Hasrul Hasan

Reka Cipta Dalam Perspektif Kreativiti

728x90
2008

ASSALAAMU'ALIKUUM WR. WB..
TANGGAL 20 DESEMBER YANG AKAN DATANG KAMI AKAN MULAI MELALUI LUASNYA LAUTAN KEHIDUPAN DALAM BAHTERA RUMAH TANGGA, SEMOGA DALAM PERJALANAN INI BERKAH ALLAH SWT SELALU MENYERTAI.
MOHON DOA RESTU DARI TEMAN TEMAN SEMUA…
SEMOGA KAMI AKAN BERLABUH KE TEMPAT YANG KAMI TUJU...
AMIIN...
WASSALAAMU'ALAIKUM WR. WB









Foto Antara Yusran Uccang.


Mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Makassar bentrok dengan aparat kepolisian di depan kampus mereka di Jalan Sultan Alauddin, Senin (17/11). Bentrokan berawal saat mahasiswa melakukan aksi pelemparan batu ke arah aparat. Polisi pun menghalau dengan merangsek ke arah mahasiswa yang berunjuk rasa.
Perang batu terjadi hingga 3 kali. Pertama kali terjadi sekitar pukul 10.00 Wita. Terulang lagi pukul 10 45 Wita. Polisi, baik yang berpakaian lengkap dengan tameng maupun tanpa perlengkapan mencoba merangsek masuk kampus, namun dihadang oleh mahasiswa dengan lemparan batu. Tak mau kalah, membalas lemparan batu tersebut yang disaksikan langsung Kapolres Makassar Timur AKBP Kamaruddin.
Aksi ini dipicu adanya kabar seorang mahasiswa bernama Basir, tertembak aparat. Mahasiswa jurusan Fakultas Ilmu Sosial Polirik itu dikabarkan mengalami luka tembak di pelipis kanan, saat polisi melakukan razia balapan liar di jalan veteran, Makassar minggu dini hari lalu.
Kepada rekan saya yang juga kontributor Sun tv Basir, mengaku tertembak saat berboncengan dengan seorang perempuan, Martha. Ia sempat dibawa ke Rumah Sakit Umum Faisal, tapi kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Bayangkara.
Sementara Dokter forensik di RS Bhayangkara dr Mauluddin M, mengatakan luka dipelipis Basir bukan akibat peluru, tetapi benda tumpul bertepi. Dugaan ini didasarkan luka robek dan memar tidak maksimal akibat luka lecet geser.
Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Makassar, Komisaris Besar Burhanuddin Andi juga membatah Basir ditembak. "Sama sekali tidak ada tembakan dari petugas saat itu, lagian tidak ada yang mendengar suara tembakan," kata dia. Tapi, kata dia, polisi belum memeriksa saksi atau meminta keterangan karena belum ada laporan.
Akibat kejadian ini, puluhan mahasiswa berunjuk rasa. Mereka menganggap luka didahi Basir akibat tembakan polisi. Pendemo berorasi dan membakar ban bekas di tengah Jalan Sultan Alauddin hingga sempat memacetkan arus lalu lintas. Hari ini aksi mahasiswa berlanjut.
Sementara itu Warga Makassar, Sulawesi Selatan, mengecam unjuk rasa mahasiswa yang diwarnai aksi kekerasan dan anarkisme. Selain merugikan masyarakat, unjuk rasa seperti itu bukan cerminan sikap mahasiswa yang seharusnya mengandalkan otak bukan otot.
Atas nama solidaristas, mahasiswa Universitas Muhammadiyah serta Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar beraksi dengan memblokade jalan, melawan aparat, dan mengganggu keteriban umum.
Bahkan bak jawara, para mahasiswa mencari polisi untuk digebuki. Satu rombongan pengantar jenazah yang merasa dihalangi pun marah dan balik menyerang mahasiswa Universitas Islam Negeri Aulaudin yang juga melakukan aksi serupa dengan mahasiswa Unismuh Makassar yang jarak kedua kampus hanya sekitar 500 meter.
Sudah seharusnya Polisi dan Mahasiswa di Makassar Instrospeksi diri. Polisi juga harusnya lebih persuasif dalam mengamankan sebuah aksi unjuk rasa dengan menjalankan protap yang ada.

KEBEBASAN PERS, merupakan wujud dari hak untuk memperoleh informasi dan menyatakan pendapat tanpa rasa takut, dan karena itu merupakan prasyarat mutlak bagi demokrasi modern yang sungguh beradab.
Pada dasarnya kebebasan pers merupakan wujud kedaulatan rakyat dan menjadi unsur yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara secara demokratis.
Namun, reformasi dalam bidang media itu ternyata tidak diimbangi dengan perlakuan yang diterima para pekerja jurnalis. Justru ketika jurnalis mulai terlibat dalam demokratisasi dan pencerdasan bangsa, ancaman terhadap jurnalis dan kebebasan pers kian terasa. Berbagai perlakukan pun diterima para kuli tinta, mulai dari pers diadukan, dituntut penjara, diduduki kantornya, bahkan ada jurnalis yang peralatannya dirusak.
Padahal dalam undang undang pers juga diatur tentang pemberian sanksi bagi jurnalis yang melakukan kesalahan peliputan.
Pertanyaan sekarang. Mengapa kebebasan pers masih sebatas angan-angan? Hal itu tentunya terjadi karena penerapan hukum di negeri ini masih belum berjalan sebagaimana diharapkan. Penerapan hukum yang tegas, tanpa pilih kasih,masih sebatas retorik belaka. Ini sangat berbahaya, karena negara bisa hancur karena lemahnya penegakan hokum, terlebih jika para jurnalis kita bisa dibungkam.
Kondisi itulah yang terlihat saat ini. Adalah fakta, meski berbagai kebebasan itu sudah
diatur dalam perundang-undangan, namun belum memasyarakat.Misalnya saja, Undang-undang Pers No.40.Tahun 1999 ternyata aparat penegak hukum masih banyak yang belum tahu. Jangan tanya pada mereka pasal demi pasalnya. Mendengar saja pun mereka belum pernah..
Namun yang lebih ironis lagi bagi yang sudah tahu malah bersikap acuh, seakan undang-undang pers itu tidak valid. Kondisi itulah yang membuat mereka menolak menggunakan Undang-undang Pers dengan berbagai macam alasan..
Di makassar beberapa waktu lalu Kapolda Sulselbar irjen Pol Sisino Adiwinoto dalam beberapa kesempatan berbicara di depan umum mengatakan, bahwa publik yang dirugikan oleh pemberitan media massa bisa langsung mengadukan wartawan ke polisi untuk dikenai pasal pidana, tanpa harus menempuh mekanisme hak jawab atau menulis surat pembaca.
Padahal Undang-undang No 40/1999 tentang pers memberikan kesempatan untuk melakukan hak jawab kepada pihak-pihak yang dirugikan.
Pernyataan Kapolda Sulselbar itul kemudian diprotes oleh sejumlah jurnalis di makassar yang tergabung dalam Koliasi jurnalis tolak kriminalisasai pers yang dikordinatori, Upi Asmaradhana dan menyebut ucapan Sisno itu sebagai upaya polisi mengkriminalkan profesi jurnalis dan tidak sesuai dengan UU Pers Nomor 40/1999 yang mengatur hak jawab dalam sengketa pemberitaan pers.
Beberapa aksi juga telah dilakukan koalisi jurnalis di Makassar termasuk demonstrasi dan penggalangan tandatangan sekitar 200 jurnalis media lokal dan nasional yang ada di Makassar.Bahkan koalisi yang diwakili Upi kemudian mengadukan pernyataan Sisno ke Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), DPR RI, Komnas HAM, Dewan Pers, dan ke Presiden SBY melalui juru bicaranya Andi Mallarangeng.
Silang pendapat antara Koalisi jurnalis makassar dengan Sisno Adiwinoto ini kemudian berujung pada pemeriksaan Upi sebagai saksi, dan belakangan ia ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Sulselbar.
Bahkan Kamis 13 November lalu Upi asmaradhana Kordinator kolaisi didampingi sejumlah pengacaranya telah memenuhi surat panggilan polisi yang bernomor S.pg/669/XI/2008/Dit Reskrim. Untuk menjalani pemeriksaan sebagai tersangka dalam perkara Pidana Mengadu secara Menfitnah dengan tulisan dan Menghina dengan tulisan di muka umum sesuatu kekuasaan yang ada di Negara Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 317 ayat (1) KUHPidana dan atau Pasal 311 (1) KUHPidana Subs Pasal 207 KHUPidana.
Pemanggilan Upi sebagai tersangka pun menuai aksi protes sejumlah Jurnali yang ada di Indonesia dengan menggelar aksi unjuk rasa di dearh mereka masing- masing.
Dengan realita dan pemahaman seperti itu wajar saja berbagai kasus delik pers pada akhirnya diselesaikan menurut kehendak Polisi, Jaksa, dan Hakim, yakni menggunakan kitab undang undang hukum pidana, dan komunitas pekerja jurnalis akhirnya satu persatu menjadi korban, masuk penjara, akibat pengebiriaan terhadap undang undang pers oleh para penegak hokum itu sendiri.
Kebebasan pers bisa berjalan dengan baik jika semua pihak menyadari betapa mulia dan pentingnya fungsi kebebesan pers, yang diemban para pekerja jurnalis.
Jurnalis yang baik tentunya akan bekerja secara profesional dalam menjalankan fungsi kontrolnyanya dengan penuh tanggungjawab. Selalu kritis dengan keadaan,selalu berpihak pada rakyat, dan terus meningkatkan kemampuannya dalam membuat suatu berita.

FOTO ANTARA/Yusran Uccang

Kehidupan sosial yang ditandai kehendak bersama melakukan perubahan, demokratisasi menuju perbaikan kesejahteraan hidup, sudah pasti tidak berjalan tanpa peran media massa, terutama pers di dalamnya.

Pada hakikatnya, wajah pers adalah cerminan wajah masyarakatnya. Liputan pers mewakili kondisi sebenarnya dari keberadaan masyarakatnya. Jika liputan pers sarat persoalan, hal ini mencerminkan persoalan yang ada dalam masyarakat.

Seperti yang saat ini ditampilkan pers, banyak liputan korupsi di berbagai lembaga dan organisasi, maka begitulah wajah masyarakat. Karakter pers ini didasari prinsip faktual, yang terjadi atau yang diindikasi terjadi.

Karena sifat pers pada faktualitas, pers memiliki dua karakter, menampilkan berita yang menyenangkan (support) dan menyakitkan (critic). Fungsi kritik pers ini yang sering menimbulkan salah tafsir.

Ada pihak yang merasa ketika kritik itu dialamatkan kepadanya, salah tafsir itu digiring kepada persoalan pencemaran nama baik. Inilah yang kemudian dialami salah satu pekerja pers di Makassar, Upi Asmaradhana.

Budaya pencemaran nama baik menjadi perspektif dominan, tunggal, dan memaksa lembaga-lembaga peradilan digunakan dalam menghadapi problem pers ketika menjalankan fungsi kritik. Tidak hanya lembaga peradilan, tetapi elemen-elemen masyarakat, organisasi pun secara linear memanfaatkan jargon budaya pencemaran nama baik dalam menyikapi kritik pers.

Padahal, pascareformasi lahir UU Pers sebagai aturan main dunia media massa (pers) yang dinilai sebagai keputusan politik demokratis.

Namun, reformasi dalam bidang media itu ternyata tidak diimbangi dengan perlakuan yang diterima komunitas pers. Justru ketika pers mulai terlibat dalam demokratisasi dan pencerdasan bangsa, ancaman terhadap jurnalis dan kebebasan pers makin terasa.

Berbagai tindakan dilakukan mulai dari pers diadukan, dituntut penjara, dipukuli, diancam denda, diduduki kantornya, peralatannya dirusak, dll. Padahal dalam UU Pers juga memungkinkan pemberian sanksi bagi jurnalis yang melakukan kesalahan peliputan.

Undang-undang No 40/1999 tentang pers juga memberikan kesempatan untuk melakukan hak jawab kepada pihak-pihak yang dirugikan. Bukan sebaliknya, kecenderungan melakukan kriminalisasi terhadap pers dan menguatkan penggunaan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) untuk menyelesaikan kasus-kasus jurnalistik (pers).

Kegiatan jurnalistik itu urusannya dengan hukum perdata, jika menyangkut hukum pidana maka bentuk hukumannya bukan kurungan tetapi denda.

Kriminalisasi pers adalah problem budaya, problem berpikir, dan bertindak, yang menjangkiti orang perorang, birokrasi, dan lembaga-lembaga yang tetap hidup dalam suasana dan iklim demokratisasi yang menghambat dan mengerdilkan demokratisasi itu sendiri.

Oleh sebab itu, penting dicatat dalam sejarah kehidupan publik, sebenarnya masih banyak �karang terjal� yang dihadapi dalam membangun demokrasi.

Bagi kalangan pers dan media massa, sudah sepatutnya kasus seperti yang dialami Upi dan rekan-rekan pers lainnya menjadi catatan tersendiri secara internal membenahi kembali kelembagaan dan keorganisasian pers yang bertebaran dan saling berbenturan menjadi konsolidasi
kelembagaan dan keorganisasian yang solid,

atau paling tidak saling mendukung dan memahami satu sama lain. Di samping itu, pers harus mampu menjadikan kasus ini menjadi momentum tracking individu-individu, partai-partai, organisasi-organisasi, dan institusi-institusi yang masih menganut budaya pencemaran nama baik dalam konteks tradisi kolonial. (&)

Tulisan diatas diambil dari Tajuk rencana Harian Fajar rabu (12/11)

Cengeng dan penakut. Begitu Imam Samudera dikenal keluarganya. Meski cengeng, Abdul Aziz, begitu nama asli Imam Samudera, sudah terlihat pintar. Di kelasnya, Aziz selalu mendapat juara pertama.
Menurut keluarganya, pria yang waktu kecil dipanggil Aziz itu sangat cekatan dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan (IPA) dan kerajinan tangan.
Namun, anak ke 8 dari 11 bersaudara itu tidak pandai dalam bidang matematika.
Namun sikap penakut dan cengeng tidak ditemui lagi saat Aziz dewasa. Aziz tumbuh menjadi pria yang keras.
Aziz yang berganti nama menjadi Imam Samudra bahkan mengaku bertanggung jawab pada sejumlah pengeboman di tanah air sejak tahun 2000. Nama Imam Samudra pertama kali muncul dari keterangan tersangka yang diringkus terkait peristiwa bom Natal di Batam dan bom Atrium Senen, Jakarta.
Sebelum kembali ke Indonesia, pria kelahiran Kampung Pelong Gede, Serang, Banten 14 Januari 1970 ini sempat tinggal di Malaysia dan Afghanistan. Di dua negara itulah, Imam belajar soal senjata api dan bom.
Imam Samudra juga dikenal sebagai teroris yang gemar berkomunikasi dengan internet. Bahkan, dia masih berchatting ria dari balik jeruji tahanan.
Dengan bantuan sipir LP Kerobokan Bali, Beni Irawan, tersangka bom Bali yang diketahui merupakan otak pengemboman menyelundupkan komputer jinjing (laptop) ke dalam tahanan. Berdasarkan bukti yang dimiliki polisi, laptop itu dikirim Agung Setiadi alias Salaful Jihad pada 5 Mei 2005.
Beni pun dijatuhi hukuman 5 tahun penjara karena dinilai terbukti menyelundupkan dan memberikan laptop kepada terpidana mati Bom Bali I Imam Samudra.
Sementara Imam Samudra, kembali dijadikan tersangka untuk kasus cyber crime. Polisi mensinyalir, melalui jaringan internet, Imam Samudra menyebarkan propaganda dan pertukaran informasi.
Imam chatting melalui internet relay chat (IRC) di kanal "cafeislam" dan "ahlul sunah". Perbincangan itu dilakukan sebelum peledakan bom Bali II pada 2005.
Setelah bom Bali I 12 Oktober 2002 silam, Imam Samudra hampir tak pernah tinggal menetap. Namun perjalanannya berakhir saat dia hendak melarikan diri ke Sumatera.
Imam ditangkap tanpa perlawanan di sebuah bus di Pelabuhan Merak, Jawa Barat, 26 November 2008. Dua hari setelahnya, pria yang saat itu berusia 35 tahun itu dibawa ke Bali untuk menjalani pemeriksaan intensif.
2 Juni 2003, Imam Samudra mulai diadili di ruang sidang Gedung Nari Graha, Renon, Denpasar. Jaksa menuntutnya dengan hukuman mati karena terlibat langsung pengeboman.
Imam Samudra diketahui sebagai orang yang membagi tugas masing-masing orang untuk pengeboman yang diklaim terdasyat setelah peristiwa World Trade Center Amerika Serikat itu.Dan akhirnya pada 10 September, anak pasangan Titin Embay dan Sihabuddin itu pun dihukum mati di Nusakambangan tepat pukul 00.15 Wib, bersama Amrozi dan Ali Gufron.

Jenazah tiga terpidana mati kasus bom Bali I minggu (09/11) kemarin dimakamkan. Ribuan pelayat mengantarkan Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Ghufron (Mukhlas) ke peristirahatan terakhir.
Detik demi detik proses ekekusi, hujan deras menyamarkan suaranya. Amrozi, Mukhlas, serta Imam Samudera lekas berdiri dan mendirikan salat di dalam sel masing-masing. Mereka tidak melewatkan satu detik pun malam yang tidak berbulan tersebut tanpa ibadah.
Karena itu, bunyi pintu terali besi yang dibuka pukul 22.00 Sabtu malam tidak mengejutkan karena mereka memang masih terjaga. Di luar sel, hujan baru saja reda. Suara katak bersahutan memecah kesunyian malam yang bisu di Lapas Batu. Angin malam menerbangkan bau tanah, menggantikan bau laut.
”Mereka sama sekali tidak terkejut. Seperti sudah berfirasat,” kata salah seorang petugas di LP Nusakambangan, mengingat momen yang menurut dia tidak akan bisa dia lupakan seumur hidup itu.
Lalu, apa tanggapan mereka saat ditanya kesiapannya untuk dieksekuis? Mereka menjawab, ”Insya Allah siap. Tapi jangan disakiti.” Tidak ada teriakan emosional. Mereka memang sudah tahu akan datangnya malam terakhir itu yang memang sudah mereka tunggu untuk melengkapi konsep mati syahid menurut mereka.
Malam beranjak larut dan bulan pun tetap belum terlihat. Ketiganya lalu bersiap menanti kedatangan regu eksekutor yang hendak menjemput mereka. Mandi dan berwudu mereka lakukan. Tidak ketinggalan setelan gamis putih plus celana panjang setumit warna gelap, cokelat atau hitam, mereka kenakan. Tidak lupa harum wangi minyak Arab mereka balurkan ke baju. ”Wangi dan sudah bersih saat dijemput,” lanjut sumber itu.
Amrozi dan Mukhlas mengenakan peci putih. Imam membalut rambut sebahunya dengan peci putih yang dikombinasi ikat-kepala cokelat kehitaman. Rambut dan janggut mereka tetap dibiarkan berurai.
Sandal jepit warna putih dan alas kaki biru menemani langkah. Di dalam sel mereka melanjutkan membaca doa hingga saat penjemputan tiba. Sipir yang berdinas di tahanan teroris kembali membuka pintu. Proses serah terima kepada anggota Brimob usai pukul 23.05 WIB.
Proses itu diikuti dengan pemborgolan tangan mereka ke arah depan dan pemasangan rantai di bagian kaki. Mereka meminta mata tidak ditutup. ”Tidak ada perlawanan,” tambah sumber itu.
Saat itulah Amrozi memekikkan takbir yang diikuti Imam dan Mukhlas. Sekitar lima kali mereka bertakbir. Anggota Brimob membujuk mereka agar tidak berteriak keras-keras dan dijawab Amrozi dengan seloroh, ”Nggak apa-apa, Pak. Kita ini kan hanya ngusir setan.” Brimob itu diam.
Semuanya lalu dibawa ke luar, menuju jalan di depan Lapas Batu. Keadaan sel tetap sunyi mencekam. Napi yang lain, yang letaknya jauh dari sel Amrozi dkk, tidak memberikan respons. Ada lima pintu yang mereka lewati sebelum menghirup udara di depan lapas. Saat mendaki tangga yang memisahkan antara bangunan penjara yang ada di kontur tanah bagian bawah dan kantor yang di atas, anggota Brimob yang mengapit satu per satu memperlakukan mereka dengan sabar.
”Sopan banget,” tegas sumber itu. Tidak ada yang diseret atapun dipaksa. Urutannya adalah Amrozi, Imam, dan Mukhlas. Mereka tidak membawa Alquran ataupun tasbih. Semua lampu lapas juga dihidupkan selama proses tersebut. Tapi, tidak lama kemudian, HP dan HT serta segala tanda yang dikenakan di baju sipir diminta Brimob untuk dilepas dan disita sementara. Mereka khawatir pin itu adalah kamera tersembunyi.
”Amrozi terlihat paling pucat. Waktu bertakbir, suaranya tidak lagi nyaring. Nglokor. Tapi mencoba tegar,” bebernya. Saat dibawa ke lokasi ekskusi, juga tidak ada ucapan perpisahan dengan sipir.Juga tidak ada berkas apa pun yang mereka tanda tangani.
Begitu sampai di depan lapas, mereka langsung masuk mobil Mitsubishi Strada yang telah ready dan duduk di jok tengah. Mobil itu ditumpangi delapan personel bersenjata lengkap, termasuk yang mengenakan tutup kepala.
Iring-iringan bergerak sekira pukul 23.15. Mobil Mitsubhisi itu ada di tengah rombongan sebagaimana geladi bersih yang dilakukan pada Sabtu pagi. Namun, proses tersebut sedikit terkendala saat tiga ambulans tidak mampu mendaki terjal dan licinnya jalan menuju ke lokasi eksekusi yang letaknya di bekas Lapas Nirbaya, kurang lebih 6 kilometer arah selatan Lapas Batu.
Proses eksekusi lancar, tanpa halangan. Mereka juga tidak melawan. Posisinya, dengan regu tembak menghadap ke depan, Amrozi berada di paling kiri, Imam di tengah, dan Mukhlas di kanan. Mereka tidak mau mengenakan penutup mata. ”Jadi hanya memejamkan mata dan menunduk saat ditembak,” urai sumber Fajar.
Kejaksaan Agung mengakui bahwa ketiganya dieksekusi tanpa penutup mata. ”Ini sesuai permintaan tiga terpidana itu. Jadi dengan mata tidak tertutup,” ujar Kapuspenkum Kejagung Jasman Pandjaitan di Kantor Kejakgung kemarin dini hari.
Jarum jam menunjuk pukul 00.15 saat mereka dinyatakan telah tewas dengan masing-masing satu tembakan. Sesudah didor, jenazah yang dibungkus kantong mayat warna kuning dimaksukkan ke keranda sederhana yang dibuat dari bambu dan diletakkan di bak belakang Mitsubishi Strada. Apakah sebelum ditembak mereka bertakbir? ”Iya,” jawab sumber itu. Ketika eksekusi selesai, bulan sudah terlihat separuh dan gerimis mulai turun. Saat proses itu berlangsung, Kapolda Jateng Irjen Pol FX Sunarno dan Kalapas Batu Sedijanto menunggu di rumah dinas pejabat lapas.
Menurut aturan, memang tidak semua orang bisa menghadiri eksekusi mati kecuali tim medis, rohaniwan, jaksa, dan tim eksekutor. Pukul 01.05 WIB, rombongan kembali dari tempat eksekusi. Hujan mulai turun.
Jenazah lalu dibawa ke balai pengobatan milik lapas untuk otopsi dan dibersihkan. Sekira pukul 02.00 WIB, kerabat Amrozi dan Mukhlas, Ali Fauzi dan Syuhada, datang dan melakukan proses perawatan. Mulai dari memandikan, mengafani, dan menyalati. Pukul 06.06 WIB helikopter terbang membawa mereka. Saat itu suasana cukup tegang. Lantaran begitu tegangnya, terjadi insiden.
Ketegangan bermula saat seorang polisi berseragam melihat dua orang yang tidak berseragam di atas tower di sebelah utara-timur Lapas Batu. Posisi itu sangat dekat dengan helipad. Padahal, heli yang sudah memuat jenazah tiga orang itu belum tinggal landas. Khawatir terjadi sabotase, petugas berseragam itu mengeluarkan tembakan untuk menyuruh dua orang di atas tower itu –yang sebenarnya juga polisi agar turun.
Dua orang itu belakangan diketahui sebagai anggota komunikasi elektronik yang memasang jammer untuk mengacak sinyal HP. Amrozi dkk telah pergi dan tidak akan kembali.


Antara foto (Yusran uccank)








Mahasiswa UMI Bentrok Lagi, 1 Kritis
Libatkan Fakultas Teknik dengan Mapala; Korban Luka Terkena Tebasan Parang dan Anak Panah; Korban Luka Tiga Orang; Polisi Amankan Pistol, Papporo, Parang, Badik, dan Senjata Lainnya

Makassar, Tribun - Dua kelompok mahasiswa di Universitas Muslim Indonesia (UMI) terlibat bentrok di kampus mereka, Jl Urip Sumoharjo, Makassar, Kamis (6/11) sore.
Bentrokan melibatkan mahasiswa fakultas teknik dengan mahasiswa yang tergabung di unik kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UMI.
Akibat bentrokan tersebut, seorang mahasiswa fakultas teknik, Fajrin (25), mengalami luka parah akibat terkena tebasan parang dan anak anak panah di bagian leher. Hingga tadi malam, korban masih kritis di Rumah Sakit Ibnu Sina.

Dua mahasiswa teknik lainnya, Al Gazali (22) dan Bombong (23), juga menderita luka akibat bentrokan tersebut dan dilarikan RS Ibnu Sina. Namun luka keduanya tak separah Fajrin.
Polisi masih menyelidiki kasus tersebut. Kapolresta Makassar Timur, AKBP Kamaruddin, yang datang ke lokasi mengatakan, polisi sudah menyita sejumlah senjata tajam dan senjata rakitan, termasuk dua pistol dan dua papporo, sudah diamankan polisi.
Sedangkan Pembantu Rektor III UMI, Mas'ud Sar Msc, mengatakan, pimpinan universitas sangat menyayangkan kasus yang disebutnya memalukan itu.
"UMI adalah tempat untuk menuntut ilmu, bukan ajang tawuran. Kami sangat kecewa dengan tindakan seperti ini,"kata Mas'ud.
Ini adalah tawuran kesekian yang melibatkan mahasiswa di Makassar. Tiga hari sebelumnya, dua kelompok mahasiswa Universitas 45 Makassar juga terlibat tawuran di kampus mereka.



Dipicu Pamlet
Informasi yang dihimpun di Kampus UMI menyebutkan, aksi tawuran dipicu oleh pemasangan pamflet yang dilakukan sekelompok anggota Mapala di kawasan fakultas teknik, Rabu (5/11).
Sekelompok mahasiswa fakultas teknik tidak menerima pemasangan spanduk tersebut sehingga jadi adu mulut. Namun aksi perkelahian masih bisa dilerai oleh petugas satpam kampus.
Namun keesokan harinya, tiba-tiba sekretariat Mapala yang terletak tidak jauh dari gedung fakultas teknik diserang oleh orang.
Versi seorang saksi, penyerangan dilakukan oleh Fajrin, Gazali, dan Bombong. Fajrin bahkan menghunus badik sambil mengejar anak-anak Mapala yang berhamburan.
Penyerangan terjadi di saat anggota Mapala sedang merayakan ulang tahun organisasi mereka. Puluhan anggota Mapalaberlari menyelamatkan diri hingga ke pintu gerbang UMI di Jl Urip Sumoharjo.
Namun setelah berkumpul di dekat gerbang kampus, giliran anggota Mapala yang berbalik menyerang Fajrin cs yang sudah berada di tengah Jl Urip Sumoharjo.
Karena jumlah yang tak seimbang, Fajri, Gazali, dan Bombong menjadi sasaran amukan anggota Mapala.



Fajrin pun tergeletak di atas aspal dengan luka parah di bagian leher belakang yang terkena tebasan parang dan bagian perut tertancap anak panah.
Sejumlah polisi dan staf kampus menolong korban yang saat itu masih memegang sebilah badik. Polisi kemudian mengamankan badik tersebut dan membawa korban ke RS Ibnu Sina.
Sedangkan Gazali dan Bombon yang juga terkena anak panah di bagian perut dan kepala masih kuat berjalan ke RS Ibnu Sina yang hanya dipisahkan jalan dengan kampus UMI.
Melihat kejadian tersebut, puluhan mahasiswa fakultas teknik menyerang sekretariat Mapala. Namun aksi tersebut tidak berlangsung lama karena ratusan polisi dari Polwiltabes Makassar dan Polresta Makassar Timur langsung membubarkan aksi tersebut.
Puluhan polisi patroli bermotor (patmor) juga masuk ke dalam Kampus UMI membubarkan aksi tersebut. Sejumlah kawasan di dekat sekretariat Mapala kemudian disisir polisi. Hasilnya, polisi menemukan puluhan senjata yang digunakan oleh kedua kelompok.
selain senjata api rakitan, polisi juga mengamankan belasan parang panjang, sebuah tongkat yang berisi besi tajam, satu panah yang terbuat dari bambu, empat anak panah dari besi, dan ketapel.
Saat sebelum insiden berdarah tersebut, puluhan polisi sudah berjaga- jaga depan kampus Universitas 45 yang tak jauh dari kampus UMI menyusul informasi yang menyebutkan tawuran kembali akan pecah di kampus tersebut.
Beberapa mahasiswa 45 juga sudah sempat saling lempar dalam skala kecil. Namun aksi tersebut berhasil dihalau petugas. Namun tanpa diduga tawuran justru terjadi di kampus UMI
Menurut Kapolsekta Panakukang AKP Satria, pihak kepolisian masih menyelidiki apa penyebab dan siapa pelaku dari tawuran ini, selain itu belum ada mahasiswa yang diamankan.

Dalam perjalanan hidup, cita-cita terbesar seorang anak kolong langit hanya ingin menuju kesempurnaan. Kadang mesti berjuang, serta belajar menyingkap segala rahasia dalam kehidupan di bawah kolong langit .
Perjalanan anak kolong langit menuju kesempurnaan adalah proses yang menentukan setiap tapak langkahnya. Setiap hembusan nafas, detik jantung, dari siang menuju malam. Semua menuju titik yang sama, “kesempurnaan”..
Setiap insan mempunyai hak yang sama atas waktu. Tidak ada seorangpun melebihi dari yang lain. Namun tak jarang setiap kita berbeda dalam menentukan sikapnya. Ada yang berjuang untuk melaluinya dengan membunuh waktu. Tidak pula sedikit yang merasakan sempitnya kesempatan.
Apa rahasia terbesar dalam hidup ini? Melewati hari ini dengan penuh makna. Makna tentang cinta, dan ilmu. Karena menurut anak klong langit dengan cinta hidup menjadi indah. Dan dengan engan ilmu hidup menjadi mudah.


Minggu, 02-11-2008
Sun TV Ramaikan TV Lokal
Makassar, Tribun - Satu lagi stasiun televisi hadir di Makassar. Sun TV akan ikut meramaikan TV lokal di Sulsel dan sekitarnya. Televisi yang diawaki sejumlah wartawan senior di Sulsel ini muncul lewat frekwensi 31.

Direktur PT Sun TV Makassar, Husain Abdullah, mengatakan, masyarakat bisa menikmati siaran Sun TV di Makassar, Parepare, Gowa, Pangkep, Barru, hingga Luwu Timur.

"Kehadiran Sun TV untuk ikut memberikan pendidikan, hiburan, dan nuansa baru bagi masyarakat," jelas Husain di Makassar, Sabtu (1/11). Dalam tayangan, Sun TV akan lebih fokus pada masalah politik, hukum, budaya, dan agama.

Beberapa wartawan televisi ikut bergabung dalam kru Sun TV. Mereka mendisain berita dan tayangan dari kantor yang terletak di Jl Urip Sumiharjo, Makassar. Wartawan yang tergabung kembali dilatih khusus untuk menyesuaikan dengan segmen dan kebijakan Sun TV.

"Tanyakan kami sebagian besar perkembangan lokal Sulsel dan sekitarnya," tegas Husain.

Gemuruh apakah yang aku dengar ini
Apakah ini deru perjuangan masa silam
di tanah periangan
Ataukah gaduh hidup yang rusuh
karena dikhianati dewa keadilan.
Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku
dibangunkan oleh mimpi
Apakah aku tersentak
Oleh satu isyarat kehidupan
Di dalam kesunyian malam
Aku menyeru-nyeru kamu Merah putihku..
Apakah yang terjadi ?
Merah putihku...
Lihatlah kenyataan disaat ini
Lihatlah apa adanya sekarang ini
Engkau tiada lagi menjadi pusaka seperti dulu
Rela bercucurkan darah untuk menjagamu selalu berkibar
Engkau tiada lagi keramat seperti awalmu
Rela meregangkan nyawa saat musuh mengancam kedaulatanmu
Saat ini telah berubah merah putihku
Engkau hanyalah penghias sepanjang lorong negeri ini
Engkau hanyalah tanda petunjuk saja saat ini
Merah putihku....
Sampai kapan engkau bertahan....
Dalam negeri yang penuh kedustaan akan kamu

Wahai kaum penindas..
Percayalah kelak senjata dan granatmu takkan berarti apa-apa..
Karena sebuah ikrar telah menggelembung didada..
Demi satu perjuangan tanpa henti..untuk sebuah kemerdekaan sebagai manusia
sesungguhnya..
Sedikit pergerakan merubah seluruh pergolakan
Sekedar menyatakan jiwa revolusioner
Segala daya upaya dikerahkan agar penindasan dihentikan
Seluruh jiwa, pikiran dan hati diserahkan agar manusia sadar...

Tahukah engkau apa itu takut
Sebab aku pernah melihatnya sekali.
Ketika orang-orang Tionghoa terbatuk-batuk
dengan kulit muka kian pucat
sambil mengemasi pakaian dan menggenggam harta benda
yang hampir hangus terbakar karena api kesenjangan membakar toko-tokonya
Tak bisa kusebutkan
Apa mereka nasionalis atau ekstrimis
Sebab semua istilah seketika menjelma menjadi senjata
Kalian tahu apa itu takut
Kalian pernah mendengar tentang ketakutan
Dan aku pernah melihatnya sekali.
Ketika mahasiswa terengah-engah kabur
menuju ke dalam kampusnya
dengan kening berdarah sambil mengusap-usap mata
yang perih dan mengingat-ingat ajaran dosennya
tentang bagaimana menghadapi panser tentara
yang begitu pendiam karena kehilangan mata hati
Syukurlah kita tahu apa itu takut!

Wartawan,bagiku merupakan sosok pahlawan yang menjadi guru bagi publik.Dari hasil kegiatan jurnalistik mereka, hitam dan putih kehidupan dunia ini dapat tersajikan dengan sempurna. Naas, masih banyak nasib wartawan di negeri berpenghuni ratusan juta jiwa ini tertatih-tatih dalam kubangan kemiskinan.
Tetap banyak pula jurnalis yang terpaksa nge-job menjadi tim media politik, guna menopang kehidupan keluarganya. Lihat saja, realitas dunia jurnalistik di negeri yang dilokomotifi duet kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla (SBY-JK) ini masih terseok-seok dalam era euforia.
Terhitung semenjak pasca-reformasi bergulir, kebebesan pers diakui mencapai puncaknya. Hampir tak ada lagi pembredelan surat kabar oleh pemerintah dengan dalih mengganggu kestabilitasan nasional. Sudah bukan eranya lagi, wartawan dituntut untuk selalu memberikan kabar baik seperti hasil pembangunan dan sebagainya. Tapi, kini telah berubah haluan seratus delapan puluh derajat. Justru wartawan masa kini dituntut selalu bersikap kritis.
Hanya saja pada era reformasi ini, muncul paham liberalisasi pers yang justru menodai misi suci dari keberadaan pers itu sendiri. Banyak jurnalis yang kehilangan kekuatan "ideologi kebertuhanan" akibat kian tergerus masuk dalam hedonisitas pers nasional. Justru permasalahan penting mengenai keselamatan nyawa wartawan-yang bekerja layaknya kerja seorang intelejen; selalu berada dalam ancaman. Ancaman ini bisa berupa alam dan ulah manusia sendiri. Terkhusus wartawan peliput dunia kriminalitas yang lebih banyak berkecimpung dalam dunia kriminal, pastilah kerap mendapatkan intimadasi baik pihak yang merasa terpojokkan.
Maka, bagiku dan mungkin bagi kalian wartawan adalah profesi yang serba-beresiko tinggi pada keselamatan nyawa.Kini baru terpikir, betapa pentingnya bekal ilmu keselamatan diri bagi para jurnalis kala melakukan kegiatan peliputan baik di darat, laut maupun udara. Dengan memberikan modal pelatihan serta skill yang berkaitan dengan upaya penyelamatan diri kala berada dalam situasi darurat itu, kiranya kuasa meminimalisir jatuhnya korban nyawa dari kalangan jurnalis kala bertugas.
Hanya yang menjadi kelemahan mentalitas publik, budaya bangsa ini kerap melupakan peristiwa sebelumnya.

KETAKUTAN terhadap kebebasan pers bukanlah omong kosong. Bahkan kebebasan pers kerap menjadi momok yang menakutkan. Menakutkan bagi pemegang kekuasaan. Mengapa? Karena lembaga pers juga dianggap memiliki sebuah “kekuasaan” tersendiri. Sehingga pekerja jurnalis dianggap dapat mengganggu dan membahayakan kekuasaan para penguasa.
Hal itu banyak pihak berupaya menguasai pers. Berbagai cara pun bisa ditempuh para penguasa. Misalnya memanggil pemimpin redaksi untuk 'mengendalikan' arah pemberitaan. Menelepon lembaga pers sambil meminta agar pemberitaan yang dianggap merugikan segera dicabut. Atau, mengancam lembaga pers dan wartawan secara fisik dan mental. Lebih parahnya lagi, adalah pembredelan kantor media massa. Gambaran kelam terhadap kebebasan pers itu sering menghantui para jurnalis di Tanah Air. Kebebasan pers merupakan perwujudan dari hak untuk memperoleh informasi dan menyatakan pendapat tanpa rasa takut, dan karena itu merupakan prasyarat mutlak bagi demokrasi modern yang sungguh beradab.
Pada dasarnya kebebasan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan rakyat dan menjadi unsur yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara secara demokratis.
Pertanyaan sekarang. Mengapa kebebasan pers masih sebatas angan-angan? Hal itu bisa terjadi karena penerapan hukum di negeri in masih belum berjalan sebagaimana diharapkan. Penerapan hukum yang tegas, tanpa pilih kasih,masih sebatas retorik belaka. Ini sangat berbahaya, karena negara bisa hancur karena lemahnya penegakan humum,apalagi kalau pers bisa dibungkam. Kondisi itulah yang terlihat dewasa ini.
Adalah fakta, meski berbagai kebebasan itu sudah diatur dalam perundang-undanga, namun gaungnya belum memasyarakat.Misalnya saja, Undang-undang Pers No.40.Tahun 1999 ternyata aparat penegak hukum masih banyak yang belum tahu.
Jangan tanya pada mereka pasal demi pasalnya. Mendengar sajapun mereka belum pernah. Sangat ironis! Bagi yang sudah tahu malah bersikap acuh, seakan undang-undang pers itu tidak valid. Kondisi itulah yang membuat mereka menolak menggunakan Undang-undang Pers dengan berbagai macam alasan.. Pers bahkan dituding sebagai pihak yang membuat undang-undanganya sendiri, membela korpsnya,sehingga kata mereka, sudah barang tentu undang-undang pers hanya menguntungkan komunitas pers bila terjadi delik pemberitaan.
Dengan realita dan pemahaman seperti itu wajar saja kalau berbagai kasus delik pers pada akhirnya diselesaikan menurut kehendak polisi, Jaksa, dan Hakim, yakni menggunakan KUH pidana, dan komunitas pers akhirnya satu persatu menjadi korban, masuk penjara, akibat pengebirian UU Pers oleh pihak luar.
Kondisi seperti itu sudah banyak terjadi, dan cukup menakutkan bag komunitas pers sekaligus mengancam kebebasan pers. Sangat ironis jika sebuah karya jurnalistik harus berakhir di terali besi.
Kebebasan pers bisa berjalan dengan baik jika semua pihak menyadari betapa mulia dan urgen fungsinya yang diemban para pekerja jurnalistik. Pers yang baik akan menerapkan manajemen profesional dalam menjalankan fungsinya dengan penuh tanggungjawab. Selalu kritis terhadap keadaan,selalu berpihak pada rakyat, terus meningkatkan kemampuannya dalam reporting.

Di Makassar, Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Inspektur Jenderal Polisi Sisno Adiwinoto mengancam akan mempidanakan media dan wartawan yang memperolok-olok citra para pejabat di Sulawesi Selatan. Sisno seperti dikutip Tribun Timur (20/5) juga meminta para pejabat yang merasa dirugikan agar melaporkan keberatan tersebut kepada aparat kepolisian untuk ditindaklanjuti. Sisno dalam hal ini, telah berupaya melakukan kriminalisasi terhadap Undang-Undang Pokok Pers. Sebuah gerakan, pembungkaman kebebasan dan daya kritis pers.
Berbagai kalangan memprotes pernyataan kapolda tersebut, Seperti dikutip di Oke Ozone, Wakil Ketua Dewan Pers Sabam Leo Batubara tidak setuju dengan pernyataan Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol Sisno Adiwinoto yang cenderung setuju memidanakan jurnalis.
Menurutnya, wartawan tidak bisa dipidanakan hanya karena mengkritik pemerintah, apalagi jika beritanya berimbang dan sudah ada cek dan ricek. Kecuali wartawan membuat berita untuk memeras dan sebagainya.
"Jadi, bukan karena dikritik lalu wartawan dipidanakan," tukasnya, Senin (19/5/2008).
Jika praktek kriminalisasi pers yang marak di era Orde Baru atau Orde Lama kembali dipraktekkan, kata Leo, hal itu akan merugikan masyarakat sendiri. Sebab institusi pemerintahan tidak akan terkontrol, dan akibatnya perilaku koruptif akan tak terkontrol juga.
Lebih lanjut Leo menyarankan agar Sisno datang ke dewan pers jika merasa dirugikan pers.
"Saya kira Pak Kapolda, kalau ada pers yang salah diadukan dulu ke dewan pers. Agar jelas salahnya apa dan bagaimana penyelesaiannya," ujarnya.
Kota Anging Mammiri" telanjur terstigma sebagai "kota terpanas" di negeri ini. Sedikit-sedikit terjadi bentrokan. Setiap aksi mahasiswa selalu berujung ricuh, selain tawuran antar fakultas. Demo warga juga berakhir kisruh, termasuk isu yang menjurus suku, ras, agama, dan antargolongan yang berkembang cepat.
Makassar ibarat menyimpan magma yang setiap saat siap membuncah dari perut bumi menjadi lahar panas. Setiap kali ada aksi unjuk rasa mahasiswa hampir bisa dipastikan berujung ricuh atau bentrok. Bukan saja dengan aparat kepolisian yang saat ini justru lebih menahan diri, tetapi juga dengan masyarakat sendiri.
Sisno mantan Kadiv Humas Mabes Polri itu ingin menghapus stigma tentang kota makassar
dan sulsel pada umumnya, " Niatnya baik" hanya saja caranya yang tidak benar, sisno pun mengancam mahasiswa dengan UU No 9 tahun 1998 tentang penyampaian pendapat hukum menjadi landasan hukum bagi peserta unjuk rasa dan polisi sehingga semua pihak harus taat kepada hukum yang mengatur unjuk rasa. Sejumlah aksi unjuk rasa mahasiswa dibubarkan paksa aparat kepolisian, dengan alasan mahasiswa tidak mengantongi izin dari polisi.
Tindakan tegas polisi itu tentunya mendapat perlawanan keras dari mahasiswa di makasar, mahasiswa pun makin berani melawan polisi dan hampir dua bulan Sisno adiwinoto menjabat sebagai kapolda di Sulsel, tercatat 15 kasus bentrokan mahasiswa dengan aparat kepolisian.
Sisno membanting setir, ia kemudian berusaha mengintervensi wartawan khususnya wartawan elektronik, Sisno bahkan berkali kali menuding wartawan sebagai dalang di balik aksi aksi anarkis yang terjadi di makassar. Saat ini hampir tiap hari terdengar di handy talky polisi, para kapolwil dan kapolres terus mengingatkan anggotanya di lapangan agar memantau gerakan wartawan, Sisno mengancam akan memenjarakan wartawan yang terbukti melakukan provokasi.
Sungguh malang nasibmu Sisno kamu berada di kota yang salah, ini Makassar Bung!!!
Jurnalis Makassar tidak bisa dibungkam dengan penjara atau bahkan kematian.
Apalagi hanya dengan sebuah ancaman!!!!

Aku masih sering melukis wajahmu pada langit malam
beberapa bintang yang mengembalikan angan ke masa itu
Dulu. Di kotaku ketika ku bersamamu, kita berlari diantara kerlip
menari sendiri nikmati bebas lepas di semesta.
Meski hati masih sama, meski kucoba sadari fana.
kumengerti tak ada yang abadi
dunia ini selalu berubah, begitupun hati.

Kota Makassar (dahulu daerah tingkat II berstatus kotamadya; dari 1971 hingga 1999 secara resmi dikenal sebagai Ujungpandang atau Ujung Pandang) adalah sebuah kotamadya dan sekaligus ibu kota provinsi Sulawesi Selatan. Kotamadya ini adalah kota terbesar di pada 5°8′ LS 119°25′ BT, di pesisir barat daya pulau Sulawesi, menghadap Selat Makassar. Makassar dikenal mempunyai Pantai Losari yang indah.
Makassar berbatasan Selat Makassar di sebelah barat, Kabupaten Pangkajene Kepulauan di sebelah utara, Kabupaten Maros di sebelah timur dan Kabupaten Gowa di sebelah selatan.
Kota ini termasuk kota kosmopolis, banyak suku bangsa tinggal di sini. Di kota ini ada suku Makassar,Bugis,Toraja dan Mandar.Di kota ini ada pula komunitas Tionghoa yang cukup besar. Makanan khas Makassar adalah coto Makassar, Roti Maros, Kue Tori', Palabutung,Pisang Ijo dan sop konro.
Makassar memiliki wilayah seluas 175,77 km² dan penduduk sebesar kurang lebih 1,25 juta jiwa.

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Setelah pemerintah menganggap dana APBN makin menipis, akhirnya mereka memutuskan menaikkan BBM.Pemerintah berencana menaikkannya pada awal juni 2008 mendatang sebesar 3o persen. Lagi-lagi menurut Kang SBY,memang berat harus mengambil keputusan menaikkan BBM, selain itu merupakan keputusan tidak populis juga akan memberatkan masyarakat kecil, tapi tidak ada cara lain katanya.
Sebagian masyarakat setuju dan sebagian lagi tidak setuju, tentu saja kelompok terbanyak adalah masyarakat yang bersikap apatis - hanya bisa mengeluh karena tidak dapat berbuat apa-apa.
"Sangat tidak masuk diakal sehat kita alasan yang dikemukakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM" mungkin seperti itulah yang dikemukakan salah seorang pengunjug di warung kopi daeng Anas Jalan pelita Makassar.
BBM merupakan kebutuhan vital masyarakat, sehingga berapapun Kenaikan harga BBM, tentunya akan mempengaruhi harga barang lainnya.
Bahkan beberapa hari lalu kalau tidak salah ingat hari Senin tgl (6/5) Sekelompok mahasiswa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar terlibat bentrok dengan polisi di depan kampus UIN, Jl Sultan Alauddin, Makassar.
Bentrokan itu dipicu oleh aksi demonstrasi mahasiswa yang menentang rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan diumumkan awal bulan Juni.Dalam peristiwa itu dua anggota polisi, termasuk seorang perwira, dan dua mahasiswa mengalami luka parah akibat insiden yang diwarnai perang batu tersebut. Sementara itu tujuh mahasiswa diamankan di Polres Makassar Timur.

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.
Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti "tradisi". Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/

Ini bukanlah dongeng abad dua puluhan bila ada kisah suatu negeri
belasan tahun dilanda pertumpahan darah
belasan tahun penghuninya tak pernah tidur
mereka tak henti berlarian kesana kemari
rumah, kebun, sawah, tambak, terlantar semua
Jangan tanya hari depan pada anak-anaknya
hari depan adalah senjata, darah, mayat-mayat
reruntuhan, kobaran api dan apa saja
yang mestinya tak patut mereka ucapkan
Jangan tanya apa mereka sedih atau menangis
pandanglah matanya yang menyimpan dendam
mereka warisi turun temurun
bertahun-tahun amarah bergemuruh di dadanya
bahkan hingga pertengahan tahun ini
luka mereka masih basah, dan hingga kini masih terasa
tak ada yang bisa menghapus rasa perih di dada
para anak anak di poso.
Jangan salahkan bila mereka menjadi anak rimba
kota dan rimba belantara sama saja
mereka lahir berlumur dendam dan amarah
Ini memang bukan dongeng.

Aku sekadar mampir di tempat ini Barangkali hanya untuk menumpang tidur
Mengulur mimpi sampai ujungnya.
Tak seorang pun mengerti
Apa yang sebetulnya kucari
Setelah berjalan sejauh ini
Kadang aku sendiri pun sangsi
rumah ini hanya kujadikan tempat
untuk melepas lelah setelah
seharian berjalan.

Gerimis mengguyur losari
Diantara Lalu-lalang kendaraan,
Diantara Riuh Rendah Suara Klakson
Sukmaku Tertancap..
Menyatu Dengan Suasana Gerimis Menjelang Senja di losari
Masih Seperti hari-hari sebelumnya losari lantunkan Sajak-sajak Senja
Sajak-sajak yang terdengar diantara desah lirih nafasku dan degup irama jantungku..
Di losari terguyur hujan
Di dermaga aku lentunkan Sajak-Sajak Tentang Senja
Hingga aku pun sadar, sebentar lagi senja menyapaku..

Sehari-hari pemirsa kita disodori berita kekerasan melalui media massa atau menyaksikan sendiri, serasa hidup kita berada di putaran lingkaran kekerasan yang tak berujung. Banyak orang mungkin tidak lagi khawatir ataupun cemas jika mengetahui adanya kekerasan.

Mahasiswa tawuran, membakar, merusak! Dulu dikatakan penyimpangan, kini hal itu menjadi fenomena biasa.

Mengapa orang jadi mudah melakukan tindakan kekerasan dan anarkis? Mungkin pelakunya merasa itulah penyelesaiannya. Misalnya, mahasiswa di Kendari berpandangan karena membela PKL makanya harus bertarung dengan polisi. Polisi berpandangan karena menjaga keamanan dan aturan sehingga harus menyerang mahasiswa.

Namun yang lebih memprihatinkan kemudian adalah jika kita para non-pelaku menjadi kebal dengan peristiwa kekerasan? Dan menjawab ”lagi-lagi mereka”, ”biar saja yang penting kita aman, damai”.


Apakah ini tipologi masyarakat kontemporer yang beradab? Dulu,sosiologis abad 18 membuat prediksi masyarakat yang akan datang sebagai masyarakat positif atau masyarakat rasional.

Pada masyarakat demikian masalah diselesaikan dengan logika bukan dengan otot dan kekerasan. Ternyata prediksi akademis itu kurang tepat. Kini rasio atau logika ilmiah jalan, otot dan kekerasan juga jalan.

Bisa jadi, jika kita terus-menerus membiarkan peristiwa kekerasan yang hadir di depan kita tanpa rasa prihatin, ataupun konsen terhadapnya. Lama-lama kita menjadi permisif, atau membiarkan itu terjadi apa adanya. Dan karenanya kita juga sama sebagai pelaku.

Saya sebagai kontributor televisi boleh dikata hampir tiap minggu meliput kasus kekerasan, terkadang merasa berdosa karena berita saya dapat membodohi masyarakat, meniru para pelaku tindak kekerasan. Terlebih sejumlah wartawan bahkan saya seringkali terlibat untuk memprovokasi warga, pengunjuk rasa bahkan pelajar untuk melakukan tindakan kekerasa agar liputanku bisa ditayangkan.

Meski kami tahu itu hal yang meyimpang, kalau tidak demikian maka berita dari daerah hanya tertahan di meja korda, produser sama sekali tidak melir
ik berita kami. Mungkin para produser anggap peristiwa kekerasan itu menarik untuk diberitakan dan dapat mengangkat rating. " klo tidak ricuh, berita kita tidak dipakai. JAdi apa salahnya kalau kita ajari mereka untuk bertindak anarkis agar gambar mereka bisa ditayangkan" kata salah seorang temanku yang juga seorang kontributor teve swasta.

Namun, di sisi lain bagiku media saat ini telah membodohi masyarakat.Dewasa ini, media audio, visual, dan cetak, menyusupkan berbagai macam tindak kekerasan dalam sajian mereka. Dulu, masyarakat dapat menyaksikan kekerasan hanya jika mereka ada di sekitar lokasi kejadian. Namun saat ini, siapa pun dapat menyaksikan tindak kekerasan dalam tayangan televisi.

Sejumlah hipotesis telah diajukan sehubungan kemungkinan dampak tayangan kekerasan di televisi pada perilaku manusia. Salah satunya, hipotesis katarsis, yang menyatakan bahwa menyaksikan tayangan kekerasan di televisi menyebabkan dorongan agresif melalui ekspresi perilaku bermusuhan yang dialami orang lain. Hipotesis rangsangan memprediksikan bahwa menyaksikan tayangan kekerasan menyebabkan peningkatan dalam perilaku agresif. Termasuk kategori ini, hipotesis menirukan atau mencontoh, yang menyatakan orang mempelajari perilaku agesif dari televisi dan kemudian mereproduksi perilaku itu. Jika hipotesis kehilangan kendali diri benar, maka tayangan kekerasan di televisi mungkin mengajarkan norma umum bahwa kekerasan adalah cara yang dapat diterima untuk berhubungan dengan orang lain.

Patah satu tumbuh seribu, mungkin ini adalah pepatah yang sudah sangat akrab ditelinga kita semua. Dan sudah sangat sering kita dengan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi sayangnya tidak banyak dari kita yang dapat merealisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama dalam perihal mencari jodoh.

Banyak diantara kita yang selalu larut dalam kegagalan dan kesedihan yang berkepanjangan, (mungkin aku juga). Padahal, diluar sana masih banyak wanita lain yang mungkin adalah jodoh kita.

Mengapa kita harus berdiam diri? Apa karena kita patah hati? Jika benar, itu berarti salah kita sendiri siapa suruh menempatkan cinta ditempat yang salah.

Tidak ada alasan bagi kita untuk berdiam diri apalagi mundur dalam mencari jodoh. Karena waktu dan umur akan terus bertambah bukan berkurang. Pahami hal itu! Jika umur terus bertambah tua dan sudah tidak ”laku” lagi maka ini semua adalah salah kita sendiri. Karena kita hanya duduk dan termenung dalam khayalan serta menangisi kekasih yang bukan jodoh kita.

Kegagalan demi kegagalan itu adalah sebuah proses untuk mencapai kesuksesan. Tidak ada orang yang sukses tanpa kegagalan.

Aku, si anak yang tak pintar mengabdi ini hanya bisa bermunajat di malam remang. Dalam bintang yang bercahaya layaknya mata malaikat yang indah. Ditemani sinar rembulan yang hangat.

Aku, ayah. Yang membawamu terus bersimbah dalam peluh dan darah yang mengalir dari kening dan jidatmu. Akulah orangnya yang paling bertanggung jawab akan semua ini ayah.

Ayah. Andaikata engkau tua nanti. Tak sedetikpun kupindahkan pandanganku dari mu . Ku ingin mengganti posisi dalam merawat dirimu yang telah renta. Tidak oleh istri ataupun adik-adikku. Tidak ayah! Tapi akulah yang akan merawatmu dengan tangan hina ini. Aku si sulung yang selalu merepotkanmu.

Aku bukan seorang jurnalis yang pandai dalam memainkan sejuta kata
dan melulu dalam argumentasi tawa pembenaran.
Bisa menulis saja saya cukup puas, tapi dibalik setiap rentetan kegelisahan
tentang apa yang sedang saya tulis adalah pesan yang akan di kenang dan dinilai
untuk pembaca atau mungkin di aplikasikan.
Saya bukanlah seorang jurnalis yang piawai dalam memainkan sejuta kata dan saya tidak tahu berapa banyak kode etik yang saya langgar dalam gaya bahasa dan tulisanku.
Saya mencoba menjadi seorang idealis yang masa bodoh dengan pendapat orang lain yang mencoba mengusik alam pikiran liar saya.

"Fatamorgana" aku mengenal kata ini ketika duduk di bangku sekolah dasar, itu pun sudah masa-masa akhir.
Fatamorgana. Sebuah kata yang semula cukup asing di telingaku, telinga anak-anak. Namun setelah mengenal kata itu, dengan mudah aku mengingatnya. Mungkin karena aku sangat menyukai kata itu. Bahkan, lambat laun malah jadi sebuah kata favoritku sekaligus sebuah kata yang penuh teka-teki.

Ketika itu guruku mejelaskan istilah "fatamorgana", ia memberi contoh berupa genangan air yang seolah-olah terlihat di atas aspal yang terpanggang terik matahari. Ketika itu, satu yang ada di benakku, aku ingin membuktikan sendiri. Wajar, aku belum begitu percaya dengan keterangan guruku. Tapi setelah aku melihatnya sepulang sekolah pada suatu siang yang teramat panas aku baru percaya.

Hmm.. akhirnya aku percaya, ternyata guruku itu benar. Fatamorgana itu ada, meskipun akhirnya aku mesti kecewa karena begitu kudekati, genangan air itu lenyap. Tapi pengalaman itu bukannya membuatku puas, melainkan malah kian membuatku penasaran.

Beberapa tahun terakhir ini aku hampir saja melupakan peristiwa itu, saat kali pertama aku melihat fatamorgana itu. Untunglah, suatu ketika aku kembali diingatkan pada peristiwa itu, yaitu ketika aku mulai menyukai salah seorang temanku.
Mungkin aku jatuh cinta, saat itulah kembali kulihat fatamorgana di wajah teman ku itu.

Aku jadi ingin tertawa jika teringat bahwa telah puluhan kali aku jatuh cinta, geli rasanya pasalnya, cintaku selalu kandas di tengah jalan hanya karena orang yang kucintai sebenarnya aku lebih suka menyebut mereka "pacar" tak pernah bisa memberi jawaban yang memuaskan, ketika kutanya apa arti cinta. Jadi, jangan heran, jika kemarin kutanyakan kepadamu arti cinta. Itu artinya aku telah jatuh cinta kepadamu.....

Mungkin sekadar buat alasan agar kau lebih percaya bahwa tak ada niatan apa pun mengapa kutanyakan cinta padamu, karena hari ini tak kulihat dia dimatamu. Yah, aku tak melihat cinta di matamu. Ke mana gerangan dia? Meninggalkanmukah? Semoga tidak! Semoga ini hanya fatamorgana.

Fatamorgana, lagi-lagi fatamorgana!

Mungkin aku sudah tidak akan sanggup lagi
menanti untuk menulis sesuatu hal yang tak berguna lebih banyak lagi
pada setiap saat, waktu kita terlahir mengetuk-ngetuk rahim keindahan
itu.

Barangkali aku sudah akan hangus oleh penantian ini!
bintang bintang yang berpijar dalam kenangan,
hanya saja barangkali aku sudah tidak akan sanggup lagi
menanti sebuah jawaban. Barangkali????

Dan seandainya mungkin masih bisa menunggu,
aku akan tuntun kamu pada jarak
yang terpendek, kita akan peras semua pengertian
pada langit, pemahaman dan kecintaan kita ke pada
sinar bulan atau bintang yang jatuh ke sebelah bukit,
akan kulihat apakah ada rasa cinta yang lebih dari itu.

Kebenaran hanya semboyan dan kita takut membayangkan suatu hari
kelak ia benar-benar datang bagai iklan-iklan tv itu
yang selalu membuat kita terperangkap.

Barangkali kita sebenarnya tidak butuh apa-apa kecuali
menyusun langit itu kembali, memberinya sekadar warna,
menjadi langit yang sesungguhnya. berbicara kembali
kepada burung-burung, kepada pucuk-pucuk pohon tanpa pengeras suara.

Bagiku ini tragedi kemanusiaan.......
Tragis memang seorang ibu hamil dan anaknya, mati kelaparan di lumbung pangan.
Banyak pihak yang terhentak dengan headline berita ini di koran-koran dan televisi.
Aku saja yang berada di rumah duka saat Basse dan Bahir anaknya dikabarkan meninggal karena kelaparan, masih
merasa tidak percaya, di ibu kota propinsi yang hampir tiap tahun surplus beras ini masih ada orang mati karena kelaparan.

Untuk sejenak bahkan saya merasa tak ada gunanya segala teori pembangunan yang kita pelajari dan kita anut, tak ada gunanya target pembangunan dicanangkan dengan menghabiskan begitu banyak porsi APBN dan APBD, bahkan tak ada gunanya pula segala bentuk berdemokrasi lengkap dengan tetek bengek Pemilu, Pilkada, atau apapun namanya, sementara disisi lain ada rakyat mati karena tidak makan.

Saya paham tidak ada yang ingin disalahkan dalam tragedi ini, tidak si korban, tidak tetangganya (karena dicap tidak memperhatikan sesama tetangganya, yang boleh jadi sama laparnya), tidak pula pemerintah (yang berdalih bahwa korban mati karena diare, bukan kelaparan, meski memang diare itu dapat disebabkan malnutrisi yang dipicu kelaparan juga). Jadi cukuplah pertikaian diplomatis diatas derita rakyat ini.Sungguh sangat memalukan!

Cukup, cukup! Cukuplah semua ini… Untuk sekian kalinya, kotaku jadi sorotan. Masalah pilkada yang harus diulang karena MA melakukan ultra petita atas tuntutan pihak Asmara yang tak dapat menerima kenyataan telah kalah dalam pilkada, masalah tawuran mahasiswa di UNHAS, dan kini kelaparan di lumbung pangan sendiri, ibarat tikus mati di lumbung padi !!!!

Cinta datang laksana air yang menetes dan jatuh diatas bebatuan ,hingga batu itu akan terkikis bersama sang waktu ...berserak bagai pecahan bintang...
Ia bagai ilham dari langit yang menerobos dan bersemayam
dalam jiwa Mahadewa dan Mahadewi lalu masuk kesanubari tanpa di undang..
Begitulah cinta yang kau bawa kepadaku, dan kini hatiku telah hancur....

Sudah menjadi TRADISI",hampir setiap tahun kampus Universitas Hasanuddin pasti dinodai oleh saling adu jotos dan keroyokan antar fakultas. Seakan mengiyakan ungkapan "History repeats itself".Sayang sekali bahwa sejarah yang terulang itu hanyalah sejarah-sejarah yang jauh dari moral-moral kemanusiaan masyarakat berpendidikan. Mereka mengikuti ego sendiri dan membela harga diri yang salah kaprah. Maka wajar kalau tukang becak di tiap sudut kota makassar, hanya bisa membelalakkan bola mata sambil berujar,"Mahasiswanya saja seperti ini, bagaimana setelah menjadi pemimpin-pemimpin kelak?" Selasa siang kemarin (26/2), mahasiswa Fakultas Teknik dan FISIP kembali mempertunjukkan kebolehannya. Akibatnya, belasan mahasiswa pun luka terkena lemparan batu. Ruang perkuliahan pun rusak terkena lemparan. Sejarah juga sudah membuktikan bahwa dua fakultas ini memang merupakan pemegang rekor tertinggi adu keroyokan dan bakar-bakaran. Para mahasiswa, sering dengan pongah menceritakan kepada kawan atau keluarganya, tentang betapa hebatnya mereka saat melakukan tawuran. Bagiku itulah tanda bahwa si mahasiswa telah sukses menerima kekerasan dan kini menjadi seorang pendukung kekerasan. Tanpa disadarinya, mahasiswa sebenarnya telah mengidap sebuah penyakit kejiwaan. Gejala ini seperti yang dikatakan Sigmund Freud mengenai pengidap paranoia narsissistik yang semula memiliki kecenderungan primer merasa dirinya teraniaya, menarik kesimpulan bahwa dia pasti orang yang penting, karenanya mengembangkan khayalan akan kehebatan dirinya. "Seleksi alam" dari tindak kekerasan itu kemudian menghasilkan individu dengan tingkat kebiadaban yang tinggi, seseorang yang mungkin dengan mudah disebut sebagai preman. Sementara masa depan preman dalam lingkungan yang terlanjur dikuasai oleh kekerasan, sungguhlah amat cerah. Walau sedikit menggelikan, seringkali dengan susah payah masih ada yang mengatakan bahwa mahasiswa Unhas adalah intelektual muda. Tapi bila melihat perilaku mereka, serta membandingkannya dengan apa yang orang pintar rumuskan tentang intelektul, tampaknya sangat keliru. Itu berarti ada kesalahan yang berulang-ulang dilakukan pimpinan Unhas. Pada kasus ini, ungkapan bahwa hanya keledai yang melakukan dua kali kesalahan yang sama, akan membuat keledai mencibir ke arah manusia. Kenyataannya, manusialah yang selalu membuat kesalahan yang sama.

Bagi kedua anakmu kamu adalah gua pertapaan,
dan kamulah yang meletakkan mereka di sana
saat bunga kembang menyerbak bau sayang ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi mereka akan mengangguk meskipun kurang mengerti bila kasihmu ibarat samudra sempit lautan teduh tempat mereka mandi, mencuci lumut pada diri dan tempat mereka berlayar,menebar pukat dan melempar sauhlokan-lokan,mutiara dan kembang laut semua untuk mereka. Kuyakin kalau mereka ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan namamu winda,winda dan winda, yang akan mereka sebut paling dahulu
lantaran mereka tahu engkau ibunya, pahlawan dalam kehidupan mereka.
Bagi kedua peri kecilmu itu, engkaulah bidadari yang berselendang bianglala...........

Bagaimana harus aku tepis kesedihan ini,
apa harus ku lakukan untuk lari melepaskan diri dari kepedihan ini
apa harus ku lakukan untuk menolak segala kesakitan ini
mengapa segala pertanyaan tiada jawaban
mengapa tiada yang mengerti hati ini
mengapa mereka tidak mengerti diri ini
terlalu sulit kah utk menyelami dasar hati ini
terlalu dalam kah jiwa ini untuk di mengerti
atau mungkin hanya aku yg tahu siapa diri ku ???

Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus menerus. Yang dilakukan para pecinta sejati disini adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan karena perasaan cinta yang bersemi di dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang dilahirkan oleh perasaan cinta itu.


PERMISI…PERMISI…MAU PAMIIIIT..PERMISI….
HALLO TEMAN TEMAN KU SAYAAAANG…
TEMAN TEMANKU YANG BAIK…
TEMAN TEMANKU YANG PENUH SEMANGAT JUANG…..
NGGA TERASA YAH…SETAHUN SUDAH SAYA BERJALAN BERIRINGAN SAMA TEMEN TEMEN…
SEPERTI NYA INILAH SAAT NYA SAYA HARUS
BILANG…KALAU SAYA AKAN PAMIT BERGESER….DAN TIDAK LAGI BERJALAN MENDAMPINGI TEMAN TEMAN….

TERHITUNG MULAI TANGGAL 28 JAN BESOK…SAYA
KEMBALI BERGABUNG DENGAN TEMAN TEMAN DI INFOTEINMENT…
WALAUPUN SAYA MASIH SENANG BERJALAN BERSAMA TEMEN TEMEN DI POSISI SAYA SEKARANG….MASIH BERSEDIA MENDENGAR CURHAT TEMEN TEMEN….MASIH SENENG MENDENGAR BERBAGAI LOGAT YANG BERBEDA BEDA DARI SABANG SAMPAI MERAUKE…..TAPI ADA BEBAN TUGAS YANG MENUNGGU SAYA ESOK DAN YANG HARUS DI SELESAIKAN

TEMEN TEMEN….SAATNYA NANTI AKAN ADA TEMEN KITA SORAYA YANG AKAN MENGGANTIKAN POSISI SAYA UNTUK BERJALAN BERSAMA TEMEN TEMEN…..MASIH DENGAN OM GUN….(PANGGILAN MESRA GUE UNTUK BOS GUE YANG SATU ITU)

OH IYA ….KITA MASIH DEKET BANGET LOOOH CUMA GESER SEDIKIT AJA...
DAN SAYA MASIH BISA MINTA TOLONG KAN YAAAA…
BIASA LAAAAAAH … KAN NAMANYA JUGA ARTIS…..SUKANYA MENCLOK SANA MENCLOK SINI….NAH NANTI KALAU ADA ARTIS YANG LAGI MENCLOK DI DAERAH TEMEN TEMEN ..YAAA…MINTA TOLONG INFORMASINYA YAAA….

OKE SAMPAI DISINI DULU YAH ..KELUH KESAH GUE …UNTUK SRIKANDI SRIKANDI GUE…..WINDA, VIONA, ALIN…TETAP SEMANGAT…KITA MASIH TETAP BISA BERGOSIP RIA LOOOOH….

TERAKHIR…SAYA UCAPKAN BANYAAAAAAAAAK BANYAK TERIMAKASIH ATAS KERJASAMA TEMEN TEMEN DI SELURUH PELOSOK DAERAH..YANG TANPA LELAH DAN TAK KENAL WAKTU …UNTUK TETAP BERKIBARNYA GLOBAL TV KITA…..

INSYAALLAH SIAPA TAU KELAK KITA BISA BERJALAN BERSAMA LAGI…..
…..(KALAU MAU CURHAT GW MASIH MENDENGAR LOOH…..)

SEKALI LAGI TERIMA KASIH ATAS KONTRIBUSI TEMAN TEMAN ATAS TETAP BERKIBARNYA GLOBALTV…DAN MEMBERIKAN KEPERCAYAAN KEPADA SAYA...
PENGHARGAAN YANG TIDAK TERNILAI UNTUK SEMUA KERINGAT TEMEN TEMEN, UNTUK TETAP MEMPERTAHANKAN KIBARAN BENDERA GLOBALTV DI DAERAH...

KALAU KATA TEMAN SAYA …YANG SEKALIGUS ADIK SAYA….JUGA SAUDARA SAYA...DIUJUNG SANA ..TEMAN TEMAN SAMPAI BERDARAH DARAH DALAM MENGEJAR BERITA…AGAR TIDAK KALAH SAING DAN TIDAK KALAH GENGSI…SUPAYA GLOBALTV JUGA GA KALAH KETINGGALAN TAYANGAN BERITANYA……OKE ITU BENER BANGEET…..

UNTUK SEMUANYA SEKALI LAGI SAYA UCAPKAN TERIMA KASIH..ATAS KERJASAMA NYA SELAMA INI……DAN DOAKAN SAYA BISA MENGEMBAN TUGAS SAYA….

SALAM …..UNTUK SABANG SAMPAI MERAUKE……DITUNGGU INFORMASI SELEBRITINYA….


SEMOGA SEMUANYA MEMBAWA KEBAIKAN
WASALAM

IPET


Tulisan di atas postingan Ipet "gila" kordaku, di milis globalv saat tahu kalau dia akan dipindahkan jadi korlip infotaiment. Aku tahu benar dia berat tinggalkan para prajuritnya yang tersebar di seantoro nusantara ini. Tapi apa lacur bos di globaltv tidak paham dengan keinginan para prajurit daerah, yang masih sangat membutuhkan Ipet menuntun jalan para kontrikbutor yang kian hari makin tersesat.. hahahahahahaha.....

Sukses selalu Bunda ipet.... Hidup Antang!!!!!!!!

Tak tahu pertama kali dia datang. Yang jelas saat ini dia masih ada, memang dia bukanlah senjaku tapi entah kenapa hingga saat ini keberadaannya mampu meluluhkan hatiku.Sosok tegar mungkin saja melebihi seorang Frida kahlo.
Melihatnya seperti itu akupun seperti tersihir. Semangatku kini melecut. Aku kembali tegak."Aneh. Aku rasakan sesuatu yang aneh", katakuBersama kami telah melewati sebuah perjalanan waktu dan hingga saat inipun seperti itu. Berjalan mencari sesuatu, sebuah arti kehidupan lewat jalan yang sama untuk saat ini.
Saat ini jalanya sama tapi aku tak tahu tujuan yang ingin dicapai senja ku. Jika suatu saat ternyata tujuan kita sama aku akan tersenyum dan memberikan yang terbaik untuknya tapi jika ternyata tujuannya tak seperti yang kukira aku akan tetap tersenyum dan berterima kasih karena telah menemaniku dalam penggalan perjalanan kehidupanku.

Sebagai manusia biasa tentu saya sering terperangkap dalam labirin kejenuhan. Labirin yang penuh liku dan tak tahu pintu keluarnya dimana. Saya berusaha lari terus menyusuri lorong labirin yang penuh persimpangan jalan. Seolah memberi pilihan kepada saya mau lari kemana toh sama saja semua akan kembali ke jalan yang sama.
Dalam kondisi seperti itu, saya sengaja menabrakkan diri ke setiap dinding labirin. Dalam imajinasi saya ini hanyalah sebuah ilusi dan rutinitas yang menyeret alam sadar saya hingga terjebak dalam sequence serba ‘by default’.

Lembaga penegak hukum di sulawesi selatan kembali tercoreng. Siang tadi, Senin (7/1/08) di kotaku Puluhan mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Lembaga Anti Kekerasan, terlibat aksi saling kejar dengan pegawai Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, saat mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa menuntut Kejati Sulsel berpartisiapsi aktif dalam agenda reformasi peradilan.
Kericuhan itu berawal setelah puluhan mahasiswa tersebut tidak diperbolehkan memasuki kantor Kejati Sulsel di Jalan Urip Sumoharjo, Makassar.
Mahasiswapun mencoba untuk memasuki kantor kejati dengan menendang dan mambakar ban bekas di depan pintu gerbang. Entah mengapa, tiba-tiba puluhan pegawai kejati berlarian ke arah pintu gerbang.
Setelah pintu gerbang kejati dibuka salah seorang petugas, puluhan pegawai ini langsung mengejar mahasiswa. Aksi saling lempar batu dan kayu terjadi di antar ke dua kubu. Mahasiswapun berlari ke arah kampus Universitas 45 yang berjarak hanya 200 meter dari lokasi kejadian.

Puluhan mahasiswa yang emosi ini tentunya kembali akan melakukan pembalasan.

Hmm, beginikah wajah wajah para penegak hukum di negeri kita? Menurutku mereka tidak ada bedanya dengan preman yang ada di tiap sudut kota makassar. Bahkan, mereka lebih tidak berarti dengan preman-preman jalanan, dan tidak pantas menyandang predikat sebagai penegak hukum.

Hasrul

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget