Hasrul Hasan

Reka Cipta Dalam Perspektif Kreativiti

728x90
2007

Hari ini tepat tanggal 22 Desember, dimana orang-orang tetap melakukan aktivitas seperti biasa, tidak ada yang spesial. Adalah aku yang merasa berbeda. Hari ini adalah hari yang membawaku ke umur dua puluh lima tahun. Suatu tingkat pencapaian kedewasaan bagiku.
Aku merasa belum sanggup memikul umur ini karena banyak yang terlewat dibelakangku. Tapi, waktu terus bejalan maju. Hanyalah mimpi yang dapat terulang dan kembali.Aku merayakan hari istimewa ini sendirian. Tanpa ada yang menemani.
Ku hanya menunggu tetes rintik hujan
Menjelajah ruang arti sebuah catatan
Kisah kisah sepanjang perjalanan
dan anginpun meratap sembari berbisik padaku
awan itu laksana jiwamu
langit biru adalah payungmu
cakrawala lembayung adalah penjagamu
hari ini adalah harimu...
malam ini adalah punyamu..
detik ini adalah milikmu ....
...ulang tahun mu...

Mendengar nama Karampuang bagi sebagian besar masyarakat Sulawesi Selatan bukanlah hal aneh. Nama Karampuang ditemukan dihampir seluruh daerah termasuk di Kota Makassar. Namun Karampuang yang memiliki rumah adat serta peninggalan Arkeologi yang beraneka macam hanya di Karampuang yang terdapat di Kabupaten Sinjai. Keunikan budaya Karampuang yang cenderung matrealistik diawali pada sebuah peristiwa besar yang terjadi di Karampuang yang merupakan peristiwa yang mengawali rentetan peristiwa berikutnya. Peristiwa besar serta simbol yang terkandung pada keunikan budayanya semuanya tertulis pada Lontarak Karampuang yang disakralkan pendukungnya. Dikisahkan dalam Lontarak Karampuang bahwa pada jaman dahulu kala tatkala bumi ini masih dikelilingi oleh air, Karampuang dan sekitarnya tidak digenangi oleh air yang disebut dengan Cimbo.
Makna kata "Cimbo" ini ialah wilayah bagaikan tempurung yang menyembul seperti tempurung kelapa di tengah genangan air. Di tengah cimbo inilah yang kelak ditemukan seorang yang tak dikenal yang akhirnya diberi gelar "Manurunge Ri Karampulue" yang artinya seorang yang karena hadirnya membuat seluruh warga merinding atau berdiri bulu romanya.
Penamaan Karampulue kemudian berubah nama dan lebih dikenal dengan Karampuang. Setelah Manurunge ri Karampulue lama menetap dan memimpin warganya tiba-tiba ia berpesan "eloka tuo tea, mate eloka madeceng tea maja''. Kata-kata ini adalah wasiat agar senantiasa memelihara segala tradisi yang diwariskan kepada mereka. Wasiat ini juga untuk kemaslhatan warga Karampuang. Setelah berpesan maka dia tertidur dan lama kelaman menghilang dan tiba-tiba muncul lagi tujuh orang "To manurung baru yang disebut Manurung Pitue". Mereka ini dikirim untuk menjadi raja baru pada cimbo-cimbo baru setelah air surut sebanyak tujuh kali. Adapun tempat yang dituju adalah Ellung Mangere, Bonglangi, Bontona Barue, Carimba, Lante, Amuru, Tessese. Sementara yang tinggal di Karampuang adalah seorang wanita yang diyakini merupakan jelmaan dari Manurunge ri Karampulue tadi.
Ini menandakan rumah adat Karampuang dilambangkan dengan wanita sedangkan saudaranya yang lain adalah laki-laki sehingga diungkapkan sebagai "Lao cimbonna, monro capengna". Pada saat keenam saudaranya hendak pergi menempati wilayah baru sekaligus menjadi raja, saudara wanitanya berpesan: Nonnono makaake lembang Numalappo kualinnrungi Numatanre kuaccinaun Mukkelo kuakkelori Ualai lisu, yang bermaksud bahwa silahkan pergi menjadi raja ditempat lain, namun kebesaran kerajaanmu kelak harus mampu melindungi Karampuang. Raihlah kehormatan itu akan turut menaungi kehormatan leluhurmu. Meskipun demikian segala kehendakmu haruslah atas kehendakku jua, apabila segala kebesaran dan kehormatan itu tidak aku ambil kembali. Setelah keenam saudaranya itu menjadi raja maka mereka membentuk masing-masing dua gella baru sehingga terciptalah 12 gella selain karampuang sebagai induk yakni Bulu, Bicu, Sulewatang, Salohe, Satengnga, Pangepenna Satengnga yang hingga saat ini menjadi pendukung utama budaya karampuang.

Aku rindukan manusia yang berjiwa mulia!
Aku rindukan manusia yang berjiwa pembela kebajikan manusia dan kesejahteraan masyarakat tanpa mengutamakan keuntungan diri mereka sendiri!

Aku rindukan manusia yang berhati dan berjiwa luhur!
Aku ingin bersahabat dengan mereka semua demi untuk berusaha bersama dengan mereka kearah kebaikkan, keselamatan, kesejahteraan hidup
untuk manusia di dunia ini..

Sebab itulah aku mengkritik!
Sebab itulah aku menulis!

Melawan arus perubahan Menahan tiupan angin
Melawan derasnya sungai Menahan hantaman gelombang
Menuai mimpi-mimpi yang tertunda
Merealisasi janji-janji kehidupan
Sedikit pergerakan merubah seluruh pergolakan
Sekedar menyatakan jiwa revolusioner


Segala daya upaya dikerahkan agar penindasan dihentikan
Seluruh jiwa, pikiran dan hati diserahkan agar mereka sadar..


Tidak, dia bukan pengecut,

bagi-ku dia malah sangat berani,

berani mengambil keputusan yang mungkin

adalah salah satu keputusan terberat dalam hidup-nya,

di-mana di satu sisi, dia sangat mencintai rekan rekannya di tempat-nya mengabdi selama ini, memberikan mereka setitik kebahagiaan, dan di satu sisi lagi dia menjadi korban ke-munafik-an manusia-manusia yang tidak ber-tanggung jawab.


Dia pernah bilang:

“Aku masih punya harga diri, dan aku memilih untuk keluar dari sini sebelum di-usir oleh mereka. Ya, kalau memang mereka punya otak dan punya moral, tapi alangkah sakit-nya ketika mereka ternyata hanya beda tipis dengan binatang, yang tidak punya hati, bukan untuk-ku, tapi untuk mereka,teman teman kita yang masih butuh perhatian”

Pernahkah rasakan kecut daun tembakau dalam rokokku?
mungkin dia akan memberitahumu gerak pikirku satu persatu atau bisa jadi asap putihnya akan memecah di ujung hidungmu singgah sejenak, sebelum angin menjemputnya untuk menyatu.
Pernahkah rasakan pahit kafein dalam kopiku?
setitik gula kutambahkan, sejumput rasa manis mengusap lidah muterbersitkah sedikit dalam hati mu secercah saja tarikan bibirmu menjadi anugerah?
kalau saja rokokku, kopiku, menyisipkan pesan yang dapat kau tangkap dengan hatimu kenapa justru tak pernah ada percaya bagi mulutku?

ataukah… aku kembali harus diam dan bisu?????????????

Malam ini awal musim penghujan non. kotaku terguyur tetes-tetes air dari langit itu, indah sekali. Kebun-kebun itu mulai tampak hidup, bunganya mulai bermekaran indah. Begitu juga dengan kamboja di sudut jendala ini, mulai mekar dan berkisah tentang harinya.

Halaman-halaman rumput itu begitu segar dan mempunyai essense sendiri dari basahnya, entahlah non tapi lebih wangi dari parfum manapun yang kukenal, parfummu bahkan. Walau aku kini mulai lupa wangi parfum itu, senyummu bahkan aku mulai lupa.
Sebenarnya ingin sekali mengingatnya, membauinya walau engkau sejauh pulu….han kali rasi bimasakti. Buku di tanganku ini belum lagi habis kubaca, saat tetes terakhir kopi hangat meresap dilidahku, yang kerap kelu saat berbicara denganmu.
Malam ini aku menikmati seperti biasanya di sofa rumah ini. Hanya beberapa langkah dari tempatmu menjemput senja, pulang dengan langkah lunglai atau tawa renyah karena sudah habis waktumu hari ini berkutat dengan segala angka.
Kadang di musim-musim seperti ini aku berharap kembali lagi melihat pelangi, pelangi dalam artian sesungguhnya.
Benda setengah lingkaran yang warnanya seindah kosong matamu. Namun pelangi itu tak jua tiba, bahkan hanya untuk mengkonfirmasi kedatangannya lewat sms atau sambungan jarak jauh. Kurasa engkau juga telah memakan pelangi itu, seperti engkau makan bulanku. tapi tak apa, aku lebih suka kau memakannya. Bagaimana kabarmu disana ? bagaimana dirimu sekarang ?

Sekian ratus tahun sudah, ia tak pernah sanggup melahirkan benci pada hujan.
selain selimut tebal dan sepenggal sejarah malam lewat dalam dekapan para pemabuk gerimis di matanya seolah menggigil.


Tak kunjung lelah untuk melupakan sayup-sayup suara azan tetapi Tuhan.
ah, dadanya penuh dengan goresan takdir
Kelam, telah bosan ia menjumlah waktu karena panjang atau melingkar tetap irama rahasia detak-detak tentang maut. Seperti tetes-tetes di mulut jendela mengetuk dan berkabar bahwa perjalanan bukanlah sekadar tarian dan ia. mencoba mencintai langit!!!

Westerling
Menjelang peringatan tragedi pembantaian 40.000 jiwa rakyat Sulsel, yang jatuh tanggal 11 Desember, saya warga jalan korban 40.000 jiwa ini mencoba mengulas mengenai sosok kapten Raymond Westerling dari data yang aku peroleh dari internet dan beberapa buku. Masa kecil Westerling tak banyak terungkap, sebagian besar rapat tertutup. Dalam stambuk tentara KNIL, namanya hanya tertera sebagai Kapten Westerling. Ia lahir di Istanbul, Turki, pada hari Minggu, 31 Agustus 1919. Orangtuanya adalah pasangan pedagang karpet. Ayahnya seorang Belanda, ibunya keturunan Yunani. Ketika berusia 5 tahun, kedua orang tuanya meninggalkan Westerling. Anak tak bahagia itu lalu hidup di panti asuhan. Tempat itulah mungkin yang membentuk dirinya menjadi orang yang tidak bergantung dan terikat pada siapa pun.
Westerling yang sudah tertarik pada buku-buku perang sejak masih belia menemukan kesempatan untuk jadi tentara ketika Perang Dunia pecah. Desember 1940, ia datang ke Konsulat Belanda di Istanbul. Westerling menawarkan diri menjadi sukarelawan. Ia diterima. Tapi untuk itu, sebelumnya ia harus bergabung dengan pasukan Australia. Bersama kesatuannya, Westerling ikut angkat senjata di Mesir dan Palestina. Dua bulan kemudian ia dikirim ke Inggris dengan kapal. Di sini kesewenang-wenangannya mulai muncul. Ia menyelinap menuju Kanada, melaporkan diri ke Tangsi Ratu Juliana, di Sratford, Ontario. Di situlah ia belajar berbahasa Belanda.
Westerling lalu dikirim ke Inggris. Ia bergabung dalam Brigade Putri Irene. Di Skotlandia, ia memeroleh baret hijaunya. Ia juga mendapat didikan sebagai pasukan komando. Spesialisasinya adalah sabotase dan peledakan. Ia pun mendapat baret merah dari SAS (The Special Air Service), pasukan khusus Inggris yang terkenal. Dan yang membanggakannya, ia pernah bekerja di dinas rahasia Belanda di London, pernah menjadi pengawal pribadi Lord Mountbatten, dan menjadi instruktur pasukan Belanda—untuk latihan bertempur tanpa senjata dan membunuh tanpa bersuara. Tapi ia pun pernah dipekerjakan di dapur sebagai pengupas kentang.
Ternyata, hidup di barak bagi seorang Westerling menjemukan. Ia ingin mencium bau mesiu dan ramai pertempuran sebenarnya, bukan cuma latihan. Cita-citanya kesampaian pada 1944, Inggris menerjunkannya ke Belgia. Dari situ ia bergerak ke Belanda Selatan. Menurut buku De Zuid-Celebes Affairs, di Belgia itulah ia kali pertama merasakan perang sesungguhnya. Tapi, menurut Westerling sendiri, dalam Westerling, 'De Eenling' (Westerling, Si Penyendiri), perkenalan pertamanya dengan perang terjadi di hutan-hutan Burma.
Berkilau agaknya prestasi militer Westerling. Tapi entah mengapa ia meninggalkan satuannya, pasukan elit Inggris, dan masuk menjadi anggota KNIL. Ia lalu terpilih masuk dalam pasukan gabungan Belanda-Inggris di Kolombo. Pada September 1945, bersama beberapa pasukan, Westerling diterjunkan ke Medan, Sumatera Utara. Tujuannya, menyerbu kamp konsentrasi Jepang Siringo-ringo di Deli, dan membebaskan pasukan pro-Belanda yang ditawan. Ia berhasil.
Sebulan kemudian tentara Inggris mendarat di Sumatera Utara, dan entah bagaimana Westerling bergabung dengan pasukan ini. Tugasnya, melakukan kontraspionase, demikian kata buku Westerling, De Eenling. Itu makanya di Medan ia mengkoordinir orang-orang Cina, membentuk pasukan teror Poh An Tui (PAT). Pertengahan tahun 1946, ia dikirim ke Jakarta.
Di KNIL, karier militer Westerling menanjak cepat. Mulanya, ia hanya seorang instruktur. Tak lama, pada usia 27 tahun, Letnan Satu Westerling diangkat sebagai Komandan Depot Speciale Troepen (DST), Pasukan Para Khusus Belanda. Pasukan inilah yang ditugaskan ke Makassar, untuk membantu Kolonel De Vries mempertahankan kekuasaan Belanda. Pada 5 Desember 1946, ia tiba di Makassar. Belum seminggu di tempat baru, ia sudah membuat teror yang menggemparkan. Kampung dikepung, dihujani mortir. Rumah-rumah dibakar habis. Penduduk dikumpulkan, dibantai. Dan para anggota pergerakan kemerdekaan disiksa, sebelum dihabisi dengan biji-biji peluru.
Empat bulan teror, perlawanan penduduk mereda. Anehnya, rakyat mengelu-elukan Westerling, mungkin karena takut. Ketika beranjak dari Makassar, kembali ke Jawa, konon, seseorang memberikan kenang-kenangan sebilah badik.
Westerling Pembantai Dramatis Kemanusiaan
Tanggal 11 Desember 1946 adalah hari berkabung di Sulawesi Selatan. Pada hari itu Raymond Pierre Westerling dari tentara KNIL dikenal dengan julukan ?De Turk? (orang Turki) mulai melaksanakan aksi pembersihan terhadap orang-orang Indonesia yang pro kemerdekaan. Tiga bulan lamanya aksi militer berlangsung dan kurang lebih 40 ribu orang tak berdosa mati terbunuh (Ensiklopedi Umum 1973). Keganasan Westerling dicatat dari Dinas Kemiliteran Belanda pertengahan tahun 1948. Ia terkenal dengan aksi?aksinya membantai manusia yang pro kemerdekaan sebagai anti kemerdekaan Indonesia dia mempersiapkan terbentuknya Tentara Partikelir yang dinamakannya Angkatan Darat Ratu Adil (APRA) Republik Indonesia Serikat. Konsep tersebut dibuat pada hasil Konferensi Meja Bundar di Den Haag yang ketika itu belum berusia dua minggu. Westerling mengirimkan ultimatum kepada pemerintah RIS dan Negara Pasundan. Dia menuntut agar kekuasaan militer di Pasundan diserahkan kepada APRA dan agar mengakui APRA sebagai pasukan resmi.
Tanggal 23 Januari 1950 Westerling dan pasukannya menduduki Cimahi di mana terdapat pasukan Belanda dan KNIL dan 300 orang disortir menggabungkan diri kepada APRA. Mereka menyerbu kota Bandung dengan kekuatan 800 orang bersenjata lengkap. APRA berusaha merebut Markas besar tentara Siliwangi di Oude Hospitalweg. Dalam tembak menembak waktu itu sejumlah 79 orang yang meninggal antara lain Letkol Lembong, Mayor Ir Djokosutikno, Mayor Sachirin , Kapten Dudung (Ensiklopedi Indonesia 1980). Komisaris Tinggi Belanda di Jakarta Dr Hirschfeld yang menghukum tindakan Westerling dengan memerintahkan kepada Jenderal Engles di Bandung agar menindas Westerling yang dianggapnya sebagai kudeta berdarah. Sikap tegas Engels membuat terbirit-birit mencari cantolan politiknya untuk meloloskan diri dari kejaran tentara Indonesia. Dalam cantolan politiknya itu dianggap mempunyai hubungan kuat dengan wali negara Pasundan dan Sultan Hamid dari Pontianak. Itulah sebabnya keduanya ditahan oleh Pemerintah RIS karena dituduh bersekongkol dengan Westerling, apalagi jauh sebelum membantai di Jawa Barat telah membuat korban yang dramatis di Sulawesi Selatan, Korban 40 Ribu Jiwa rakyat di Sulawesi Selatan.
Korban 40 Ribu Jiwa
Peristiwa Korban 40 Ribu Jiwa di Sulawesi Selatan yang diperingati setiap 11 Desember merupakan noda hitam dalam sejarah kemanusiaan Sulawesi Selatan. Bila kita memutar arah jarum jam sejarah atau membangun kembali ?historical mainstream? dengan membandingkan penegakan hak asasi manusia yang semakin deras setelah reformasi, maka kita akan sedih, menangis dan menjerit dan berkata ?bahwa Korban 40 Ribu jiwa adalah tragedi berdarah kemanusiaan di abad ke-20?. Lalu apa kaitannya dengan mengungkapkan peristiwa 59 tahun yang silam dengan pelanggaran hak asai manusia.
Jika ditilik pertemuan antara pihak Indonesia dan Belanda pada tanggal 9 Februari 1950, maka jelas peristiwa korban 40 Ribu Jiwa di Sulawesi Selatan dianggap sebagai pelanggaran HAM berat.

Di tepi bumi kesedihan berkibar
bagai saputangan yang dikirim tanpa berita
bumi telah penuh dengan kata-kata

dan akarnya menancap di dada.

Sungai mengalirkan serapah ke muara, ke laut tempat berakahirnya duka, tempat hidup memulai dan mengakhiri kata!

DALAM pekan ini, isu SARA kembali berhembus di makassar, bukan karena kasus pembunuhan pribumiatau pun kasus pemerkosaan. Ironisnya, isu ini berhembus sesaat setelah penetapan gubernur dan wakilgubernur baru di sulsel.
Sebuah konflik yang seharusnya tak pantas hidup di sebuah negara yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan ini. Namun kenyataan berkata lain. Lihat saja bagaimana kasus kerusuhan di Tuban, Jawa Timur yang berpangkal dari persoalan pilkada diseret ke masalah SARA. Pasalnya, salah satu tokoh yang berkonflik itu adalah warga keturunan Tionghoa.
Isu SARA pun kembali dimainkan kelompok tertentu dalam pilkada di kampunghalamamku, buntut dari penetapan syahrul yasin limpo dan agus arifin nu'mangsebagai pasangan pemenang pada pilkada sulsel 5 november lalu. Pasangan iniberhasil melampui perolehan suara pasangan amin syam-mansyur ramli dan pasanganaziz qahar mudzakkar- mubyl handalling.
Isu ini mulai terlihat pada aksi unjuk rasa ratusan massa salah satu pendukung calongubernur di depan kantor KPUD sulsel jumat 16 november, beberapa orang pengunjuk rasamembawa pamflet aksi yang bertuliskan nama salah seorang pendeta asal tana torajayang dituding sebagai pemecah umat. selain itu, saya juga sempat melihat sebuah pamfletyang menuliskan beberapa nama tokoh masyarakat etnis tionghoa.
Bak sekam kering dilempar api, isu ini bisa menjadi pemantik kemarahan massa di Makassar.Jika ditarik ke belakang, konflik bahkan kerusuhan akibat isu SARA seakan sudah menjadi 'budaya' di negeri ini. Ratusan bahkan ribuan jiwa telah melayang sia-sia menjadi tumbal konflik SARA di berbagai daerah.
Anehnya, konflik SARA ini tak mudah mati. Berhenti di suatu daerah, tak selang lama muncul di daerah lain. Tragisnya, beberapa waktu lalu, sejumlah pengamat pernah mengemukakan temuan, selain karena kesenjangan ekonomi, konflik SARA di daerah-daerah sering bermula dari harumnya aroma kekuasaan.
Asumsi sederhana, dalam konteks kekinian, kekuasaan tidak bisa diharapkan turun dari langit. Tetapi sesuatu yang harus diupayakan dan diperjuangkan terus-menerus, baik dengan cara lunak maupun keras bahkan kasar.
Sayangnya, perjuangan meraih kekuasaan di tingkat elit lokal itu biasa terjadi dalam bentuk kekerasan. Dan, para pemburu kekuasaan suka melakukannya dengan menyeret isu SARA yang memang efektif sebagai pemantik konflik. Mereka seolah tak menyadari, salah satu tanggung jawab dan kesalahan politik terbesar yang dapat melahirkan kekerasan sipil yang paling eksplosif adalah konflik SARA.
Tak heran, sentimen SARA dan diskriminasi saat ini jauh lebih buruk daripada masa lalu. Konflik itu kini sulit diidentifikasi. Tidak ada batasan baik gender, usia, golongan ataupun kategori lainnya yang berlaku. Kini, SARA dapat hidup dan bersembunyi dalam diri siapa saja.
Di masyarakat multikultur yang masih tinggi kesenjangan ekonominya seperti di Indonesia, konflik SARA memang sangat rentan terjadi. Untuk mengatasinya, tak ada jalan lain selain terus melakukan kampanye dan memberi penerangan kepada masyarakat mengenai persamaan derajat dan hak manusia yang hakiki.
Semua pihak harus menyadari, konflik SARA bukan sekadar kejahatan moral yang paling mengerikan tetapi juga pandangan dan tindakan menjijikkan di era yang menjunjung tinggi demokratisasi.
Pemerintah harus segera menghentikan berbagai kebijakan yang masih bersifat sentralistik. Jangan ada lagi perencanaan yang bersifat top down. Buatlah kebijakan yang lebih mengakomodasi aspirasi dan kepentingan masyarakat yang ada di daerah. Enyahkan duka dan lara masyarakat dari kekejian konflik SARA.


suara rakyat itu apa?

suara rakyat itu yang kutahu hanyalah suara perut!lantang teriakannya, dalam tekanannya

yang bersuara nyaring dikala lapar bila ditekan, diam mencekam bila dilonggarkan, malah berontak diberi kenyang, malah sendawa dan kentut balasannya.


namun ada juga yang bilang,"suara rakyat itu suara hati"ah! mana ada hati bisa bicara,hati hanyalah tempat penampung racun dan penetral racun, bagai pelipur lara
bingung saya, ambil peduli.

sekali lagi suara rakyat itu sebenarnya apa?????





Bagi suku Toraja, Rambu Solo` adalah upacara untuk memakamkan leluhur atau orang tua tercinta. Tradisi leluhur ini sekaligus menjadi perekat kekerabatan masyarakat Toraja terhadap tanah kelahiran nenek moyang mereka.Suatu hari di dataran tinggi Tanah Toraja. Saat itu, malam kian kelam ketika rembulan memancarkan pantulan cahayanya. Di sekeliling halaman Tongkonan atau rumah adat Tana Toraja terlihat sanak saudara dan para keluarga mendiang Lai Sumule berkumpul menandai dimulainya pembukaan ritual pemakaman adat Toraja. Suasana pun menjadi sakral ketika mereka bersama-sama melantunkan syair kesedihan dalam tarian Mabadong. Tarian ini menyimbolkan ratapan kesedihan mengingat jasa mendiang semasa hidupnya serta sebagai ungkapan dukacita bagi orang-orang yang ditinggalkannya.Adapun, orang Toraja meyakini, seorang bangsawan akan mendapatkan tempat yang terhormat dalam strata sosial masyarakat. Mereka selalu menjunjung tinggi orang yang berstatus bangsawan untuk dihormati serta dicintai layaknya seorang raja. Pandangan semacam inilah yang acap ditemui di dalam masyarakat adat Toraja hingga sekarang.Sejak dahulu kala hingga sekarang, orang Toraja memang mewarisi kebudayaan megalit atau zaman batu. Pewarisan nilai sejarah tersebut dapat terlihat di dalam setiap upacara pemakaman para bangsawan. Ini menandakan tradisi kebudayaan purbakala memang melekat erat dalam adat istiadat masyarakat Tana Toraja. Peninggalan masa megalit atau megalitikum. Tengok saja batu-batu menhir setinggi tiga meter yang berada di sana. Orang Toraja menyebutnya sebagai simbuang batu.Dalam ritual pemakaman, simbuang batu berfungsi sebagai tempat mengikat kerbau yang akan dikurbankan dalam upacara. Konon, batu menhir ini ditancapkan pertama kali tahun 1657. Ketika itu ratusan ekor kerbau dikurbankan untuk upacara pemakaman Dinasti Rante Kalimbuang.Kini, zaman telah berubah, seiring munculnya agama-agama Samawi yang mengubah keyakinan agama orang Toraja. Kendati begitu, tradisi dan budaya leluhur mereka masih dipegang erat. Tradisi leluhur inilah yang kemudian menjadi perekat kekerabatan masyarakat Toraja akan tanah kelahiran nenek moyang mereka.Saat prosesi pemakaman adat Toraja yang dinamakan upacara Rambu Solo`, misalnya. Boleh dibilang, Rambu Solo` adalah ritual yang sangat panjang dan melelahkan. Sebab kematian bukanlah akhir dari segala risalah hidup. Maka, suatu kewajiban bagi keluarga untuk merayakan pesta terakhir sebagai bentuk penghormatan kepada arwah yang akan menuju ke alam puya atau alam baka.Biasanya pesta kematian berjalan hingga berhari-hari. Tak sedikit pula biaya yang harus dikeluarkan pihak keluarga untuk membiayai jalannya prosesi Rambu Solo`. Selama itu, jenazah disemayamkan dalam peti rumah duka.Walau secara medis seseorang telah dianggap meninggal dunia, berdasarkan adat istiadat Toraja, orang yang mati dianggap sedang tidur selama keluarga belum menjalankan upacara Rambu Solo`. Contohnya mendiang Ne Ne Lai Sumule. Dia meninggal sejak enam bulan silam. Namun secara adat ia masih diperlakukan layaknya orang yang menderita sakit.Malam semakin larut. Ritual demi ritual pun telah dijalankan. Sekarang saatnya pihak keluarga melangsungkan ritual Ma`tundan atau membangunkan arwah. Seiring dimulainya Ma`tundan, suasana duka kembali tergurat di wajah sanak saudara dan orang-orang terdekat dari mendiang. Air mata pun jatuh bercucuran sebagai wujud orang yang mereka cintai baal pergi selamanya.Dan, hari itu, status sosial kebangsawanan itu terlihat pada bagian upacara Rambu Solo` atas kematian Ne Ne Lai Sumule. Padi yang tersimpan dalam lumbung tengah dipersiapkan untuk ditumbuk. Ritual tumbuk padi biasa dilakukan kaum wanita yang sudah tua yang memiliki kemahiran memainkan lesung dan bambu.Bunyi-bunyian lesung dan bambu tersebut dilakukan bersamaan dengan prosesi pemindahan jasad Ne Ne Lai Sumule dari rumah duka untuk disinggahkan ke rumah adat Tongkonan untuk disemayamkan selama satu malam.Maka, sanak saudara dan keluarga bahu-membahu mengangkat peti jenazah yang beratnya mencapai 100 kilogram untuk dinaikkan ke dalam rumah adat. Menurut adat Toraja prosesi ini melambangkan penyatuan kembali jenazah dengan para leluhurnya. Di dalam rumah adat, peti berisi jasad Ne Ne Lai itu harus dijaga semalam suntuk oleh sanak keluarga.Maka tarian penghormatan pun dilakukan. Kain merah dibentangkan sebagai lambang kebesaran suku Toraja. Sanak saudara dan warga bahu-membahu mengantarkan peti jenazah ke bawah lumbung.Ketika peti mati diturunkan, sorak-sorai bergema di antara penduduk. Warga mencoba mengatasi beban berat yang bertumpu di atas pundak mereka. Kain merah atau lamba-lamba ini dibentangkan sebagai simbol jalan yang harus dilalui jenazah.Akhirnya, sampailah peti jenazah di lumbung yang letaknya tepat di bawah rumah adat. Dalam keyakinan masyarakat Toraja, peletakan jasad ke dalam lumbung selama tiga malam itu menandakan jasad mendiang telah menuju pada fase kematian yang sebenarnya.


seorang sahabatku menulis:

"aku memilihmu"

ketika kamu memilih jalan

untuk tidak memilih ku aku mengingatmu ketika kamu mengingatkanmu untuk tidak mengingatku dalam keramaian aku mengenangmu ketika

dalam sepi kamu lelap dan menghanguskanku aku menunggumu

ketika kamu menunggu aku untuk tidak menunggumu"

sementara aku di sini menulis:"

aku memilih sebuah jalan untuk menghindari kamudan kamu memilih melewati jalan itu untuk menghindari aku..

"bagaimana caranya membuat hati mati rasa?


Satu lembar puisi terpatri

Sepuluh batang rokok Asapnya terbang ke langit jingga

Seribu janji partai politik Memenuhi isi kepala

Setelah ituMemakan siapa saja Dan kau memilih gombalYang mana Bicara kasar sedikitTak apa-apa Paling buruk ditendangAtau dimata-matai setiap langkahSepuluh batang rokokSatu lembar puisi Seribu

janji partai politikTak dapat ditepatiSatu lembar puisiSepuluh batang rokok

Seribu janji selalu diingkariSepuluh batang rokokSatu lembar puisi Seribu janji dikhianati

Satu lembar puisiSepuluh batang rokok Seribu…


Lihatlah hari ini

sebab ia adalah kehidupan dari kehidupan

dalam sekejap dia telah melahirkan berbagai hakikat dari wujudmu.

Karena, hari kemarin tak lebih dari sebuah mimpi

dan esok hari adalah bayangan

Namun hari ini ketika anda hidup sempurna,

telah membuat hari kemarin sebagai impian yang indah.

Setiap hari esok adalah bayangan yang penuh harapan.

maka lihatlah hari ini, inilah salam

untuk SANG FAJAR.......

Ini kisah tentang Tanah Runtuh. Sebuah kawasan di Kelurahan Gebang Rejo, Poso Kota. Dulunya dikenal sebagai PAM, lantaran di situ berdiri perusahaan air minum daerah. Suku yang mendiami begitu heterogen. Ada banyak suku di sana. Mulai Bugis, suku Asli Poso sampai Jawa dan Sunda. Senin, 22 Januari 2007. Belum lama fajar menyingsing. Waktu masih menunjukkan pukul 07.00 WITA. Derap sepatu Polisi dan raungan kendaraan taktis dan lapis baja polisi mulai terdengar. Suasana tegang. Rupanya, patroli Polisi tengah melakukan penyisiran mencari sejumlah tersangka aksi-aksi kekerasan bersenjata di Poso. Sasarannya kawasan Tanah Runtuh, Gebang Rejo, Poso Kota. Dan tiba-tiba, darrr, derrr, dorrr…mulai terdengar. Kelompok bersenjata yang menjadi sasaran penyisiran Polisi menembaki patroli tersebut, bahkan melemparkan bom. Singkat cerita, suasana bak perang. Akibatnya, seorang polisi tewas dan 13 warga sipil tewas dalam baku tembak itu. Ada apa sebenarnya di Tanah Runtuh? Baiknya kisah ini dimulai dari sebuah pesantren. Dinamai Amanah oleh pendirinya Ustadz Haji Muhammad Adnan Arsal atau biasa diberi inisial AA oleh Polisi. Topografinya berbukit. Banyak pohon jati di tanam di atasnya. Sekarang dinamai Tanah Runtuh lantaran beberapa tahun lalu, badan jalan di sisi Sungai Poso di bibir kawasan yang masuk dalam Kelurahan Gebang Rejo, Poso Kota itu runtuh. Di lokasi itu Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia sampai saat ini masih mengejar BSR, seorang lelaki asal Poso, Sulawesi Tengah. Lelaki itu diduga sebagai tersangka pelaku mutilasi tiga siswi Sekolah Menengah Umum Kristen Gereja Kristen Sulawesi Tengah di Poso pada Sabtu (29/10/2005) tahun silam lalu. Ia yang juga kini dituding polisi merupakan pelaku kunci dalam aksi baku tembak Senin (22/1) lalu. Untuk diketahui, saat ini, untuk memasuki kompleks Pesantren Amanah, Tanah Runtuh, Kelurahan Gebang Redjo, Poso Kota kita harus mengantongi izin dari Ustadz Adnan Arsal. Beberapa wartawan sempat lolos dan melakukan peliputan namun beberapa lainnya harus pulang menggigit jari, karena ketatnya pengawasan. Dari penelusuran, ternyata pesantren yang disamakan Wakil Presiden Yusuf Kalla dengan pesantren Al Islam Ngruki, Jawa Tengah, ini berisi 16 santri putri, 47 santri anak-anak seusia taman kanak-kanak dan 65 orang santri putra seusia anak-anak sekolah menengah pertama alias abege. Pesantren ini didirikan tanggal 4 Mei 2001 untuk menampung mantan santri Pesantren Walisongo, di Kilo 9 Lage, Poso, yang dibakar dan sekitar 200 santrinya dibunuh para perusuh dalam konflik Poso Mei 2000. Lalu yang satu lagi di Landangan, Poso Pesisir yang menjadi tempat belajar 65 santri putra. Saat ini, pesantren Amanah berdiri di dua lokasi berbeda. Pesantren Amanah di Tanah Runtuh menjadi tempat belajar 16 santri putri dan 47 santri anak-anak seusia taman. Tidak ada kegiatan lain yang mencolok dari para santri kecuali belajar agama. Pengajaran agamanya disesuaikan dengan kurikulum nasional. Adapun pengajian kitab kuning dilaksanakan di luar jadwal jam pelajaran sekolah. Memang kini pesantren itu terkesan tertutup dari orang luar. Itu terjadi lantaran setiap peristiwa kekerasan terjadi di Poso, pesantren ini selalu menjadi sasaran penggeledahan polisi. Makanya, mereka terkesan sangat berhati-hati menerima tamu. Sebab polisi yang biasa datang selain memakai seragam juga ada yang tidak. Nama kawasan ini terkenal setelah kerusuhan Poso pada 2000 silam. Saat itu, pesantren Walisongo di KM 9, Poso dibakar, dan santrinya dibantai perusuh. Lalu sebagian besar warga Walisongo kemudian pindah ke Tanah Runtuh. Sejak saat itu bara api mulai menyala di sana. Rata-rata aksi-aksi kekerasan bersenjata ini dilakukan oleh sejumlah remaja dan pemuda dari kawasan ini. Bahkan kemudian ada di antara mereka yang belajar di Pesantren Amanah. Wajarlah kemudian pesantren ini begitu dikenal dan dijadikan sasaran patroli Polisi.


Poso, seperti diciptakan Tuhan tidak dengan senyum. Setiap hari ada saja kabar yang membuat miris hati. Setiap waktu ada lagi yang mati. Entah karena timah panas yang terlontar dari senapan Polisi atau kelompok bersenjata, entah pula karena sebongkah bom yang merenggut nyawa. Kekerasan demi kekerasan di Poso seperti benang kusut yang sulit diurai.


waktu itu senin (22/1). Matahari belum lagi naik sepenggalah dari ufuk timur. Pagi masih dalam ketenangan, namun tiba-tiba salakan senjata memecahnya. Ratusan Polisi bersenjata lengkap, berompi antipeluru dan berkendaraan lapis baja menyerbu persembunyian kelompok bersenjata di kawasan Tanah Runtuh, Kelurahan Gebangrejo, Poso Kota, Sulawesi Tengah.

wangi udara pagi pun berganti amis darah. Seorang Polisi tewas, klo tidak salah Rony Iskandar namanya. Perwira dari Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat itu meregang nyawa akibat tembakan di batok kepalanya. Lalu tujuh anggota Polisi lainnya luka-luka.

Hmm... yang tragis lagi, 13 warga Gebangrejo yang diidentifikasi sebagai bagian dari kelompok bersenjata yang menyerang Polisi tewas ditembak.
Dari situlah cerita kekerasan kemudian mengalir lagi di Poso. Lebih dari 20 orang warga ditangkap dan disiksa Polisi, lalu kemudian dibebaskan dengan wajah dan tubuh biru lebam. Mereka rupanya korban salah tangkap Polisi. Lalu sejumlah rumah pun hancur dan berlubang-lubang dindingnya dihantam tembakan.

Memang, saatnya sudah bara api yang masih menyala dimatikan. Tidak mungkin untuk terus hidup di antara kekerasan demi kekerasan. Atau jangan-jangan Tuhan memang menciptakan Poso tidak dengan senyuman! Rasanya tentu tidak mungkin, sebab semua agama mengajarkan kedamaian dan cinta kasih. Semoga saja pasca kontak senjata januari lalu, poso kembali damai lagi,.. tak ada lagi pertumpahan darah di bumi sintuwu marusu itu.

Konflik berujung kekerasan di Poso, Sulawesi Tengah tidak begitu saja terjadi. Banyak persoalan yang melatarbelakanginya. Salah satunya adalah masalah politik setempat yang kemudian menyeret empati komunal dan melahirkan kekerasan baru. Aparat keamanan juga dianggap memberi sumbangan bagi belum berujung konflik di kota tua di Sulawesi Tengah ini.Darr…Derr…Dorr…Salakan senjata memecah malam pada Minggu (22/10/2006) silam di Jalan Pulau Irian Jaya, Kelurahan Gebang Rejo, Poso, Sulawesi Tengah. Sebuah Pos Polisi Masyarakat ditembak orang tak dikenal. Sebanyak 14 anggota Satuan Brigade Mobil Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah dan dua orang anggota Polmas Kepolisian Resor Poso terjebak di antara desingan peluru. Tak lama kemudian ratusan warga setempat mendatangi dan melempari pos itu. Situasi menjadi kacau balau di antara desingan peluru dan hantaman batu.Belasan Polisi itu pun terpaksa mesti meminta bantuan melalui pesawat handy talky. Lalu sekitar 1 Satuan Setingkat Kompi Brimob Bawah Kendali Operasi Polres Poso dari Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat pun didatangkan. Mereka datang mengendarai baracuda, kendaraan lapis baja modifikasi milik Polri. Evakuasi pun dilakukan. Sejumlah anggota Polisi pun mengeluarkan tembakan beruntun. Akibatnya, Syaifuddin alias Udin tewas diterjang peluru anggota Brimob, sementara Muhammad Rizky dan Maslan terluka parah diterjang timah panas pasukan elit Polri itu. Suasana pun makin memanas hingga dinihari. Beruntung sahur memutus amarah warga. Besok harus melaksanakan ibadah puasa lagi.Esoknya, ketika mengantar jenazah Udin, sejumlah Brimob lepas kendali menembaki pengiring jenazah di Jalan Pulau Seram. Seorang bocah bernama Galih Pamungkas (3,5) terkena peluru nyasar. Saat itu bocah Galih berada di dalam rumahnya.Selama tiga hari, Poso dalam keadaan tegang dan kemudian mereda kembali setelah perayaan hari raya Idul Fitri pada Selasa (24/10/2006). Itu gambaran bagaimana aparat keamanan juga menjadi bagian dari konflik Poso. Nah, berikutnya soal bagaimana carut marut rivalitas politik juga menjadi salah satu penyumbang konflik. Sesungguhnya, benang konflik Poso dimulai sejak 1998. Saat itu, kursi Bupati Poso yang ditinggalkan Arif Patanga lama tak terisi. HB Paliudju, Gubernur Sulteng kala itu, menunjuk Haryono untuk menjadi penjabat bupati. Namun keputusan ini menimbulkan tarik menarik figur pengganti Arif.Kemudian muncul nama Abdul Muin Pusadan, anggota Fraksi Golkar DPRD Sulteng yang didrop dari atas untuk menjadi calon bupati. Setelah itu, serangkaian kerusuhan pun terjadi. Entah bagaiamana, masalah agama kemudian terbawa-bawa. Saat itu orang menginginkan Abdul Malik Syahadat, tokoh Islam yang dekat dengan sejumlah pemuka Kristen di Poso. Malik kemudian kebagian menjadi Wakil Bupati Poso.Masalah muncul lagi, ketika jabatan sekretaris kabupaten lowong. Sebagian masyarakat Kristen menginginkan Nus Pasoreh. Sementara masyarakat Islam menginginkan Awad Alamri."Pembagian kekuasaan yang tidak adil menjadi penyebab semua itu," kata Datlin Tamalagi, tokoh masyarakat Poso. Kini dia menjadi Bupati Morowali, daerah pemekaran Poso.Saat itu, hanya lantaran kesalahpahaman yang terjadi antara Roy Runtu Bisalembah yang kebetulan beragama Kristen dan Ahmad Ridwan yang anggota remaja Islam Masjid Darussalam Poso, Kota Poso memanas. Perang batu terjadi antara warga Kristen dan Islam. Tokoh-tokoh semacam Yahya Mangun, sesepuh Muhammadiyah Poso, Arif Patanga dan Yahya Pattiro mencuat namanya karena berusaha mendamaikan massa. Tapi api terlanjur dipantik. April 1999, massa Muslim yang marah karena provokasi seorang pemuda membakar permukiman Kristen di Lombogia. Tewasnya dua orang warga akibat tertembak oleh anggota Brimob makin membesarkan nyala api. Lalu tahun 2000, sepasukan warga menyerang permukiman Islam sepanjang Poso Pesisir. Poso menjadi ladang api dan darah sepanjang Mei – Juli 2000. Dalam catatan Pemerintah Kabupaten Poso kala itu, tak kurang 577 orang tewas terbunuh dalam pertikaian bernuansa suku, agama, ras dan antargolongan itu. Lalu kerugian materil meliputi, 7.932 buah rumah penduduk terbakar, 1.378 rusak berat dan 690 buah rusak ringan. Sedangkan rumah ibadah yang terbakar tercatat masjid 27 buah, gereja 55 buah dan pura 1 buah. Kerugian materil itu juga ditambah dengan 239 kendaraan bermotor yang terbakar. Kondisi sosial, ekonomi dan politik kabupaten penghasil kayu Ebony seluas 1.443.736 hektare itu pun porak-poranda. Lalu hampir 27 ribu pengungsi menyelamatkan diri ke Palu, Makassar dan Manado.Konflik baru sedikit mereda setelah Muhammad Jusuf Kalla yang ketika itu masih sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat di bawah Pemerintahan Gus Dur menggelar Pertemuan Malino untuk Poso. Sebanyak 44 tokoh Islam dan Kristen termasuk Sofyan Faried Lembah dari Front Solidaritas Islam Revolusioner dan Pendeta Rinaldy Damanik dari Gereja Kristen Sulawesi Tengah pun berjabatantangan. Tanggal 19-20 Desember 2001 di Malino, Sulawesi Selatan menjadi momentum sejarah teramat penting bagi pulihnya keamanan di Poso. Sayang, banyak aksi-aksi kekerasan yang menciderai. Salah satu aksi kekerasan terbesar adalah ketika 22 orang tewas akibat peledakan bom di Pasar Tentena pada Sabtu, 25 Mei 2004. Diikuti kemudian oleh sejumlah aksi kekerasan dalam skala yang lebih kecil. Salah satunya adalah peledakan bom di Pasar Hewan Khusus di Palu pada 31 Desember 2005. Tiga orang tewas dan sejumlah lainnya luka-luka. Kekerasan terus membayangi Sulawesi Tengah sepanjang 1998 – 2006 ini, bahkan makin mengkhawatirkan ketika Pendeta Irianto Kongkoli, Sekretaris Majelis Sinode GKST tewas ditembak orang tak dikenal, Senin (16/10/2006). Tentu saja banyak yang marah dan meradang, tidak ada tempat aman di wilayah ini.Sebab PolitikApa yang sebenarnya terjadi? "Banyak persoalan yang terakumulasi menjadi satu. Salah satunya adalah kecemburuan sosial. Mereka menyaksikan bagaimana masyarakat pendatang begitu maju, sementara penduduk asli cuma jalan di tempat," kata sesepuh Muhammadiyah Poso, Yahya Mangun dalam sebuah wawancara.Yang dimaksud Yahya adalah bagaimana masyarakat asli Poso yang Kristen dan Islam kemudian tersisih oleh para pendatang dari Makassar dan Gorontalo, juga Jawa. Mereka berhasil karena ulet, sementara masyarakat asli patah semangat.Bagaimana soal politik? Sebagai catatan, di DPRD Poso saat ini, Partai Damai Sejahtera memiliki 6 kursi disusul oleh Partai Golkar 5 kursi. Selanjutnya Partai Patriot 4 kursi, PDIP dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) dengan 2 kursi. Disusul PAN, Partai Demokrat, PPP, PKS dan Partai Pelopor, masing-masing 1 kursi. Ketua DPRD Poso periode 2004-2004 kini adalah Sawerigading Pelima yang naik dengan bendera PDS. Ada yang menarik menjadi catatan jika membicarakan proses suksesi politik di Poso. Jika sentimen agama mencuat, maka segregasi populasi berdasar agama penting disimak.Dalam catatan Biro Pusat Statistik Sulteng, Islam menjadi agama mayoritas di kecamatan-kecamatan pesisir, seperti Kecamatan Ampana Kota, Ampana Tete, Tojo, Una-una, Walea Kepulauan, dan Ulubongka (Kabupaten Poso) dan Kecamatan Bungku Selatan, Bungku Tengah, Bungku Barat, Bungku Utara, dan Menui Kepulauan (Kabupaten Morowali).Sebaliknya, Kristen menjadi agama mayoritas di kecamatan-kecamatan dataran tinggi, seperti Kecamatan Pamona Utara, Pamona Selatan, Pamona Tengah, Lore Utara, Lore Tengah, dan Lore Selatan (Kabupaten Poso) dan Kecamatan Mori Atas dan Lembo (Kabupaten Morowali).Segregasi juga terlihat di wilayah kecamatan di mana penduduk beragama Islam dan Kristen berimbang. Misalnya, sebelum konflik di dalam wilayah Kecamatan Poso Kota, penduduk beragama Islam mayoritas menghuni kelurahan Kayamanya, Bonesompe, dan Lawanga. Sebaliknya, penganut Kristen mayoritas berada di Kelurahan Kasintuvu, Lombogia, dan Kawua.Populasi masyarakat Muslim di Poso juga ditambah dengan kedatangan migran Bugis, Makassar dan Gorontalo yang merupakan penganut Islam. Mereka menyebar di kecamatan-kecamatan pesisir yang juga merupakan kecamatan yang didominasi umat Islam. Sebaliknya, migran penganut Kristen asal Minahasa dan Toraja cenderung memilih kecamatan-kecamatan di dataran tinggi yang mayoritas penduduknya beragama Kristen.Pada 1970-an, jumlah pemeluk Kristen separuh dari jumlah pemeluk agama lainnya. Pemeluk Islam bertambah seiring dengan banyaknya masuk migran Gorontalo, Bugis dan Makassar. Kini pemeluk Islam dan Kristen hampir setara.Ketua Kaukus Daerah Konflik dan Daerah Bekas Konflik, M Ichsan Loulembah, mengatakan solusi bagi adanya konflik berlatarbelakang sentimen agama itu bisa diselesaikan dengan pemekaran wilayah Poso (setelah Morowali dan Tojo Unauna) menjadi Kabupaten Pamona Raya.Syamsu Alam Agus, penggiat di KONTRAS menilai, kedamaian Poso terletak pada kesadaran para elit. Konflik terjadi jika para politisi membawa-bawa sentimen agama dalam aksi-aksi politik mereka. TerorismeMinggu (29/10/2006), Wakil Presiden Yusuf Kalla bertemu dengan sejumlah tokoh Islam dan Kristen di Gubernuran Siranindi, Palu, Sulawesi Tengah. Banyak hal yang dibicarakan. Ada beberapa hal penting bisa menjadi catatan. Sebelumnya, pernyataan Kalla agar Polisi menangkap teroris di Poso memantik kecaman. Sebab lagi-lagi Kalla melihat kelompok tertentu di Poso terlibat dalam aksi kekerasan itu. Soalnya Kalla pernah menuduh Ustadz Adnan Arsal, pimpinan Pondok Pesantren Amanah Poso mengetahui siapa pelaku mutilasi tiga siswi SMU Kristen GKST Poso pada 29 November 2005. Tentu saja Adnan berang dituding seperti itu. Makanya ketika Kalla mengeluarkan statemen seperti itu, mata semua orang pun menohok Adnan yang jauh-jauh hari sudah mengeluarkan bantahan dirinya terlibat dalam aksi-aksi kekerasan itu. Sebab menurutnya pesantrennya hanya mengajarkan kurikulum yang berbasis pada kurikulum pendidikan agama dari Departemen Agama Republik Indonesia.


Hasrul

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget