Hasrul Hasan

Reka Cipta Dalam Perspektif Kreativiti

728x90
03/08

Aku bukan seorang jurnalis yang pandai dalam memainkan sejuta kata
dan melulu dalam argumentasi tawa pembenaran.
Bisa menulis saja saya cukup puas, tapi dibalik setiap rentetan kegelisahan
tentang apa yang sedang saya tulis adalah pesan yang akan di kenang dan dinilai
untuk pembaca atau mungkin di aplikasikan.
Saya bukanlah seorang jurnalis yang piawai dalam memainkan sejuta kata dan saya tidak tahu berapa banyak kode etik yang saya langgar dalam gaya bahasa dan tulisanku.
Saya mencoba menjadi seorang idealis yang masa bodoh dengan pendapat orang lain yang mencoba mengusik alam pikiran liar saya.

"Fatamorgana" aku mengenal kata ini ketika duduk di bangku sekolah dasar, itu pun sudah masa-masa akhir.
Fatamorgana. Sebuah kata yang semula cukup asing di telingaku, telinga anak-anak. Namun setelah mengenal kata itu, dengan mudah aku mengingatnya. Mungkin karena aku sangat menyukai kata itu. Bahkan, lambat laun malah jadi sebuah kata favoritku sekaligus sebuah kata yang penuh teka-teki.

Ketika itu guruku mejelaskan istilah "fatamorgana", ia memberi contoh berupa genangan air yang seolah-olah terlihat di atas aspal yang terpanggang terik matahari. Ketika itu, satu yang ada di benakku, aku ingin membuktikan sendiri. Wajar, aku belum begitu percaya dengan keterangan guruku. Tapi setelah aku melihatnya sepulang sekolah pada suatu siang yang teramat panas aku baru percaya.

Hmm.. akhirnya aku percaya, ternyata guruku itu benar. Fatamorgana itu ada, meskipun akhirnya aku mesti kecewa karena begitu kudekati, genangan air itu lenyap. Tapi pengalaman itu bukannya membuatku puas, melainkan malah kian membuatku penasaran.

Beberapa tahun terakhir ini aku hampir saja melupakan peristiwa itu, saat kali pertama aku melihat fatamorgana itu. Untunglah, suatu ketika aku kembali diingatkan pada peristiwa itu, yaitu ketika aku mulai menyukai salah seorang temanku.
Mungkin aku jatuh cinta, saat itulah kembali kulihat fatamorgana di wajah teman ku itu.

Aku jadi ingin tertawa jika teringat bahwa telah puluhan kali aku jatuh cinta, geli rasanya pasalnya, cintaku selalu kandas di tengah jalan hanya karena orang yang kucintai sebenarnya aku lebih suka menyebut mereka "pacar" tak pernah bisa memberi jawaban yang memuaskan, ketika kutanya apa arti cinta. Jadi, jangan heran, jika kemarin kutanyakan kepadamu arti cinta. Itu artinya aku telah jatuh cinta kepadamu.....

Mungkin sekadar buat alasan agar kau lebih percaya bahwa tak ada niatan apa pun mengapa kutanyakan cinta padamu, karena hari ini tak kulihat dia dimatamu. Yah, aku tak melihat cinta di matamu. Ke mana gerangan dia? Meninggalkanmukah? Semoga tidak! Semoga ini hanya fatamorgana.

Fatamorgana, lagi-lagi fatamorgana!

Mungkin aku sudah tidak akan sanggup lagi
menanti untuk menulis sesuatu hal yang tak berguna lebih banyak lagi
pada setiap saat, waktu kita terlahir mengetuk-ngetuk rahim keindahan
itu.

Barangkali aku sudah akan hangus oleh penantian ini!
bintang bintang yang berpijar dalam kenangan,
hanya saja barangkali aku sudah tidak akan sanggup lagi
menanti sebuah jawaban. Barangkali????

Dan seandainya mungkin masih bisa menunggu,
aku akan tuntun kamu pada jarak
yang terpendek, kita akan peras semua pengertian
pada langit, pemahaman dan kecintaan kita ke pada
sinar bulan atau bintang yang jatuh ke sebelah bukit,
akan kulihat apakah ada rasa cinta yang lebih dari itu.

Kebenaran hanya semboyan dan kita takut membayangkan suatu hari
kelak ia benar-benar datang bagai iklan-iklan tv itu
yang selalu membuat kita terperangkap.

Barangkali kita sebenarnya tidak butuh apa-apa kecuali
menyusun langit itu kembali, memberinya sekadar warna,
menjadi langit yang sesungguhnya. berbicara kembali
kepada burung-burung, kepada pucuk-pucuk pohon tanpa pengeras suara.

Bagiku ini tragedi kemanusiaan.......
Tragis memang seorang ibu hamil dan anaknya, mati kelaparan di lumbung pangan.
Banyak pihak yang terhentak dengan headline berita ini di koran-koran dan televisi.
Aku saja yang berada di rumah duka saat Basse dan Bahir anaknya dikabarkan meninggal karena kelaparan, masih
merasa tidak percaya, di ibu kota propinsi yang hampir tiap tahun surplus beras ini masih ada orang mati karena kelaparan.

Untuk sejenak bahkan saya merasa tak ada gunanya segala teori pembangunan yang kita pelajari dan kita anut, tak ada gunanya target pembangunan dicanangkan dengan menghabiskan begitu banyak porsi APBN dan APBD, bahkan tak ada gunanya pula segala bentuk berdemokrasi lengkap dengan tetek bengek Pemilu, Pilkada, atau apapun namanya, sementara disisi lain ada rakyat mati karena tidak makan.

Saya paham tidak ada yang ingin disalahkan dalam tragedi ini, tidak si korban, tidak tetangganya (karena dicap tidak memperhatikan sesama tetangganya, yang boleh jadi sama laparnya), tidak pula pemerintah (yang berdalih bahwa korban mati karena diare, bukan kelaparan, meski memang diare itu dapat disebabkan malnutrisi yang dipicu kelaparan juga). Jadi cukuplah pertikaian diplomatis diatas derita rakyat ini.Sungguh sangat memalukan!

Cukup, cukup! Cukuplah semua ini… Untuk sekian kalinya, kotaku jadi sorotan. Masalah pilkada yang harus diulang karena MA melakukan ultra petita atas tuntutan pihak Asmara yang tak dapat menerima kenyataan telah kalah dalam pilkada, masalah tawuran mahasiswa di UNHAS, dan kini kelaparan di lumbung pangan sendiri, ibarat tikus mati di lumbung padi !!!!

Hasrul

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget