Hasrul Hasan

Reka Cipta Dalam Perspektif Kreativiti

728x90

Api dipantik dari tanah runtuh

Ini kisah tentang Tanah Runtuh. Sebuah kawasan di Kelurahan Gebang Rejo, Poso Kota. Dulunya dikenal sebagai PAM, lantaran di situ berdiri perusahaan air minum daerah. Suku yang mendiami begitu heterogen. Ada banyak suku di sana. Mulai Bugis, suku Asli Poso sampai Jawa dan Sunda. Senin, 22 Januari 2007. Belum lama fajar menyingsing. Waktu masih menunjukkan pukul 07.00 WITA. Derap sepatu Polisi dan raungan kendaraan taktis dan lapis baja polisi mulai terdengar. Suasana tegang. Rupanya, patroli Polisi tengah melakukan penyisiran mencari sejumlah tersangka aksi-aksi kekerasan bersenjata di Poso. Sasarannya kawasan Tanah Runtuh, Gebang Rejo, Poso Kota. Dan tiba-tiba, darrr, derrr, dorrr…mulai terdengar. Kelompok bersenjata yang menjadi sasaran penyisiran Polisi menembaki patroli tersebut, bahkan melemparkan bom. Singkat cerita, suasana bak perang. Akibatnya, seorang polisi tewas dan 13 warga sipil tewas dalam baku tembak itu. Ada apa sebenarnya di Tanah Runtuh? Baiknya kisah ini dimulai dari sebuah pesantren. Dinamai Amanah oleh pendirinya Ustadz Haji Muhammad Adnan Arsal atau biasa diberi inisial AA oleh Polisi. Topografinya berbukit. Banyak pohon jati di tanam di atasnya. Sekarang dinamai Tanah Runtuh lantaran beberapa tahun lalu, badan jalan di sisi Sungai Poso di bibir kawasan yang masuk dalam Kelurahan Gebang Rejo, Poso Kota itu runtuh. Di lokasi itu Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia sampai saat ini masih mengejar BSR, seorang lelaki asal Poso, Sulawesi Tengah. Lelaki itu diduga sebagai tersangka pelaku mutilasi tiga siswi Sekolah Menengah Umum Kristen Gereja Kristen Sulawesi Tengah di Poso pada Sabtu (29/10/2005) tahun silam lalu. Ia yang juga kini dituding polisi merupakan pelaku kunci dalam aksi baku tembak Senin (22/1) lalu. Untuk diketahui, saat ini, untuk memasuki kompleks Pesantren Amanah, Tanah Runtuh, Kelurahan Gebang Redjo, Poso Kota kita harus mengantongi izin dari Ustadz Adnan Arsal. Beberapa wartawan sempat lolos dan melakukan peliputan namun beberapa lainnya harus pulang menggigit jari, karena ketatnya pengawasan. Dari penelusuran, ternyata pesantren yang disamakan Wakil Presiden Yusuf Kalla dengan pesantren Al Islam Ngruki, Jawa Tengah, ini berisi 16 santri putri, 47 santri anak-anak seusia taman kanak-kanak dan 65 orang santri putra seusia anak-anak sekolah menengah pertama alias abege. Pesantren ini didirikan tanggal 4 Mei 2001 untuk menampung mantan santri Pesantren Walisongo, di Kilo 9 Lage, Poso, yang dibakar dan sekitar 200 santrinya dibunuh para perusuh dalam konflik Poso Mei 2000. Lalu yang satu lagi di Landangan, Poso Pesisir yang menjadi tempat belajar 65 santri putra. Saat ini, pesantren Amanah berdiri di dua lokasi berbeda. Pesantren Amanah di Tanah Runtuh menjadi tempat belajar 16 santri putri dan 47 santri anak-anak seusia taman. Tidak ada kegiatan lain yang mencolok dari para santri kecuali belajar agama. Pengajaran agamanya disesuaikan dengan kurikulum nasional. Adapun pengajian kitab kuning dilaksanakan di luar jadwal jam pelajaran sekolah. Memang kini pesantren itu terkesan tertutup dari orang luar. Itu terjadi lantaran setiap peristiwa kekerasan terjadi di Poso, pesantren ini selalu menjadi sasaran penggeledahan polisi. Makanya, mereka terkesan sangat berhati-hati menerima tamu. Sebab polisi yang biasa datang selain memakai seragam juga ada yang tidak. Nama kawasan ini terkenal setelah kerusuhan Poso pada 2000 silam. Saat itu, pesantren Walisongo di KM 9, Poso dibakar, dan santrinya dibantai perusuh. Lalu sebagian besar warga Walisongo kemudian pindah ke Tanah Runtuh. Sejak saat itu bara api mulai menyala di sana. Rata-rata aksi-aksi kekerasan bersenjata ini dilakukan oleh sejumlah remaja dan pemuda dari kawasan ini. Bahkan kemudian ada di antara mereka yang belajar di Pesantren Amanah. Wajarlah kemudian pesantren ini begitu dikenal dan dijadikan sasaran patroli Polisi.

Reaksi:

Posting Komentar

[blogger]

Hasrul

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget