Hasrul Hasan

Reka Cipta Dalam Perspektif Kreativiti

728x90
12/07

Hari ini tepat tanggal 22 Desember, dimana orang-orang tetap melakukan aktivitas seperti biasa, tidak ada yang spesial. Adalah aku yang merasa berbeda. Hari ini adalah hari yang membawaku ke umur dua puluh lima tahun. Suatu tingkat pencapaian kedewasaan bagiku.
Aku merasa belum sanggup memikul umur ini karena banyak yang terlewat dibelakangku. Tapi, waktu terus bejalan maju. Hanyalah mimpi yang dapat terulang dan kembali.Aku merayakan hari istimewa ini sendirian. Tanpa ada yang menemani.
Ku hanya menunggu tetes rintik hujan
Menjelajah ruang arti sebuah catatan
Kisah kisah sepanjang perjalanan
dan anginpun meratap sembari berbisik padaku
awan itu laksana jiwamu
langit biru adalah payungmu
cakrawala lembayung adalah penjagamu
hari ini adalah harimu...
malam ini adalah punyamu..
detik ini adalah milikmu ....
...ulang tahun mu...

Mendengar nama Karampuang bagi sebagian besar masyarakat Sulawesi Selatan bukanlah hal aneh. Nama Karampuang ditemukan dihampir seluruh daerah termasuk di Kota Makassar. Namun Karampuang yang memiliki rumah adat serta peninggalan Arkeologi yang beraneka macam hanya di Karampuang yang terdapat di Kabupaten Sinjai. Keunikan budaya Karampuang yang cenderung matrealistik diawali pada sebuah peristiwa besar yang terjadi di Karampuang yang merupakan peristiwa yang mengawali rentetan peristiwa berikutnya. Peristiwa besar serta simbol yang terkandung pada keunikan budayanya semuanya tertulis pada Lontarak Karampuang yang disakralkan pendukungnya. Dikisahkan dalam Lontarak Karampuang bahwa pada jaman dahulu kala tatkala bumi ini masih dikelilingi oleh air, Karampuang dan sekitarnya tidak digenangi oleh air yang disebut dengan Cimbo.
Makna kata "Cimbo" ini ialah wilayah bagaikan tempurung yang menyembul seperti tempurung kelapa di tengah genangan air. Di tengah cimbo inilah yang kelak ditemukan seorang yang tak dikenal yang akhirnya diberi gelar "Manurunge Ri Karampulue" yang artinya seorang yang karena hadirnya membuat seluruh warga merinding atau berdiri bulu romanya.
Penamaan Karampulue kemudian berubah nama dan lebih dikenal dengan Karampuang. Setelah Manurunge ri Karampulue lama menetap dan memimpin warganya tiba-tiba ia berpesan "eloka tuo tea, mate eloka madeceng tea maja''. Kata-kata ini adalah wasiat agar senantiasa memelihara segala tradisi yang diwariskan kepada mereka. Wasiat ini juga untuk kemaslhatan warga Karampuang. Setelah berpesan maka dia tertidur dan lama kelaman menghilang dan tiba-tiba muncul lagi tujuh orang "To manurung baru yang disebut Manurung Pitue". Mereka ini dikirim untuk menjadi raja baru pada cimbo-cimbo baru setelah air surut sebanyak tujuh kali. Adapun tempat yang dituju adalah Ellung Mangere, Bonglangi, Bontona Barue, Carimba, Lante, Amuru, Tessese. Sementara yang tinggal di Karampuang adalah seorang wanita yang diyakini merupakan jelmaan dari Manurunge ri Karampulue tadi.
Ini menandakan rumah adat Karampuang dilambangkan dengan wanita sedangkan saudaranya yang lain adalah laki-laki sehingga diungkapkan sebagai "Lao cimbonna, monro capengna". Pada saat keenam saudaranya hendak pergi menempati wilayah baru sekaligus menjadi raja, saudara wanitanya berpesan: Nonnono makaake lembang Numalappo kualinnrungi Numatanre kuaccinaun Mukkelo kuakkelori Ualai lisu, yang bermaksud bahwa silahkan pergi menjadi raja ditempat lain, namun kebesaran kerajaanmu kelak harus mampu melindungi Karampuang. Raihlah kehormatan itu akan turut menaungi kehormatan leluhurmu. Meskipun demikian segala kehendakmu haruslah atas kehendakku jua, apabila segala kebesaran dan kehormatan itu tidak aku ambil kembali. Setelah keenam saudaranya itu menjadi raja maka mereka membentuk masing-masing dua gella baru sehingga terciptalah 12 gella selain karampuang sebagai induk yakni Bulu, Bicu, Sulewatang, Salohe, Satengnga, Pangepenna Satengnga yang hingga saat ini menjadi pendukung utama budaya karampuang.

Aku rindukan manusia yang berjiwa mulia!
Aku rindukan manusia yang berjiwa pembela kebajikan manusia dan kesejahteraan masyarakat tanpa mengutamakan keuntungan diri mereka sendiri!

Aku rindukan manusia yang berhati dan berjiwa luhur!
Aku ingin bersahabat dengan mereka semua demi untuk berusaha bersama dengan mereka kearah kebaikkan, keselamatan, kesejahteraan hidup
untuk manusia di dunia ini..

Sebab itulah aku mengkritik!
Sebab itulah aku menulis!

Melawan arus perubahan Menahan tiupan angin
Melawan derasnya sungai Menahan hantaman gelombang
Menuai mimpi-mimpi yang tertunda
Merealisasi janji-janji kehidupan
Sedikit pergerakan merubah seluruh pergolakan
Sekedar menyatakan jiwa revolusioner


Segala daya upaya dikerahkan agar penindasan dihentikan
Seluruh jiwa, pikiran dan hati diserahkan agar mereka sadar..


Tidak, dia bukan pengecut,

bagi-ku dia malah sangat berani,

berani mengambil keputusan yang mungkin

adalah salah satu keputusan terberat dalam hidup-nya,

di-mana di satu sisi, dia sangat mencintai rekan rekannya di tempat-nya mengabdi selama ini, memberikan mereka setitik kebahagiaan, dan di satu sisi lagi dia menjadi korban ke-munafik-an manusia-manusia yang tidak ber-tanggung jawab.


Dia pernah bilang:

“Aku masih punya harga diri, dan aku memilih untuk keluar dari sini sebelum di-usir oleh mereka. Ya, kalau memang mereka punya otak dan punya moral, tapi alangkah sakit-nya ketika mereka ternyata hanya beda tipis dengan binatang, yang tidak punya hati, bukan untuk-ku, tapi untuk mereka,teman teman kita yang masih butuh perhatian”

Pernahkah rasakan kecut daun tembakau dalam rokokku?
mungkin dia akan memberitahumu gerak pikirku satu persatu atau bisa jadi asap putihnya akan memecah di ujung hidungmu singgah sejenak, sebelum angin menjemputnya untuk menyatu.
Pernahkah rasakan pahit kafein dalam kopiku?
setitik gula kutambahkan, sejumput rasa manis mengusap lidah muterbersitkah sedikit dalam hati mu secercah saja tarikan bibirmu menjadi anugerah?
kalau saja rokokku, kopiku, menyisipkan pesan yang dapat kau tangkap dengan hatimu kenapa justru tak pernah ada percaya bagi mulutku?

ataukah… aku kembali harus diam dan bisu?????????????

Malam ini awal musim penghujan non. kotaku terguyur tetes-tetes air dari langit itu, indah sekali. Kebun-kebun itu mulai tampak hidup, bunganya mulai bermekaran indah. Begitu juga dengan kamboja di sudut jendala ini, mulai mekar dan berkisah tentang harinya.

Halaman-halaman rumput itu begitu segar dan mempunyai essense sendiri dari basahnya, entahlah non tapi lebih wangi dari parfum manapun yang kukenal, parfummu bahkan. Walau aku kini mulai lupa wangi parfum itu, senyummu bahkan aku mulai lupa.
Sebenarnya ingin sekali mengingatnya, membauinya walau engkau sejauh pulu….han kali rasi bimasakti. Buku di tanganku ini belum lagi habis kubaca, saat tetes terakhir kopi hangat meresap dilidahku, yang kerap kelu saat berbicara denganmu.
Malam ini aku menikmati seperti biasanya di sofa rumah ini. Hanya beberapa langkah dari tempatmu menjemput senja, pulang dengan langkah lunglai atau tawa renyah karena sudah habis waktumu hari ini berkutat dengan segala angka.
Kadang di musim-musim seperti ini aku berharap kembali lagi melihat pelangi, pelangi dalam artian sesungguhnya.
Benda setengah lingkaran yang warnanya seindah kosong matamu. Namun pelangi itu tak jua tiba, bahkan hanya untuk mengkonfirmasi kedatangannya lewat sms atau sambungan jarak jauh. Kurasa engkau juga telah memakan pelangi itu, seperti engkau makan bulanku. tapi tak apa, aku lebih suka kau memakannya. Bagaimana kabarmu disana ? bagaimana dirimu sekarang ?

Hasrul

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget