Hasrul Hasan

Reka Cipta Dalam Perspektif Kreativiti

728x90

Tradisi Mahasiswa Unhas

Sudah menjadi TRADISI",hampir setiap tahun kampus Universitas Hasanuddin pasti dinodai oleh saling adu jotos dan keroyokan antar fakultas. Seakan mengiyakan ungkapan "History repeats itself".Sayang sekali bahwa sejarah yang terulang itu hanyalah sejarah-sejarah yang jauh dari moral-moral kemanusiaan masyarakat berpendidikan. Mereka mengikuti ego sendiri dan membela harga diri yang salah kaprah. Maka wajar kalau tukang becak di tiap sudut kota makassar, hanya bisa membelalakkan bola mata sambil berujar,"Mahasiswanya saja seperti ini, bagaimana setelah menjadi pemimpin-pemimpin kelak?" Selasa siang kemarin (26/2), mahasiswa Fakultas Teknik dan FISIP kembali mempertunjukkan kebolehannya. Akibatnya, belasan mahasiswa pun luka terkena lemparan batu. Ruang perkuliahan pun rusak terkena lemparan. Sejarah juga sudah membuktikan bahwa dua fakultas ini memang merupakan pemegang rekor tertinggi adu keroyokan dan bakar-bakaran. Para mahasiswa, sering dengan pongah menceritakan kepada kawan atau keluarganya, tentang betapa hebatnya mereka saat melakukan tawuran. Bagiku itulah tanda bahwa si mahasiswa telah sukses menerima kekerasan dan kini menjadi seorang pendukung kekerasan. Tanpa disadarinya, mahasiswa sebenarnya telah mengidap sebuah penyakit kejiwaan. Gejala ini seperti yang dikatakan Sigmund Freud mengenai pengidap paranoia narsissistik yang semula memiliki kecenderungan primer merasa dirinya teraniaya, menarik kesimpulan bahwa dia pasti orang yang penting, karenanya mengembangkan khayalan akan kehebatan dirinya. "Seleksi alam" dari tindak kekerasan itu kemudian menghasilkan individu dengan tingkat kebiadaban yang tinggi, seseorang yang mungkin dengan mudah disebut sebagai preman. Sementara masa depan preman dalam lingkungan yang terlanjur dikuasai oleh kekerasan, sungguhlah amat cerah. Walau sedikit menggelikan, seringkali dengan susah payah masih ada yang mengatakan bahwa mahasiswa Unhas adalah intelektual muda. Tapi bila melihat perilaku mereka, serta membandingkannya dengan apa yang orang pintar rumuskan tentang intelektul, tampaknya sangat keliru. Itu berarti ada kesalahan yang berulang-ulang dilakukan pimpinan Unhas. Pada kasus ini, ungkapan bahwa hanya keledai yang melakukan dua kali kesalahan yang sama, akan membuat keledai mencibir ke arah manusia. Kenyataannya, manusialah yang selalu membuat kesalahan yang sama.
Reaksi:

Posting Komentar

[blogger]

Hasrul

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget