat diterima untuk berhubungan dengan orang lain.

Patah satu tumbuh seribu, mungkin ini adalah pepatah yang sudah sangat akrab ditelinga kita semua. Dan sudah sangat sering kita dengan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi sayangnya tidak banyak dari kita yang dapat merealisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama dalam perihal mencari jodoh.

Banyak diantara kita yang selalu larut dalam kegagalan dan kesedihan yang berkepanjangan, (mungkin aku juga). Padahal, diluar sana masih banyak wanita lain yang mungkin adalah jodoh kita.

Mengapa kita harus berdiam diri? Apa karena kita patah hati? Jika benar, itu berarti salah kita sendiri siapa suruh menempatkan cinta ditempat yang salah.

Tidak ada alasan bagi kita untuk berdiam diri apalagi mundur dalam mencari jodoh. Karena waktu dan umur akan terus bertambah bukan berkurang. Pahami hal itu! Jika umur terus bertambah tua dan sudah tidak ”laku” lagi maka ini semua adalah salah kita sendiri. Karena kita hanya duduk dan termenung dalam khayalan serta menangisi kekasih yang bukan jodoh kita.

Kegagalan demi kegagalan itu adalah sebuah proses untuk mencapai kesuksesan. Tidak ada orang yang sukses tanpa kegagalan.

Aku, si anak yang tak pintar mengabdi ini hanya bisa bermunajat di malam remang. Dalam bintang yang bercahaya layaknya mata malaikat yang indah. Ditemani sinar rembulan yang hangat.

Aku, ayah. Yang membawamu terus bersimbah dalam peluh dan darah yang mengalir dari kening dan jidatmu. Akulah orangnya yang paling bertanggung jawab akan semua ini ayah.

Ayah. Andaikata engkau tua nanti. Tak sedetikpun kupindahkan pandanganku dari mu . Ku ingin mengganti posisi dalam merawat dirimu yang telah renta. Tidak oleh istri ataupun adik-adikku. Tidak ayah! Tapi akulah yang akan merawatmu dengan tangan hina ini. Aku si sulung yang selalu merepotkanmu.

Hasrul

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget